JAKARTA | duta.co —  Tidak lama setelah calon presiden petahana Jokowi menyatakan tidak ada kebakaran hutan di masa pemerintahannya—yang kemudian diralat–justru api semakin mengamuk di hutan wilayah Sumatera.  Curah hujan di bawah normal yang  terjadi di wilayah pesisir timur Sumatera sejak awal Februari 2019 disebut sebagai penyebabnya. 
Soal kebakaran hutan mencuat ketika Debat Capres Jokowi menyatakan tidak ada kebakaran hutan di masa pemerintahannya. Jokowi kemudian meralat, bukan tidak ada hutan yang terbakar tapi sekarang menurun.W WakilKetua DPR RI, Fadli Zon kemudian menyinggung Calon Presiden Petahana nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) terkait kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi di Riau. Hal itu disampaikannya melalui akun Twitternya, @fadlizon, Rabu (20/2/2019).
Mulanya Fadli Zon tampak menautkan berita soal kebakaran ribuan hektar lahan gambut di Riau yang masih belum bisa teratasi. Terkait hal itu, kemudian dirinya menyinggung nama Jokowi soal data kebakaran hutan.
Sejumlah pihak juga menilai Jokowi “ngawur” saat mengungkap data kebakaran hutan sebab dia juga pernah melihat langsung kebakaran hutan yang fotonya tersebar luas di media massa.
“Bahkan saat itu Jokowi disebut-sebut pencitraan sebab seakan meninjau lokasi kebakaran hutan sendiri. Saya yakin Jokowi ingat itu, tapi tetap saja dia bilang tak ada kebakaran hutan karena punya maksud pilitik pilpres,” kata Abdul Shamad warga Rokan Hilir Riau Kamis kemarin
Seperti dikutip dari kompas.com Jumat 22 Februari 2019, dalam dua pekan terakhir, jumlah titik api di Riau mencapai 80 titik dibandingkan 24 titik pada pekan sebelumnya. Ini berarti meningkat sekitar tiga kali lipat.
Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal, di Jakarta, Kamis (21/2/2019), mengatakan, daerah dekat garis khatulistiwa punya karakter musim berbeda dengan wilayah lain di Indonesia.
Daerah-daerah tersebut meliputi sebagian besar pesisir barat Sumatera, Sumatera bagian tengah, Kalimantan barat dan tengah, Sulawesi bagian tengah dan sebagian tenggara, dan sebagian Papua bagian utara. Wilayah ini memiliki dua kali puncak hujan dan kemarau dalam setahun.
Daerah-daerah yang dikenal memiliki tipe hujan ekuatorial ini mulai memasuki musim kemarau pertama sejak Februari dan berlangsung hingga April. Sementara musim kemarau kedua berlangsung mulai Juni hingga Agustus.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemerintah Provinsi Riau Edwar Sanger mengatakan, sebagian besar kebakaran terjadi di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis. Kebakaran terjadi di lahan gambut yang merupakan belukar dan sebagian bekas kebun sawit yang tidak diurus.
Sebagian besar petugas gabungan yang terdiri dari BPBD Riau, BPBD kabupaten/kota di Riau, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Polri, TNI, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dikerahkan ke Pulau Rupat.
Kebakaran di Rupat pun masih terus meluas. Pada Rabu, kebakaran di Rupat masih 627 hektar. “Pada Kamis sore, luas lahan yang terbakar di Rupat telah mencapai 639 hektar. Kebakaran meluas sekitar 12 hektar,” katanya.
Edwar menambahkan, kebakaran lahan di Riau telah terjadi sejak Januari dan kini meliputi tujuh dari 12 kabupaten/kota yang ada di Riau. Kebakaran paling luas terjadi di Bengkalis dengan luas 639 hektar, Rokan Hilir 117 hektar, Kota Dumai 46,5 hektar, Meranti 20,2 hektar, Kota Pekan Baru 16,01 hektar, Kampar 14 hektar, dan Siak 5 hektar.
“Pada Kamis sore, hasil pantauan Satelit Terra dan Aqua Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, memantau 39 titik api di Riau dengan tingkat kepercayaan 50 persen,” kata Edwar.
Namun upaya pemadaman kebakaran lahan dilakukan dengan bom air dari udara dan penyiraman dengan mesin pompa dari darat. Untuk pemadaman dari udara, dikerahkan satu unit helikopter KLHK dan dua unit bantuan dari perusahaan Sinarmas.
Upaya pemadaman dari darat pun terkendala karena lokasi kebakaran tidak bisa diakses kendaraan roda empat atau lebih. Petugas mengangkut mesin pompa, selang air, dan peralatan lainnya menggunakan sepeda motor trail sejauh kurang lebih lima kilometer dengan melewati lahan gambut. Petugas menggunakan air yang ada di sekitar lokasi kebakaran. Angin kencang pun membuat pemadaman semakin sulit.
Pencemaran udara
Edwar mengatakan, indeks standar pencemaran udara di seluruh wilayah Riau masih masuk kategori baik. Asap dari kebakaran lahan sebagian besar berembus ke arah laut. Jarak penglihatan masuk kategori baik yakni 8-10 kilometer.
Meski demikian, Pemprov Riau mengantisipasi dampak dari kebakaran lahan. Dinas Kesehatan Riau telah membagikan lebih dari 14.000 masker secara gratis kepada masyarat yang melintas di jalan.
Menurut Camat Rupat Hanafi, kabut asap di wilayahnya belum mengganggu aktivitas warga. Aktivitas perekonomian berjalan seperti biasa. Anak-anak pun bersekolah tanpa gangguan. Warga pun berkendara dengan baik karena jarak penglihatan masih baik. Namun, sejumlah warga menggunakan masker untuk mengantisipasi dampak dari asap.
Kelembaban troposfer
Menurut Herizal, kekeringan di pesisir timur Sumatera disebabkan rendahnya kelembaban troposfer bagian tengah. Selain karena itu dipicu selama dasarian kedua Februari 2019, terjadi aliran Madden Julian Oscilation (MJO) fase kering.  “Proses konvektif dan pembentukan awan hujan jadi terhambat,” ujarnya.
Stasiun Klimatologi Tambang, Riau melaporkan curah hujan bawah normal di wilayah pesisir timur telah berlangsung sejak awal Februari 2019. Kondisi kering itu diikuti oleh kemunculan titik panas yang memicu kejadian kebakaran hutan dan lahan yang akhirnya menimbulkan asap dan penurunan kualitas udara.
Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto mengatakan, kemarau pertama dan kekeringan berdampak pada peningkatan jumlah titik api pada dua pekan terakhir ini di berapa wilayah sebagaimana terpantau oleh Satelit Terra/Aqua (LAPAN/BMKG). Terpantau di Riau terdapat 80 titik api dari 24 titik pada pekan sebelumnya. Sedangkan di Kalimantan Timur sebanyak 7 titik api.
Berdasarkan pantauan alat kualitas udara milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), mutu udara di Riau menurun. Indeks Standar Pencemaran Udara berdasar konsentrasi particulate matter (PM10) tertinggi di Kabupaten Rokan Hilir sebesar 139, masuk dalam kategori tidak sehat pada Senin (12/2) pukul 09.00 WIB.
Sementara jarak pandang mendatar maksimum dalam kisaran 2 – 5 km. “Selain memperentan potensi kebakaran hutan dan lahan, fenomena ini juga bisa berdampak kepada sektor pertanian,” ujarnya. (kcm/wis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.