“Kampus tengah melakukan hasiba-yahsabu-hisab (menghitung), yang kemudian muhasabah yang bermakna melakukan evaluasi diri.”
Oleh  Suparto Wijoyo*

SEJATINYA bukan mendadak tobat, atau sadar diri, hadir diri sambil menepikan batinnya. Ruhani kaum terpelajar lagi bertransformasi. Kampus-kampus di berbagai belahan daerah Indonesia hari-hari ini tampak semarak Ramadhannya. Kajian dihelat dengan jadwal yang padat. Apalagi kampus-kampus yang ada di Surabaya maupun daerah-daerah yang sangat jauh dari perkotaan. Semuanya ramai dengan gelaran mengaji. Kehadirannya diposting atau dikirim melalu group WA yang sangat tematik. Kini kita semuanya nyaris penuh kiriman pekabaran agenda beramadhan. Group WA dari tingkat pendidikan dasar (termasuk TK) sampai pendidikan tinggi sampai kelas doktor. Betapa padatnya lalu lintas percakapan atas nama menyambung persaudaraan dari TK sampai program doktor, belum lagi group-group WA keluarga. Tentu sangat seabrek-abrek.

Diskusi-diskusi dari yang sangat ringan sampai yang berbobot. Ditambah lagi kajian-kajian di kampus yang memiliki basis pesantren ataupun lembaga pendidikan keagamaan. Suasananya sangat riuh “munas intelektual” yang mengalahkan ramainya suasana pasar pagi ataupun pasar malam dengan transaksi perdangan yang konvensional. Celoteh pedagang menggambarkan kegembiraan atas keuntungan finansial yang diharapkan. Semnetara itu lontaran ide dan gagasan peserta ngaji sangat membuncahkan standar keilmuan yang gemilang. Saya sangat menikmati diskusi-diskusi ngaji sorogan di masjid-masjid, langgar-langgar kampung dan mushollah-mushollah padukuhan yang ada di desa-desa. Ngaji rutinan habis shalat ashar menjelma menjadi kumpulan komunitas keilmuan setelah dari pagi sampai siang mereka bergulat pekerjaan mengelola tambak, sawah ladang. Apalagi yang kini di beberapa wilayah Lamongan sedang kebanjiran.

Ngaji ba’da ashar adalah hiburan sekaligus tanda jeda dari terpaan banjir yang sudah berlangsung nyaris tiga bulan, jadi bukan tiga hari, dua bulan lebih. Sahabat-sahabat saya tetap masih bisa tersenyum dan menikmati keadaan banjir yang menenggelamkan lahan tambaknya, halaman rumahnya, dan jalanan kampungnya. Puasa Ramadhan menambah energi kesabaran sehingga mereka tidak sampai demontrasi menuntut turunnya punggawa pemerintahan daerah yang dianggap tidak cakap dalam melakukan tata kelola perairan di wilayah yang setiap tahun mengalami banjir. Masyarakat menyadarai bahkan menyampaikan dengan nada menyindir, biarlah banjir ini bagian dari tradisi yang kami semuanya mesti atas kehendak-Nya. Disyukuri mawon. Begitulah rasa rendah hati dan nriman atas kahanan yang menimpa.

Orang-orang desa ternyata punya ruang ilmu sendiri dengan menjadikan masjid sebagai madrasah tertinggi belajar tentang kitab-kitan kuning yang diajarkan di pesantren-pesantren. Karena santri-santri yang sepekan awal Ramadhan ini pulang dari pondoknya ada yang menunjukkan kemampuan baca huruf arab pegon di depan warga desanya. Sangat membanggakan, dan inilah sejatinya anak-anak masa depan Indonesia yang merawat lehidupan sosial kemasyarakatannya. Mereka asyik mengajari warga tentang fiqih dan urusan seputaran puasa Ramadhan. Nuansanya tidak kalah dengan atmosfir kampus yang banyak diisi dengan diskusi kelas. Lingkar ilmu ini menjalar di masjid-masjid kampus. Menakjubkan.

Alhamdulillah terdapat kebangunan tradisi baru di kampus-kampus negeri dengan aktivitas mengaji yang ada di masjid-masjidnya. Mahasiswa laksana santri yang lagi keranjingan baca kita-kitab yang lazim dikupas di pesnatren. Kini hadir mahasiswa yang mlungsungi menjadi maha santri. Kitab-kitab karya Imam Ghazali, Imam Syafi’i, Imam Malik, Ibnu Arabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyah dan lain-lain sudah menjadi sego jangan. Referensi-referensi pesantren hadir memperkaya dunia kampus. Pada titik tematik sejatinya kampus telah ketinggalan dari pesantren. Tradisi citasi asalnya bermula dari sanat keilmuan yang telah mendarah daging di pesentran. Sanat keilmuan itu penting dan merupakan wahana akuntabiltas ilmu yang dipelajari.

Lihatlah kini jadwal di masjid-masjid kampus. Seolah ini sebagai episode kampus bermuhasabah. Ya kampus tengah melakukan hasiba-yahsabu-hisab (menghitung), yang kemudian muhasabah yang bermakna melakukan evaluasi diri. Akademisi ingin mengaji. Kalau di Universitas Airlangga sendiri di Masjidnya ataupun di ruang-ruang akademiknya telah berlangsung penuh antusias mengaji bersama ulama-ulama besar. Nuansa ini telah menjadi altar dialog yang semakin berkembang di Universitas Airlangga. Unair bersholawat telah lumrah dan agenda keagamaan selalu memancarkan esensi akademik yang tinggi. Kampus ini memang menempuh jalan akademik yang bertumpu pada nilai-nilai supremasi yang sangat transendental. Jadi jalur capaian kinerja dengan peringkat yang mengagumkan saat ini, di samping ada ikhtiar yang sangat administratif dalam memenuhi target yang telah diperjanjikan, tetapi juga capaian itu diyakini sangat teologis, sangat transenden, yakni dicapai juga dengan lelehan doa dan panjatan permohoanan tiada henti oleh civitas akademikanya.

Bahkan perjalanan Ramadhan ini tampak energik dengan perkuliahan-perkuliahan yang terselenggara. Proses belajar mengajar selama Ramsdhan ini tetap saya amati sebagai bagian paling murni dari pelaksanaan tadarus akademik. Mengais ilmu dan menebarkan pengatahuan dalam bulan yang sangat mulia. Tentu dampaknya akan sangat besar berupa pahala dari ijtihat yang dikembangkan. Diskusi-diksui ini tidak bebas nilai melainkan syarat nilai yang berarti secara transendetal akan memanen pahala. Maka semakin rajin kuliah di bulan suci Ramadhan ini akan semakin tidak berjarak antara ruang kelas dan pintu surga, sebab para pecinta ilmu memang selalu ditinggikan derajatnya. Yakinlah ketentuan QS Al-Mujadalah [58] ayat 11 yang memperjanjikan: yarfa‘illâhulladzîna âmanû mingkum walladzîna ûtul-‘ilma darajât, wallâhu bimâ ta‘malûna khabîr. Saya memegang teguhn ini: “Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

*Suparto Wijoyo adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.