Kampung Tape Desa Wonojoyo Peluang Lapangan Kerja Warganya

0
WONOJOYO : Tape kuning produksi warga Desa Wonojoyo terkenal sejak lama (Ahmad Mafruchi/duta.co)

KEDIRI|duta.co, Melihat pedagang tape berkeliling di sejumlah sudut jalan wilayah Kediri, mengendarai sepeda tua mengangkut ‘obrok’. Kita pasti menebak, pedagang sebagian besar telah berumur ini, berasal dari warga Desa Wonojoyo Kecamatan Gurah. Rupanya selain memiliki keahlian membuat tape serta minuman badek, mereka juga menanam sendiri ketela.

Kepala Desa Wonojoyo, Dwi May Susanto menjelaskan bahwa usaha tape ini telah turun temurun dan di setiap RT, dipastikan sedikitnya ada lima kepala keluarga dibantu istri dan anaknya membantu proses pembuatan. Tidaklah heran bila dini hari, setiap rumah terlihat lampunya menyala dan ada aktifitas di dalamnya

“Produksi tape ini sudah turun temurun dari nenek moyang. Bahkan sekarang banyak anak muda yang bisa membuat tape sendiri. Kemudian dijual keliling dan ke sejumlah pasar tradisional di wilayah Kediri dan sekitarnya. Mulai pukul 02.00 dini hari, mereka mulai keluar rumah membawa dagangan,” ucap Dwi, saat dikonfirmasi kemarin.

Kades Wonojoyo : Desa Wisata Kampung Tape

WONOJOYO : Tape kuning produksi warga Desa Wonojoyo terkenal sejak lama (Ahmad Mafruchi/duta.co)

Kades Wonojoyo ini pun berharap, akan menjadikan sebagai desa wisata, karena telah dikenal sebagai kampung tape. Masih menggunakan daun pisang untuk bungkus, menandakan masih menjaga tradisi. “Untuk harga tape menyesuaikan stok ketela. Kalau harga ketela naik, maka jumlah takaran tape yang dikurangi. Begitu juga sebaliknya, bila harga ketela turun,” ungkapnya.

Dalam satu hari, setiap pedagang mampu membuat 60kg tape dengan harga jual Rp. 3ribu untuk setiap kilonya. “Jadi warga kami tidak perlu bekerja di luar rumah, cukup membuat tape dalam sehari mampu menghasilkan keuntungan bersih hingga 50 ribu,” terang Kades Wonojoyo.

Omset Bertambah Berjualan Melalui Media Online

WONOJOYO : Tape kuning produksi warga Desa Wonojoyo terkenal sejak lama (Ahmad Mafruchi/duta.co)

Salah satu pedagang tape keliling, Sukiman telah berusia 70 tahun, mengaku telah berjualan tape sejak Tahun 1970. Tape buatannya selalu habis terjual karena untuk memenuhi kebutuhan warung dan rumah makan. “Kami sudah punya langganan tetap, jadi bila membuat lebih dari 60kg, bisa untuk melayani pembeli yang ketemu di jalan,” ujarnya.

Cukup dengan mengukus ketela telah dikuliti di atas tungku berbahan kayu bakar, dijelaskan Sukiman. Kemudian setelah masak, didinginkan kemudian diberi bahan ragi dimasukkan tempat terbuat dari bahan bambu anyaman yaitu tomblok.

“Kita bungkus daun pisang, kemudian ketela telah diberi ragi ini kita masukkan tomblok. Atasnya kita beri juga penutup, bisa plastik atau karung agar tidak terkena debu,” imbuhnya.

Seiring dukungan tekhnologi disampaikan Siti Fatimah, bahwa dirinya terbantu dengan sistem jualan online. Dirinya hanya khusus melayani pembeli melalui sistem pesanan. “Saya jualannya lewat media online. Dulu setor ke sejumlah pedagang di pasar. Dari sebelumnya 150 kuintal per-hari, kini mencapai 300 kuintal melayani pesanan,” ungkapnya. (rci/nng)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.