MENGABDI : Dokter spesialis bedah, dr Wiwin di ruang operasi di dek paling bawah kapal pinisi Ksatria Airlangga saat bersandar di Pelabuhan Kalimas Surabaya, Minggu (11/3). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co  – Rumah Sakit Terapung  Kapal Ksatria Airlangga membutuhkan dukungan banyak pihak. Terutama perusahaan-perusahaan yang memiliki dana bina lingkungan atau CSR (Corporate Social Responsibility) untuk membantu dana.

Tujuannya agar rumah sakit terapung ini bisa terus berlanjut demi membantu masyarakat di daerah kepulauan di Indonesia Timur.

Sejak dilaunching November 2017 lalu Ksatria Airlangga sudah membantu masyarakat di dua kepulauan di Jawa Timur yakni Bawean dan Kangean. Di dua pulau itu, kehadiran Ksatria Airlangga sangat dinanti masyarakat. Apalagi, di kapal itu, pasien dari banyak keluhan penyakit bisa langsung ditangani bahkan langsung dilakukan tindakan operasi.

Di Pulau Bawean, ada 500 pasien yang mendatangani rumah sakit terapung milik Ikatan Alumni (IKA) Unair ini. Dari 500 pasien ini, ada 59 pasien bedah, 43 pasien mata dengan 43 dokter.

Sementara di Kangean Sumenep, ada 1.050 pasien, dengan 61 pasien bedah, 4 pasien untuk operasi melahirkan, dan 137 pasien mata atau katarak. Dan yang ketiga, adalah baksos di Pelabuhan Kalimas 3 Surabaya yang diikuti 400 pasien selama dua hari.

Anggota Yayasan Satria Medika Airlangga, dr. Gadis Meinar Sari mengatakan, selama melakukan perjalanan sosial ini, Ksatria Airlangga membutuhkan banyak dana. Terutama untuk obat-obatan, alat operasi dan sejenisnya.

“Dari tiga kali melakukan kegiatan ini, biayanya antara Rp 300 juta hingga Rp 500 juta. Itu belum untuk biaya operasional kapal misalnya untuk kru kapal sebanyak 6 orang yang harus kita gaji tiap bulan dan sebagainya,” ujar dr Gadis.

Karena itu, Yayasan Ksatria Medika Airlangga ini mengajak semua pihak terutama perusahaan untuk menyalurkan dana CSR nya demi kelangsungan operasional rumah sakit terapung ini. “PLN Pusat sudah pasti akan mendukung program kita hingga dua tahun ke depan. Tapi kami ingin ini bisa berjalan terus sehingga banyak masyarakat yang terbantu,” tandasnya.

Wakil Rektor Universitas Airlangga, JunaidI Khotib  mengapresiasi para alumni yang langkah para alumni untuk melakukan aksi sosial dengan rumah sakit terapung ini. “Simbol Unair di masyarakat itu ya para alumni. Karenanya Unair pun mengapresiasi langkah para alumni ini,” tandasnya.

Dalam waktu dekat, rumah sakit terapung ini akan mengarungi kepulauan Sapeken dan Sapudi untuk melakukan aksi sosial. Biasanya sebelum berlayar ke satu pulau, tim akan melakukan survey apa saja yang dibutuhkan di daerah tersebut. Dan tim dokter dan perawat yang ada di kapal itu biasanya akan melakukan aksi sosialnya selama seminggu. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.