SURABAYA | duta.co – Banyak calon Jemaah Haji asal Kota Surabaya yang belum melunasi biaya perjalanan Ibadah Haji (bipih). dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) menyebutkan jumlahnya mencapai Enam Ratus orang.

Dikonfrimasi di kantor Pusat Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), selasa, (10/5/2023), sampai akhir pelunasan masih banyak yang belum lunas tahun-tahun sebelumnya. Hal seperti ini tidak terjadi karena memang orang sudah menunggu lama antrean puluhan tahun lebih dari 10 tahun.

Maka, saat pelunasan, para Jemaah berbondong-bondong melunasi. Yang menjadi pertanyaan, apa yang menyebabkan sampai dengan tanggal akhir pelunasan masih banyak Jamaah yang belum melunasi biaya hajinya?

Muhammad Molik Latif, Sekretaris FK-KBIHU Jatim, mengatakan, hal itu diperkirakan ada beberapa faktor penyebab, salah satunya ada kenaikan biaya yang signifikan. Jika tahun lalu 39 juta, tahun ini nilainya 56 juta lebih.

“Itu juga berpengaruh karena ternyata setelah kami lanjut cek, Jemaah yang tidak melunasi alasannya diantaranya yang pertama biaya perjalanan Ibadah Haji-nya (bipih), yang kedua, faktor belum cukup dana. Kalau yang ketiga mungkin juga faktor Lansia yang memiliki porsi tahun ini dan berhak melunasi, namun karena regulasinya, tahun ini tidak ada porsi,” jelas Muhammad.

Masih kata Muhammad, ada juga persoalan pendampingan bagi Lansia, tahun lalu bisa mendampingi orang tuanya, sedangkan tahun ini tidak ada lagi kebijakan tersebut.

“Sehingga Lansia yang sudah siap finansialnya ini tidak melunasi, karena mungkin dia khawatir berangkat sendiri tidak ada yang mendampingi, tidak ada yang menemani, tidak ada yang melayani dia secara pribadi, gitu,” bebernya.

Pria berkacamata ini juga mengungkapkan faktor lain yang memungkinkan Jemaah tidak melunasi atau tidak terpenuhi kuota, yakni karena tidak ada regulasi dan tidak memungkinkan adanya posisi penggabungan makhrom suami istri yang terpisah tidak bisa bergabung untuk daftar tahun ini.

“Jadi yang kami dengar informasi ini valid. Porsi yang lama, kuota yang lama, itu belum terpenuhi karena secara nasional baru kurang lebih 80% yang melunasi, dan setahu saya, sampai dengan tanggal 5 Mei itu Surabaya baru 76%. Jadi, ada 24% yang belum melunasi kurang lebih 600-an orang. Itu cukup besar, ya, dengan jumlah Jemaah 3.000 lebih di Surabaya,” lanjut Muhammad.

Jika tidak ambil action cepat, lanjutnya, maka bisa saja sampai dengan akhir pelunasan sampai tanggal 12 Mei kuota ini tetap tidak terpenuhi meskipun diberikan kepada cadangan. “Karena kalau diberikan kepada cadangan porsi yang ada di bawahnya, belum tentu mereka siap secara finansial, belum tentu lengkap persyaratan yang dibutuhkan mereka bisa kejar,” jelanya lagi.

Muhammad juga menambahkan, pembuatan paspor biometrik Mandiri yang saat ini juga tidak gampang karena tidak secara otomatis. “Saat perekaman biometrik itu bisa mudah gitu kan ada yang sampai Baru 3 hari 4 hari bisa selesai, karena itu kami (KBIH) di Surabaya di seluruh Jawa Timur umunya mengusulkan kepada pihak pengambil kebijakan, khususnya Bapak Dirjen Haji Republik Kementerian Agama (Menag) Republik Indonesia, agar dikembalikan kepada tahun-tahun sebelumnya,” usulnya.

Muhammad memaparkan, tahun lalu, regulasinya yang pertama yakni sisa porsi yang belum terlunasi diprioritaskan kepada jemaag yang tidak bisa melunasi karena gagal sistem. Artinya, Jemaah diberi kesempatan ulang untuk melunasi lagi. Kedua, diberikan kesempatan kepada para pendamping Lansia agar Lansia yang sudah siap ilmunya sudah siap bisa juga segera melunasi dengan jaminan ada pendamping. Ketiga, penggabungan makhrom dan yang terakhir ini juga dalam rangka mensukseskan komitmen Kementerian Agama haji tahun ini.

“Kami berharap pembimbing haji yang punya porsi reguler yang saat ini masih terblokir tidak bisa melunasi itu blokirnya dibuka, karena amanat undang-undang nomor 8 tahun 2019 itu pembimbing Haji (KBIH) khususnya yang punya sertifikat pembimbing itu bisa melakukan pelunasan tiap tahun tidak ada batasan 10 tahun baru bisa berangkat lagi seperti Jemaah haji reguler itu dikecualikan untuk pembimbing (KBIH). Dan itu kami mohon dengan sangat agar pembimbing juga bisa membantu Kementerian Agama (Menag) memberikan layanan terbaik kepada jamaah khususnya kepada para lansia blokir pembimbing yang punya porsi ini lebih baik Kalau segera dibuka sehingga mereka juga bisa melunasi,” tutupnya. (Gal)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry