Ketua Komite Khitthah Nahdlatul Ulama 1926 (KKNU-26), Prof Dr Rochmat Wahab (nomor dua dari kanan) dalam sebuah acara. (FT/MKY)

SURABAYA | duta.co – Ketua Komite Khitthah Nahdlatul Ulama 1926 (KKNU-26), Prof Dr Rochmat Wahab, menilai, sangat keliru kalau NU diiming-iming dengan uang. Sebaliknya, justru ini yang membuat langkah-langkah oknum NU menjadi blunder.

Bukan saldo yang menumpuk sampai Rp 1,8 triliun yang menjadi ukuran. Pun bukan janji dari seseorang yang akan membiayai NU ke depan. Melainkan bagaimana organisasi ini mampu membuat warganya mandiri, memiliki kontribusi dalam berbangsa dan bernegara, termasuk dalam menciptakan perdamaian dunia.

“Tepat tema Muktamar ke-34 NU kali ini. Menuju Satu Abad NU: Membangun Kemandirian Warga untuk Perdamaian Dunia. Tema ini baru memiliki makna, kalau yang memegang PBNU ke depan adalah sosok yang tepat. Kredibel, akseptabel, memiliki  integritas, konsistensi, teguh, tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur organisasi. Menjaga kuat khittah-26 NU yang telah menjadi keputusan para masyayikh,” demikian Prof Rochmat kepada duta.co, Rabu (15/12/21).

Menurut Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY masa bakti 2011-2016 ini, memasuki abad ke-2, adalah momentum baik bagi NU untuk melakukan refleksi, apalagi dengan tema meneguhkan kemandirian.

“Kemandirian ini jangan hanya slogan melainkan sebagai tekad. Muktamar harus menjadikan momentum terbaik untuk menunjukkan kemandirian, baik institusi maupun personalianya, utamanya pimpinannya. Jangan slogannya mandiri, faktanya sibuk cari untung,” jelasnya.

Kemandirian, jelas Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode 2009-2017 tersebut, harus merefleksikan kematangan dan kedewasaan. Bebas dari ketergantungan pada pihak atau orang lain.

“Pastikan NU bangkit, tumbuh, berkembang, dan maju tidak bergantung pada pihak lain. Mampu dengan kekuatan sendiri. Dengan kemandirian, NU dapat menjamin kebebasan dalam bersikap, berkiprah dan bertindak dalam memajukan ummat dan bangsa,” terangnya.

Harus Mandiri

Masih terkait kemandirian, Prof Rochmat juga mencermati perkembangan terbaru. “Semangat mandiri ini, maknanya, jangan sampai memberikan ruang masuknya para oligarki, baik ekonomi mau pun politik dalam proses penentuan program dan suksesi kepemimpinan,” urainya.

Diakui, bahwa, di tengah percaturan tim sukses untuk calon pemilihan PBNU, ada pihak yang bersedia dan sanggup memberi dukungan kepada sosok potensial dengan alasan dapat menyelamatkan NU ke depan. Termasuk dukungan dana, membiayai NU.

“Di satu sisi, terpuji. Karena membuat NU tidak bergantung pada oligarki atau pendukung lain yang bisa merusak perjalanan NU ke depan. Namun di sisi lain, juga kurang prospektif, jika NU sebagai organisasi besar bertumpu pada dukungan seorang saja, Apalagi untuk semua kepentingan NU secara keseluruhan. Akan lebih baik jika NU mendapat dukungan semua ummat nahdliyin di mana pun berada, baik berupa materiil maupun non material, termasuk dukungan keahlian dan asset lainnya. Dengan begitu NU dapat terbebas dari ketergantungan pada pihak tertentu. Baru NU memiliki kemandirian sejati, bisa bersikap arif dalam setiap menghadapi persoalan ummat, masyarakat dan bangsa,” jelasnya.

Kiai Said Pamer Duit

Entah, apa yang membuat Kiai Said Aqil Siradj (Kiai SAS) tiba-tiba mengungkapkan pencapaian saldo selama menjabat ketua Umum PBNU dua periode.  Beredar di medsos nahdliyin, sebagaimana warta pedomantangerang.com dari akun YouTube TVNU, Kiai SAS menyebut selama 10 tahun mengemban amanah Ketua Umum PBNU, baru kali ini keuangan NU bisa diaudit oleh orang luar dan sekaligus mendapatkan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian).

“Alhamdulillah selama 10 tahun pertama, baru kali sejak NU berdiri, keuangan bisa di audit orang luar, auditor eksternal. Selama ini belum pernah dan mendapatkan WTP sudah dua kali diaudit, alhamdulillah. Begitu pula Lazisnu, waktu saya baru masuk ada uang 500 Juta Lazisnu itu, sekarang sudah 1,8 triliun dan silakan cek,” demikian Kiai SAS.

Lebih lanjut Kiai SAS menyebutkan, bahwa, saat ini PBNU sudah memiliki sejumlah perguruan tinggi yang telah tersebar di berbagai wilayah. Setelah sebelumnya, PBNU belum sama sekali memiliki perguruan tinggi.”Perguruan tinggi alhamdulillah sampai hari ini ada 43 yang di bawah badan hukum Nahdlatul Ulama. Tapi kalau sekarang, ketika zamannya Menterinya Pak Nuh 24 perguruan tinggi, Pak Nashir sampai 38, Pak Nadiem 43,” ujarnya.

Beres? Alih-alih mendapat apresiasi, ‘pamer duit’ Kang SAS ini justru menjadi bandul balik. Setidaknya terkait dengan Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Jombang. “Berapa saldo Muktamar ke-33 Jombang Kiai? Untuk apa saja duit Rp 4,9 miliar yang konon bantuan APBD atau Jamkesmas DPRD Jatim?,” demikian komentar nahdliyin.

Begitu juga soal mencuatnya kabar adanya orang kaya raya yang sanggup mendanai NU, nahdliyin mengaku tidak tergiur. “Kaya bukan ukuran seseorang menjadi wirai. Banyak orang kaya, tetapi serakah,” tulisnya. Waallahu’alam. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry