GARUT | duta.co – Kebun Edukasi Eptilu (F 3/Fresh From Farm) yang ada di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjadi percontohan pertanian modern khususnya hortikultura.

Di tempat itu, produk pertanian seperti cabai dan tomat dihasilkan dengan kualitas dan kuantitas yang sangat baik. Salah satunya karena sistem pertanian yang menggunakan teknologi tepat guna dan irigasi yang sangat baik.

Owner Eptilu, Rizal Fahreza mengatakan Eptilu sebagai tempat edukasi pertanian sebenarnya melakukan dua model pertanian. Ada yang dilakukan secara alami dan dengan teknologi.

“Supaya orang yang datang ke sini (Eptilu,red) bisa membandingkan. Pertanian yang biasa atau alami hasilnya seperti apa, pertumbuhannya seperti apa. Dan kalau yang menggunakan teknologi hasilnya seperti apa dan pertumbuhannya seperti apa,” jelasnya pada media Jawa Timur yang datang ke Eptilu, Jumat (13/2/2026).

Di lahan yang cukup luas itu, Rizal mencontohkan tanaman cabai rawit yang dia tanam. Cabai rawit yang ditanam alami, memilih usia tanam hanya delapan bulan. Empat bulan di masa penanaman dan empat bulan di masa produksi. Dengan menanam secara alami, daun kecil cenderung keriting dan menguning.

Sedangkan yang menggunakan teknologi, usia bisa mencapai 2-3 tahun, batang pohon sangat tinggi hingga lebih 1,5 meter. Daun lebar dan hijau segar. Bahkan buah cabai sangat besar dan panjang.

Dijelaskan Rizal, teknologi yang digunakan untuk menanam cabai rawit ini dia peroleh dari Amerika Serikat. Dia menerapkan sistem dengan green house dan air untuk menyiram menggunakan aplikasi yang bisa dikendalikan dari ponsel.

Teknik ini dia buat di lahan Eptilu. Dengan bantuan dari Bank Indonesia (BI), green house yang bisa memuat 4 ribu pohon itu dibangun. Bantuan sejak 2022 itu sudah menghasilkan cabai yang berkualitas dan melimpah.

Green house itu sudah dua kali tanam. Di tanam pertama bisa bertahan selama tiga tahun. Dan setelah masa tiga bulan dari tanam perdana, sudah bisa dipanen. “Setiap minggu bisa panen dan sekali panen di atas satu ton,” katanya.

Buah cabai rawit dengan menggunakan teknologi jauh lebih berkualitas dibandingkan yang ditanam secara alami. DUTA/ist

Hasil cabai dan tomat serta produk pertanian lainnya itu, kata Rizal untuk memenuhi konsumsi masyarakat sekitar. Namun karena melimpah, atas bantuan Bank Indonesia pula, Eptilu bisa melakukan kerjasama antar daerah sehingga bisa menyuplai hingga ke beberapa kota di luar provinsi Jawa Barat seperti DKI Jakarta dan Banten.

“Kami juga mengolah hasil panen agar bisa memiliki nilai tambah menjadi berbagai macam produk olahan,” tukasnya.

Eptilu memang berkomitmen melakukan penguatan ekosistem pertanian dari hulu ke hilir.

Sejak 2029 Eptilu berdiri. Dari hanya mengelola 5 hektar lahan, menjadi 18 hektar, 23 hektar hingga kini 75 hektar lahan yang dikelolanya. lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry