
Oleh Achmad Murtafi Haris (dosen UIN Sunan Ampel Surabaya)
BARU baru ini Kementerian Hukum mengadakan seminar nasional di Bandung berjudul “Dari Riset Jadi Aset” dengan mengundang para jawara kampus sebagai narasumber: Rocky Gerung dan Stella Christie wakil menteri pendidikan tinggi, sains dan teknologi (kemendiktisaintek). Rocky seperti biasa menyampaikan pentingnya kebebasan intelektual sebagai syarat tumbuh kembang dan tingginya capaian akademis masyarakat kampus. Tanpa adanya iklim akademis yang sarat dengan pertentangan keilmuan mustahil gagasan-gagasan brilian muncul dari akademisi kampus Indonesia. Dialektika yang tajam yang terjadi di kalangan founding fathers telah terbukti melahirkan gagasan-gagasan yang menjadi fondasi kuat berdirinya negara Indonesia. Kebebasan berpendapat yang dimotori oleh Soekarno alumni ITB (dahulu Technische Hoogeschool te Bandoeng) 1926, menggugah para tokoh intelektual untuk bangkit dan merdeka dari kungkungan Belanda. Intellectual liberation ini, yang telah menuai hasilnya di awal berdirinya negeri ini mengalami masa fakum di era Orde Baru (1966-1998) dengan dalih stabilitas politik. Bagi Soeharto kebebasan berpendapat telah menciptakan situasi yang tidak kondusif dan hanya menghasilkan pertentangan ideologis dan instabilitas politik yang dipicu oleh banyaknya kabar-kabar burung yang menyerang dan memojokkan antar lawan politik. Di kantor pemerintahan tingkat bawah (kelurahan) pun terdapat tulisan: “jangan percaya dengan kabar burung yang tidak benar yang beredar di masyarakat”. Kelompok kiri (sosialis-nasionalis [komunis bubar] ) yang rajin menyerang pemerintah dianggap menunggangi kebebasan itu untuk menyebar hasutan dan permusuhan antar konstituen. Kelompok kanan (Islam) yang masih belum bisa menerima sepenuhnya ideologi Pancasila menjadi momok yang harus dihabisi. Soeharto kemudian mengambil kebijakan untuk membatasi panasnya perseteruan yang dipicu oleh pertentangan ideologi. Soeharto memilih untuk mengendalikan konflik ideologi dengan menghentikan kebebasan mimbar hingga ke akar kampus dan mengajak semua warga bangsa untuk fokus membangun materi atau ekonomi. Muncullah NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) pada 1978 pasca peristiwa Malari 1974 yang secara efektif menghentikan kebebasan mimbar kampus.
Dialektika yang mati ini yang alih-alih ingin berkonsentrasi pada pembangunan ekonomi justru malah menurunkan publikasi ilmiah di tingkat global dan menurunkan peringkat kampus Indonesia dibandingkan negara tetangga. Menarik di sini bahwa berhentinya dialektika politik dimanfaatkan sepenuhnya oleh negara tetangga terutama Singapura dan Malaysia untuk membangun diri sehingga mereka melesat meninggalkan kita. National University of Singapore (NUS) peringkat ke-8 dunia, Nanyang Technological University (NTU) ke-12, dan Universiti Malaya (UM) ke-58. Sedangkan kita sendiri sebagai sumber stabilitas regional justru tidak menuai apa-apa kecuali ketertinggalan. Kita yang bercocok tanam mereka yang panen. Mahasiswa era Orde Lama gemar filsafat dan politik global karena sepak terjang Soekarno yang menjadi bintang Asia-Afrika sementara zaman Orde Baru meski dengan ekonomi yang membaik dan banyak beasiswa luar negeri seperti Ford Foundation namun kualitas pengajaran menurun karena banyak diatur pemerintah.
Zaman Soekarno, intervensi terhadap kampus juga dilakukan oleh pemerintah lewat doktrin Manipol/USDEK namun doktrin itu mendorong mahasiswa untuk bersikap revolusioner dan agresif. Sementara intervensi Soeharto atas kampus lewat progran P4 melahirkan sikap tunduk dan patuh kepada kekuatan global atau Barat. Sikap melempem inilah yang membuat Indonesia tenggelam meski banyak juga yang memuji bahwa ekonomi Indonesia jauh lebih bagus dibandingkan era sebelumnya. Saking jauhnya Indonesia dari kontroversi global, hingga Indonesia terlupakan oleh dunia dan banyak warga dunia yang tidak lagi kenal nama Indonesia dibandingkan Bali. Negara dengan populasi terbesar kelima di dunia saat itu tidak dikenal warga dunia, sungguh ironi. Padahal pada awal berdirinya PBB Indonesia adalah singa yang disegani negara-negara besar barat dan Soekarno adalah artis politik global yang kunjungannya di Amerika dielu-elukan warga setempat. Saking besarnya Indonesia, sampai-sampai Indonesia berani menantang PBB pada 1965 dengan keluar dari keanggotaan yang sontak membuat negara tetap PBB kalang kabut.
Pembangunan karakter tampak berpengaruh signifikan terhadap kualitas akademik kampus berkaca dari kebijakan Orde Lama dan Orde Baru. Karakter revolusioner yang dibangun Manipol/USDEK mampu mengantarkan Indonesia pada persaingan meski perut keroncongan. Sementara P4 membuat Indonesia tenggelam meski perut kenyang. Di era reformasi kebebasan kampus kembali dibuka. Otonomi kampus diberlakukan agar mengembangkan diri sesuai keunggulan masing-masing. Namun tidak membuahkan naiknya rangking di tingkat global. Antar kampus satu dengan yang lain sibuk bersaing dan memburu akreditasi unggul hingga lupa idealisme ilmu yang sebenarnya. Pendidikan perguruan tinggi terjebak pada birokrasi dan template yang menyita energi lupa tugas utama membangun peradaban. Apa yang disampaikan wamen Stella Christie dalam seminar “Dari Riset Jadi Aset” amatlah bagus dan menggambarkan tuntutan global dalam membangun kampus. Tapi dikhawatirkan apa yang beliau canangkan dalam pelaksanaan kelak akan berujung sama, birokrasi akademik.
Aspek pembangunan karakter tampak urgen saat ini untuk menggerakkan lokomotif pendidikan tinggi. Semangat mengejar ketertinggalan perlu dicanangkan dan didengungkan dengan keras agar memacu kebersamaan menuju target terdepan. Indonesia perlu musuh besar untuk dikalahkan agar maju pesat. Seperti Iran yang pendidikan tingginya maju yang total sarjananya menduduki peringkat keempat dunia di bidang sciences, technology, engineering, mathematics (STEM) di bawah Cina, Rusia, dan Jerman karena memiliki semangat besar melawan hegemoni Amerika. (*)





































