Oleh: Abdur Rahman El Syarif

“Selamat Hari Kartini, 21 April 2026”

NAMA Raden Ajeng Kartini selama lebih dari satu abad telah ditempatkan dalam satu bingkai besar: emansipasi perempuan. Ia diajarkan di sekolah sebagai simbol kebangkitan perempuan pribumi, dikenang melalui seremoni tahunan setiap Hari Kartini, dan diabadikan dalam narasi nasional sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.

Namun, tulisan Gus H. Hisyam Zamroni menawarkan sesuatu yang lebih tajam: Kartini sebagai “jurnalis dunia” yang tersembunyi. Pandangan ini bukan sekadar reinterpretasi, melainkan sebuah koreksi penting terhadap cara kita membaca sejarah intelektual Indonesia.

Argumen ini patut didukung, bahkan diperluas. Sebab, jika kita menelusuri jejak intelektual Kartini secara lebih jernih, tampak bahwa ia bukan hanya seorang tokoh sosial, melainkan produsen wacana global yang bekerja melalui pena, alat paling sunyi, tetapi paling mengguncang dalam sejarah.

Pertama, penting ditegaskan bahwa praktik menulis Kartini telah memenuhi esensi jurnalisme modern. Ia tidak sekadar menulis curahan hati personal, melainkan melakukan observasi sosial yang tajam terhadap realitas zamannya. Ketika ia berbicara tentang kungkungan adat, keterbatasan pendidikan, dan ambivalensi keagamaan, Kartini sedang menyusun laporan sosial dari dalam sistem kolonial itu sendiri. Perspektifnya unik: bukan suara penjajah, bukan pula suara elite politik, tetapi suara seorang perempuan pribumi terdidik yang hidup di persimpangan tradisi dan modernitas.

Lebih jauh, distribusi gagasannya tidak berhenti pada lingkaran privat. Surat-suratnya menembus ruang publik Eropa melalui media seperti De Hollandsche Lelie. Di sinilah letak signifikansi global Kartini: ia tidak hanya menulis untuk dirinya sendiri atau bangsanya, tetapi untuk audiens lintas benua. Dalam konteks ini, ia dapat disejajarkan dengan tradisi jurnalisme opini transnasional, sebuah praktik yang bahkan hari ini masih dianggap prestisius.

Namun, yang membuat Kartini lebih dari sekadar “penulis internasional” adalah daya intervensinya terhadap diskursus kolonial. Ia tidak menulis dalam ruang hampa. Tulisan-tulisannya hadir pada saat Belanda sedang mengalami krisis moral kolonial, terutama setelah publikasi Max Havelaar karya Multatuli yang mengguncang opini publik Eropa. Dalam arus kritik tersebut, Kartini hadir sebagai “suara dari dalam”, sebuah otoritas moral yang tidak dimiliki oleh penulis Eropa mana pun.

Di titik ini, argumen bahwa Kartini berkontribusi terhadap lahirnya Politik Etis menjadi masuk akal. Ia mungkin bukan perumus kebijakan, tetapi ia adalah bagian dari ekosistem intelektual yang membentuknya. Politik Etis sendiri lahir dari tekanan moral dan intelektual yang kompleks, dan Kartini adalah salah satu sumber legitimasi etik tersebut. Ketika ia menulis tentang pentingnya pendidikan dan martabat manusia, ia sebenarnya sedang menyuplai bahasa moral bagi kebijakan kolonial yang “lebih manusiawi”.

Namun demikian, dukungan terhadap tesis “Kartini sebagai jurnalis dunia” juga harus disertai sikap kritis. Kita tidak boleh terjebak dalam glorifikasi baru yang justru mengabaikan kompleksitas sejarah. Misalnya, benar bahwa surat-surat Kartini diedit oleh J.H. Abendanon. Proses editorial ini bukan sekadar teknis, melainkan politis. Ada seleksi, penyaringan, bahkan mungkin “penjinakan” gagasan. Artinya, Kartini yang kita kenal hari ini adalah hasil konstruksi, bukan suara yang sepenuhnya utuh.

Di sinilah pentingnya pendekatan historiografi modern seperti yang dilakukan oleh Joost Coté. Ia menunjukkan bahwa Kartini memiliki sisi yang lebih radikal: kritik terhadap agama, feodalisme, dan kolonialisme yang lebih tajam dari versi populer. Fakta ini justru memperkuat tesis Zamroni. Seorang jurnalis sejati tidak hanya melaporkan, tetapi juga menggugat. Dan Kartini melakukan itu, bahkan dengan risiko sosial yang besar pada zamannya.

Lebih jauh lagi, kita perlu melihat bahwa invisibilitas Kartini sebagai “jurnalis” bukanlah kebetulan. Ia adalah hasil dari bias struktural: gender, kolonialisme, dan konstruksi historiografi nasional. Dalam masyarakat kolonial, perempuan pribumi tidak dianggap sebagai subjek intelektual yang otonom. Dalam narasi nasional pascakemerdekaan, Kartini “disederhanakan” agar mudah diajarkan: ia dijadikan simbol emansipasi, tetapi dimiskinkan dari kompleksitas intelektualnya.

Akibatnya, kita kehilangan satu hal penting: Kartini sebagai aktor dalam sejarah komunikasi global. Padahal, jika kita menggunakan perspektif kontemporer, jaringan korespondensi Kartini adalah bentuk awal dari “public sphere” transnasional. Ia membangun opini, mempengaruhi pembaca, dan berpartisipasi dalam debat global, fungsi yang identik dengan jurnalisme modern.

Dalam konteks Hari Kartini hari ini, reinterpretasi ini menjadi sangat relevan. Dunia telah berubah: media sosial menggantikan surat, algoritma menggantikan redaksi, dan opini publik bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Namun, esensi jurnalisme tetap sama: keberanian untuk melihat, menulis, dan mempengaruhi. Kartini telah melakukan itu lebih dari seabad yang lalu, tanpa teknologi, tanpa kebebasan penuh, dan tanpa pengakuan formal.

Karena itu, menyebut Kartini sebagai “jurnalis dunia” bukanlah sekadar label baru, melainkan upaya mengembalikan dimensi intelektualnya yang selama ini tereduksi. Ia adalah bukti bahwa pena dapat melampaui batas geografis, sosial, bahkan politik. Ia menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari kekuasaan formal, tetapi sering kali dari keberanian untuk bersuara.

Pada akhirnya, dukungan terhadap tesis ini bukan hanya soal sejarah, tetapi juga soal masa depan. Dengan membaca Kartini sebagai jurnalis, kita sedang mengajukan standar baru bagi generasi hari ini: bahwa menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan tanggung jawab sosial. Bahwa opini bukan sekadar ekspresi, melainkan intervensi. Dan bahwa suara, betapapun sunyinya, dapat mengubah arah sejarah.

Kartini telah membuktikannya. Kini, pertanyaannya bukan lagi siapa Kartini, tetapi: apakah kita berani melanjutkan tradisi intelektualnya?

#HariKartini2026
#KartiniModern
#PahlawanNasional

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry