Oleh Bey Arifin*

SETIAP 21 April, bangsa Indonesia kembali merayakan Hari Kartini. Sekolah-sekolah ramai dengan lomba busana daerah, panggung budaya, dan pidato tentang emansipasi. Nama Raden Ajeng Kartini kembali menggema sebagai simbol kebangkitan perempuan Indonesia.

Namun di tengah gegap gempita itu, ada satu pertanyaan penting yang layak diajukan: apakah sejarah perjuangan perempuan Indonesia cukup diwakili oleh satu nama?

Tentu tidak.

Kartini memang tokoh besar. Ia adalah perempuan Jawa pada masa kolonial yang berani berpikir melampaui zamannya. Melalui surat-suratnya, Kartini menggugat ketidakadilan terhadap perempuan: soal pendidikan, keterkungkungan tradisi, dan keterbatasan ruang hidup perempuan pribumi.

Dalam konteks abad ke-19, keberanian intelektual Kartini adalah sebuah terobosan besar. Ia menyalakan kesadaran baru bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap rumah tangga, tetapi manusia utuh yang berhak belajar, berpikir, dan menentukan masa depan.

Karena itulah, negara menjadikan hari kelahiran Kartini sebagai hari peringatan nasional. Pilihan tanggal lahir bukanlah tanpa makna.

Dalam tradisi bangsa-bangsa modern, hari lahir tokoh besar kerap diperingati sebagai simbol lahirnya gagasan, harapan, dan inspirasi. Hari lahir menjadi penanda datangnya cahaya baru dalam sejarah.

Dalam konteks ini, peringatan Hari Kartini sering dipahami serupa secara simbolik dengan Maulid Nabi Muhammad atau perayaan Natal Nabi Isa: bukan untuk menyamakan derajat tokohnya, tetapi sebagai bentuk penghormatan atas hadirnya sosok yang membawa perubahan besar bagi umat manusia.

Namun, justru di sinilah kita perlu jernih membedakan antara simbol penghormatan dan maqam sejarah.

Di sisi lain, dalam tradisi Islam pesantren, banyak ulama justru dikenang pada hari wafatnya, atau yang dikenal sebagai haul. Mengapa? Karena dalam perspektif tasawuf dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, wafat seorang alim bukan sekadar akhir hidup, tetapi momentum puncak perjalanan ruhani menuju Allah.

Hari wafat dipandang sebagai saat perjumpaan hamba dengan Tuhannya, sekaligus momentum untuk merawat sanad ilmu, adab, dan warisan perjuangan.

Karena itu, para ulama besar seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, atau para masyayikh pesantren lebih kuat hidup dalam memori umat melalui haul: bukan karena kematiannya, tetapi karena keberlanjutan ilmu dan teladannya.

Sementara Kartini dikenang pada hari lahirnya karena semangat yang diwariskan lebih berupa kesadaran sosial, gagasan kemajuan, dan inspirasi perubahan.

Namun, ada hal lain yang juga perlu jujur kita akui: Kartini bukan satu-satunya pelopor perempuan Nusantara.

Di Jawa Barat, ada Dewi Sartika yang mendirikan Sakola Istri, membuka akses pendidikan nyata bagi perempuan pribumi. Ia bukan hanya pemikir, tetapi juga pelaku perubahan yang membangun lembaga pendidikan secara konkret.

Di Sumatera Barat, ada Rohana Kudus, jurnalis perempuan pertama Indonesia, pelopor literasi, dan penggerak kesadaran perempuan lewat dunia pers. Rohana membuka ruang agar perempuan tidak hanya dididik, tetapi juga mampu bersuara.

Ketiganya adalah mata rantai penting kebangkitan perempuan Indonesia. Kartini menyalakan gagasan, Dewi Sartika membangun sistem pendidikan, Rohana Kudus membuka ruang ekspresi dan literasi.

Mereka bukan untuk dipertentangkan, tetapi ditempatkan secara proporsional dalam mozaik sejarah bangsa.

Sayangnya, bangsa ini kadang terlalu mudah membangun simbol, tetapi lambat mewujudkan substansi.

Kita merayakan Kartini, tetapi angka putus sekolah perempuan di daerah terpencil masih tinggi. Kita memuji emansipasi, tetapi kekerasan terhadap perempuan masih marak. Kita mengenang tokoh, tetapi sering lalai meneruskan cita-citanya.

Padahal, esensi peringatan bukanlah seremonial, melainkan kesediaan melanjutkan perjuangan.

Sudah saatnya Hari Kartini tidak berhenti pada kebaya dan lomba pidato. Sudah saatnya Dewi Sartika dan Rohana Kudus hadir setara dalam narasi pendidikan nasional.

Dan sudah saatnya bangsa ini jujur bahwa kemajuan perempuan bukan hasil satu tokoh, tetapi buah dari banyak cahaya yang menyala dari berbagai penjuru Nusantara.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya pandai memperingati, tetapi bangsa yang tahu cara meneladani.

*Bey Arifin adalah Pengurus IKAPETE Jombang.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry