Oleh: Dr Sama’ Iradat Tito SSi MSi*

PERINGATAN dini bencana alam dapat diperoleh secara alami dari perilaku hewan sebelum terjadinya bencana. Hewan dapat digunakan secara potensial sebagai sistem peringatan dini berteknologi rendah yang membutuhkan biaya lebih murah daripada sistem peringatan dini berteknologi tinggi. Kemampuan mendengar dan indera akustik yang dimiliki hewan, memungkinkan hewan-hewan dapat mendengar atau merasakan getaran bumi dan pergi menuju tempat yang aman sebelum bencana datang. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya jumlah hewan yang tewas pada saat terjadi tsunami di Aceh tahun 2004.

Kiyoshi Shimamura, seorang dokter kesehatan di Jepang menyampaikan hasil studinya berkaitan dengan perilaku aneh dari anjing seperti menggigit dan menggonggong yang melampaui batas, dapat digunakan sebagai alat untuk meramalkan terjadinya gempa bumi. Penelitian tersebut dikaitkan dengan gempa bumi di Kobe pada tahun 1995 yang menewaskan sekitar 6.000 orang. Peneliti dari Turki, Sheldrake juga melakukan studi tentang tingkah laku hewan sebelum terjadinya gempa di California tahun 1994 dan gempa Turki tahun 1999. Menurut Sheldrake, hasil penelitianya menunjukkan bahwa anjing berperilaku aneh dan tidak dapat tidur di tengah malam, burung-burung di kandang terlihat gelisah, dan kucing-kucing terlihat takut dan selalu ingin bersembunyi sebelum terjadinya gempa bumi tersebut.

Sistem peringatan dini sudah tersedia di alam sebagai salah satu mekanisme homeostasis alam. Keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia merupakan salah satu komponen sistem peringatan dini alami yang belum banyak dieksplorasi, salah satunya adalah keanekaragaman satwa. Selama ini potensi satwa liar dan tingkah lakunya sebagai peringatan dini bencana alam (animal early warning system), masih banyak dikaji dalam taraf penelitian dan belum banyak diaplikasikan secara langsung. Negara maju seperti Jepang dan China telah memanfaatkan perilaku hewan sebagai indikator akan datangnya gempa bumi. Perubahan tingkah laku hewan yang terjadi sebelum bencana alam datang, dapat dijadikan sebagai bioindikator akan datangnya bencana alam. Hewan memiliki tingkah laku yang terlihat saling berkaitan secara individual maupun kolektif. Berbagai macam tingkah laku hewan merupakan cara bagi hewan tersebut untuk berinteraksi secara dinamik dengan lingkungannya. Kepekaan dan naluri hewan terhadap respon akan timbulnya bahaya yang tidak dimiliki oleh manusia, dapat dimanfaatkan sebagai peringatan dini bencana alam, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan sebelum bencana terjadi.

Hewan memiliki panca indera yang sangat sensitif terhadap suara, suhu sentuhan, getaran, aktivitas elektrostatis dan kimia serta medan magnet dan listrik. Hal ini menjadikan hewan dapat merasakan dan mengetahui lebih awal adanya getaran yang ditimbulkan oleh gempa maupun letusan gunung berapi. Gempa menimbulkan fluktuasi getaran pada tanah dan air, sedangkan badai (tornado) menyebabkan perubahan elektromagnetik di atmosfer. Sebagai contoh, riset-riset dibidang komunikasi akustik dan seismik menunjukkan bahwa Gajah memiliki perangkat seismograf yang digunakan ketika sebelum terjadi tsunami di India dan Srilanka pada tahun 2004 silam sehingga bermigrasi jauh meninggalkan pantai.

Berdasarkan fakta, teori dan riset yang berkaitan dengan perilaku aneh hewan sebelum terjadinya bencana alam, maka kepekaan hewan yang diekspresikan sebagai perilaku aneh dapat dimanfaatkan sebagai sistem peringatan awal bencana alam baik gempa bumi, letusan gunung berapi maupun tsunami. Dalam menerapkan perilaku hewan sebagai indikator awal terjadinya bencana alam, perlu didukung dengan infrastruktur dan sistem komunikasi yang terintegrasi dan memadai. Sistem komunikasi diperlukan untuk menyebarkan informasi mengenai tanda-tanda awal akan adanya bencana alam dan instruksi-instruksi lainnya, baik melalui televisi, radio, internet ataupun penyampaian informasi dari mulut ke mulut. Selain hal tersebut, pendidikan tentang bahaya dan tanda-tanda datangnya bencana alam, hasil penginderaan jauh dan SIG serta sosialisasi prosedur atau teknik evakuasi kepada masyarakat umum, merupakan faktor yang sangat penting dan diperlukan dalam melakukan mitigasi.

Pada prinsipnya mitigasi adalah usaha-usaha baik bersifat persiapan fisik maupun non-fisik dalam menghadapi bencana alam. Persiapan fisik dapat berupa penataan ruang kawasan bencana dan kode bangunan. Sedangkan persiapan non-fisik dapat berupa pendidikan tentang bencana alam, yaitu mengenali gejala-gejala bencana alam; reaksi pra bencana dan pasca bencana. Resiko bencana alam yang menimpa kelompok masyarakat, tergantung pada berat ringannya bencana yang terjadi serta persiapan atau ketahanan masyarakat itu sendiri dalam menghadapi bencana. Menurut Yuichi Morita, pakar gempa dan tsunami dari Universitas Tokyo, banyaknya jumlah korban dan luasnya wilayah yang terkena dampak tsunami disebabkan tidak adanya sistem peringatan dini yang terintegrasi dalam memberikan informasi mengenai datangnya bencana tersebut.

Bencana dalam paradigma lama merupakan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba dan terpisah dari kehidupan normal manusia. Pada umumnya bencana masih dianggap sebagai peristiwa tiba-tiba yang tidak bisa diprediksi dan menimbulkan banyak persoalan, mengakibatkan kerusakan fisik bahkan korban jiwa. Akan tetapi dalam paradigma baru, bencana dipandang sebagai sesuatu yang merupakan bagian dari kehidupan normal manusia dan tidak terjadi dengan tiba-tiba. Hal tersebut berarti besar kecilnya dampak yang diakibatkan oleh bencana alam lebih ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor manusia dalam merespon bencana tersebut. Respon tersebut dapat berupa pengelolaan bencana (disaster management), yaitu tindakan yang bersifat antisipatif dan pencegahan dalam menghadapi persoalan-persoalan bencana sebagai upaya mereduksi dampak yang muncul.
Pembangunan pusat-pusat peringatan bencana alam di setiap daerah rawan bencana, tidak semuanya dapat dilakukan. Hal ini dikarenakan wilayah Indonesia berupa kepulauan dimana masih banyak kawasan yang tidak dapat dijangkau. Salah satu solusi alternatif yang dapat dilakukan dalam menyelenggarakan mitigasi bencana alam di Indonesia adalah dengan memanfaatkan perilaku hewan sebagai peringatan dini bencana alam yang dipadukan dengan teknologi seperti penginderaan jauh dan SIG (Sistem Informasi Geografis) agar tindakan mitigasi lebih baik.

Dynamic capability dibutuhkan dalam adaptasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi. Dynamic capability meliputi sensing (merasakan, mengidentifikasi dan menilai masalah serta peluang ke depan), seizing (memobilisasi sumber daya yang mempunyai nilai yang dapat dikembangkan), dan transforming (melanjutkan dengan hal yang baru atau perbaikan yang baru). Salah satu penentu keberhasilan dalam pengelolaan dimasa depan yang berkelanjutan, perlunya adanya rethinking (pemikian kembali), reviewing (pemantauan kembali), evaluating (evaluasi), dan revising thought (memperbaiki pemikiran) sebagai salah satu tujuan pemikiran kritis. Masalah saat ini pada umumnya tidak dapat lagi dihadapi dengan pendekatan sebidang ilmu namun gabungan dari berbagai macam ilmu sehingga akan didapatkan solusi praktis di lapangan. Semakin zaman berkembang, maka akan dihadapi masalah yang lebih kompleks. Multi Player effect dibutuhkan untuk mencapai kesempurnaan dalam pencapaian jalan keluar.

*Penulis adalah Kepala Pusdi K2L FMIPA Unisma Malang dan Anggota Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry