Andreas Putro Ragil Santoso – Dosen Fakultas Kesehatan (FKes)

Kecacingan merupakan suatu kejadian infeksi yang disebabkan oleh parasit golongan cacing. Infeksi kecacingan terjadi pada anak – anak.

Berdasarkan data World Helath Organization (WHO) tahun 2015 mencatat bahwa terdapat 270 anak pra sekolah dan 600 juta anak usia sekolah yang tingal di lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik, hal ini menjadi salah satu faktor penyebaran kecacingan semakin tinggi.

Pada 2016 di Indonesia keajadian kecacingan terjadi sekitar 28,12 % dan hal itu mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar, berdasarkan data bank dunia kerugian ekonomi indonesia akibat kecacingan mencapai Rp 30 miliar hingga 33 milliar per tahun.

Pada 2014 angka kejadian kecacingan sudah mulai berkurang menjadi 24 %. Angka kecacingan terjadi akibat rendahnya kesadaran masyarakat akan penyakit cacingan.

Gejala yang tidak terdeteksi dan kejadian yang sering diabaikan mengakibatkan angka kejadian kecacingan sulit diturunkan.

Kecacingan disebabkan beberapa jenis cacing golongan filum nematoda, cestoda dan trematoda. Nematoda merupakan salah satu jenis filum terbesar dan penyebab angka kecacingan tertinggi.

Golongan nematoda memiliki ciri-ciri : Besar dan panjang beragam (1 ml – 1 m), mempunyai kepala ekor, ronggo badan dan alat-alat lengkap, cacing dewasa tidak bertambah banyak di badan manusia, mampu mengeluarkan telur 20 – 200.000/ hari.

Cacing infektif dapat masuk kedalam tubuh manusia dengan beberapa cara diantaranya masuk secara aktif, tertelan dan melalui vektor (perantara).

Nematoda memiliki beberapa family yang disebut Soil Tranmited Helmin (STH), yang mana STH merupakan cacing yang menyebar melalui tanah yaitu golongan Cacing gelang Ascaris lumbricoides, Cacing cambuk Tricuris tricura, Cacing tambang Ancylostoma duodenale, Necator Americanus dan Strongyloides stercoralis.

STH menjadi penyebab kecacingan tinggi di Indonesia dikarenakan Indonesia merupakan wilayah tropis. STH menginfeksi melalui kontak dengan telur maupun larva dari parasit yang berkembangbiak di tanah.

STH penyebab kecacingan tertinggi dibandingkan dengan infeksi cacing yang lain yaitu sekitar 75% dan menginfeksi anak-anak usia 5 – 9 tahun hingga dewasa yang diakibatkan dari bermain tanah yang mengandung telur, kontaminasi pada makanan serta sayuran mentah yang dikonsumsi dengan kondisi kurang bersih.

Di mana infeksi terjadi setelah telur atau larva tertelan yaitu pada 4 – 16 hari dan menjadi dewasa sekitar 6 – 8 minggu.

Infeksi pada anak yang terinfeksi akan mengalami gangguan dalam penyerapan nutrisi dan tumbuh kembang. Malabsorbsi dari nutrisi mengakibatkan kekurangan berbagai jenis nutrien termasuk vitamin A dan vitamin C.

Cacing yang menyerap darah menimbulkan defisiensi besi dan protein. Cacing tambang mengakibatkan perdarahan pada usus yang kronik sehingga dapat menyebabkan anemia. Gejala lain infeksi kecacingan diantaranya mual, muntah, diare, batuk, napas sesak, dada tidak nyaman, demam perut tidak enak dan penurunan berat badan serta penyumbatan usus sehingga perut terasa nyeri.

Apabila gejala – gejala tersebut muncul maka sebaiknya disegerakan untuk konsultasi kepada dokter. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendeteksi adanya telur atau larva melalui feses. Pemeriksaan feses dilakukan untuk mendiagnosa penyakit penyebab kejadian kecacingan. Selain itu ditambahkan melalui pemeriksaan darah untuk mendeteksi peningkatan jumlah leukosit dengan ditandai peningkatan jumlah eosinofil.

Upaya pencegahan akibat infeksi kecacingan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu perbaikan higiene sanitasi perorangan dan lingkungan, meningkatkan pendidikan tentang higiene kesehatan, mengatur pembuangan tinja, anjuran mengunakan alas kaki pada daerah endemis serta pengobatan penderita serta sumber infeksi.

Pada daerah endemis WHO merekomendasikan terapi periodik (deworming) tanpa diagnosis individu yaitu abendazole 400 mg dosis tunggal, dengan catatan jika prevalensi infeksi STH pada wilayah endemi > 20% maka minum 1 kali sehari sedangkan jika > 50% makan minum 2 kali sehari. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.