Andikawati Fitriasari, SKep, Ns, MKep – Dosen S1 Keperawatan Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

SEJALAN dengan perkembangan teknologi  dan komunikasi, melahirkan produk yang terus diperbaharui, salah satunya yaitu smartphone.

Kecanggihan yang ditawarkan oleh smartphone dan kemudahan mengakses internet mendorong setiap kalangan untuk menggunakannya dalam memenuhi kebutuhan berkomunikasi, mencari informasi serta hiburan.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Baik tua, muda, pria, wanita saat ini sangat bergantung dengan smartphone setiap harinya. Seiring berjalannya waktu, banyak fitur dan aplikasi pada smartphone semakin menarik dan membuat penggunanya ingin terus menggunakannya.

Di balik kebermanfaatan yang begitu besar, smartphone menyimpan dampak negatif yang dapat membuat seseorang mengalami ketergantungan atau disebut dengan smartphone addiction.

Smartphone Addiction (SPA) adalah penggunaan smartphone yang kompulsif, dimana seseorang menggunakan smartphone secara berlebihan dan menyebabkan gangguan fungsi sosial, fisik dan kognitif yang signifikan.

Adiksi smartphone merupakan perilaku adiksi, hilangnya kontrol diri karena terobsesi yang berlebih dengan penggunaan smartphone. Kehilangan atau terpisah dengan smartphone menyebabkan ketakutan atau kecemasan (yang dikenal sebagai nomophobia), depresi, gemetar, keringat, takikardia, tekanan darah meningkat, perasaan kesepian dan hingga serangan panik. Gejala tersebut akan berhenti ketika seseorang kembali menggengam smartphone.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi ketergantungan pada smartphone salah satu diantaranya yaitu faktor situasional. Faktor situasional yang dapat menyebabkan ketergantungan yaitu ketika seseorang tidak nyaman secara psikologis, salah satunya saat merasa kesepian dan depresi. Kesepian adalah perasaan kurang memiliki hubungan sosial yang diakibatkan oleh ketidakpuasan seseorang dengan hubungan sosial yang ada.

Kesepian juga berarti suatu keadaan  mental dan emosional yang dicirikan oleh adanya perasaan-perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain. Kesepian merupakan reaksi terhadap perbedaan antara tingkat hubungan social yang diinginkan dipengaruhi oleh proses kognitif seseorang terutama atribusi, yang memiliki pengaruh pada pengalaman kesepian seseorang.

Remaja menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-temannya, namun saat remaja mengalami social isolation  atau kesepian maka ciri-ciri individu kecanduan pada smartphone (seperti ketidakmampuan untuk mengontrol keinginan, perasaan cemas, kehilangan) dapat muncul/terlihat dan mereka akan beralih pada ponselnya serta menghabiskan waktu dengan ponselnya untuk membantu meringakan isolasi dan kesepian tersebut.

Orang-orang yang kesepian adalah mereka yang merasa kekurangan teman-teman dan persahabatan disekelilingnya (kekurangan fungsi social). Sedangkan fungsi social merupakan salah satu fungsi utama dari internet, dimana hal itu akan membawa ke perilaku kecanduan internet. Semakin tinggi rasa kesepian seseorang, semakin tinggi tingkat kecanduannya.

Seseorang yang kesepian cenderung untuk berbicara lebih sedikit, mereka menghabiskan sedikit waktu untuk melakukan aktivitas sosial dan lebih banyak waktu sendirian. Karena kesepian, seseorang enggan berkomunikasi secara tatap muka, mereka cenderung berinteraksi dengan orang lain melalui smartphone.

Kontrol diri yang rendah mengakibatkan seseorang tidak mampu mengendalikan perilakunya ketika memakai smartphone. Kontrol diri merupakan variabel yang terpenting untuk menghindari penggunaan smartphone yang berlebihan. Seseorang yang memiliki kontrol diri yang tinggi, mereka akan mampu mengendalikan perilakunya dalam menggunakan smartphone.

Kemampuan control diri sebagai bentuk perilaku yang diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan kecanduan smartphone. Kontrol diri difokuskan pada penguatan diri secara positif, memanipulasi kondisi emosi, memonitor diri sehingga mampu mengontrol kecanduan smartphone.

Mengontrol emosi berarti mendekati suatu situasi dengan menggunakan sikap yang rasional untuk merespon situasi tersebut dan mencegah reaksi yang berlebihan. Self discipline adanya control diri dimana individu mampu (disiplin dalam melakukan tugas, memfokuskan dalam tugas yang dikerjakan, mampu menahan hal-hal yang mengganggu konsentrasi. Yaitu menekankan pada aspek kemaslahatan dan kebermanfaatannya dalam menggunakan smartphone. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry