PENGHARGAAN-Mahasiswa Bisnis Administrasi LP3i Banyuwangi, Roudhoutul Fridays C usai menerima penghargaan untuk kategori Best Local Heritage Product Business Plan dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang berlangsung di Hotel Mercure Surabaya, Rabu (14/12/2016). Roudhoutul berhasil mengolah kulit buah naga untuk di jadikan teh alami yang telah telah dipatenkan dengan nama Magentea. DUTA/WIWIEK WULANDARI

SURABAYA – Banyuwangi dikenal sebagai penghasil buah naga yang sangat melimpah. Namun, masyarakat hanya memanfaatkan buahnya sementara kulitnya hanya akan menjadi sampah. Sampah yang akan mengotori lingkungan itu akhirnya dibuat menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Adalah Roudhotul Firdaus Cholisah, mahasiswi sebuah Lembaga Pendidikan di Banyuwangi mengolah limbah kulit buah naga menjadi teh. Hasil inovasinya ini mengantarkannya menjadi pemenang Hipmi Best Local Heritage Product Business Plan. Roudhotul membawa pulang hadiah Rp 5 juta dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) dan diserahkan di Surabaya, Rabu (14/12).

Gadis kelahiran Banyuwangi, 5 Juli 1997 ini awalnya hanya iseng mengirimkan propisal pada Hipmi untuk lomba inovasi ini. Bahkan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Abdul Makik dan Amrin Khoiriyah ini baru mengirimkannya pada 6 Desember 2016. “Karena idenya baru muncul,” ujarnya.

Ide itu muncul karena Roudhotul melihat begitu banyaknya sampah kulit buah naga di sekitar rumahnya. Kukit yang berserakan itu mengundang lalat dan bau yang tidak sedap. “Dari sana berpikir untuk memanfaatkannya menjadi sesuatu yang berguna,” tukasnya.

Untuk awal, Roudhotul membeli satu kilogram buah naga merah seharga Rp 9 ribu. Kulitnya dia ambil, diiris tipis kemudian dijemur. “Dijemur menunggu matahari bersinar. Karena sekarang musim hujan jadi lama menjemurnya. Nanti kalau diproduksi masal bisa menggunakan pengering agar lebih cepat,” tuturnya.

Sebelumnya, diakui Roudhotul, dia sempat browsing di internet, apa kandungan positif yang ada pada kulit buah naga. Ternyata memiliki khasiat untuk menghindari penyakit jantung, melancarkan peredaran darah dan banyak khasiat lainnya.

Di dalam proposalnya, Roudhotul berencana akan memproduksi enak kali teh ini dalam sebulan. Sekali produksi bisa menghasilkan 80 bungkus berisi 50 gram teh dengan harga Rp 3.500 per bungkus. “Kalau dikalkulasi sebulan bisa menghasilkan Rp 4 juta per bulan,” tandasnya. (end)

 

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan