Tampak Gus Yahya (Ketum PBNU) yang dimakzulkan Rais Aam PBNU.

JAKARTA | duta.co — Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) itu, memang, keren! Isunya kelewat seksi. Pada era Prof KH Said Siraj ada gagasan ‘NU menjadi Ashabul qoror’ (kekuatan pengambil kebijakan).Pernyataan itu langsung ditanggapi KH Choirul Anam yang akrab dipanggil Cak Anam. Menurut Cak Anam ini sangat berbahaya, kalau yang nyetir NU tidak paham tentang NU. Yang benar NU itu Ashabul Haq (pemegang kebenaran), sedangkan Ashabul Qoror (kebijakan) itu, wilayah Ulil Amri.

Apa yang disampaikan Cak Anam saat itu, sangat relevan dengan kondisi sekarang. Peran NU sebagai kekuatan sipil, yang memberi koreksi terhadap pemerintah sebagai ashabul qaror agar tetap berada pada kebenaran, sejalan dengan konstitusi dasar negara, menjadi lemah, lunglai. Hilang rasanya semangat ashabul haq (NU) sekarang. Ini juga relevan dengan hadits nabi, ada empat pilar tegaknya masyarakat ulama (ashabul haq), penguasa (ashabul qoror), pengusaha (ashabul jizyah) dan rakyat (ashabud do’a).

Dari situ, maka peran PBNU sangat penting menjadi pilar -pilar kokoh sehingga terwujud kemaslahatan ‘ammah. Namun tidaklah gampang menjadi pilar sebagai ashabul haq dan hanya mampu dijalankan dengan kaffah oleh ulama yang Yakhsyallah (takut kepada Allah

Sungguh mengejutkan saat sesepuh NU, KH Ma’ruf Amin mengatakan bahwa apa yang diputuskan oleh jajaran Syuriah PBNU adalah “subhat”. Sebuah produk yang harus dijauhi. Subhat (syubhat) adalah perkara yang hukumnya tidak jelas atau samar antara halal dan haram, sehingga menimbulkan keraguan, baik karena ketidakjelasan dalil, interpretasi yang berbeda, atau kurangnya informasi, Islam menganjurkan untuk meninggalkannya demi menjaga agama dan kehormatan diri.

Menurut KH Ma’ruf, maka wajar terjadi kegaduhan, karena NU itu teguh dengan kebenaran kesepakatan (AD/ART),  maka kiai sepuh memberi solusi ke jalan Islah agar PBNU tetap sebagai ashabul haq khawatir menjadi ashabul subhat.

Tapi harapan kiai sepuh itu menjadi hampa, diabaikan, sama sekali tidak dianggap. Justru tetap berjalan (ma hawa)  dalam ke-subhatan dan menolak Islah. Dari sini muncul pertanyaan, apakah ini pertanda jajaran Rais Syuriah PBNU sudah menanggalkan mandatnya sebagai “Ashabul haq” dan berubah menjadi Ashabul Subhat? jika demikian menyedikan bukan !!!

Mukhlas Syarkun

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry