SURABAYA | duta.co – Bank Indonesia (BI) tak henti-hentinya mengkampanyekan untuk mencintai Rupiah.
Setelah kampanye 3D yakni Dilihat, Diraba dan Diterawang untuk mendeteksi uang palsu,  kini BI tak  kampanye 5 Jangan.
Yakni Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Distapler, Jangan Diremas, dan Jangan Dibasahi.
Uniknya kampanye 5 Jangan ini dilakukan BI dengan cara berbeda. BI bekerjasama dengan komunitas Ludruk Irama Sinar Budaya Nusantara dengan bintangnya Cak Kartolo.
Sebuah pertunjukan dengan lakon Semanggi Suroboyo episode Deloken Disek digelar di Gedung Balai Budaya, Surabaya Minggu (24/3).
Pertunjukan ludruk berdurasi 1,5 jam  ini mengangkat cerita tentang sebuah keluarga dengan sang bapak yang masih menyimpan uang dengan metode zaman dulu, yaitu disimpan di bantal dan bukan di bank.
Saat sang bapak membutuhkan uang tersebut untuk biaya pernikahan anaknya, baru diketahui bahwa uangnya itu sebagian telah habis masa edarnya, beberapa di antaranya rusak dan bahkan juga terdapat uang palsu.
Difi A. Johansyah, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur mengatakan uang Rupiah merupakan wujud kedaulatan Bangsa Indonesia.
Bank Indonesia mengajak masyarakat untuk menjaga kedaulatan Indonesia dengan mencintai dan menjaga Rupiah.
Dikatakan Difi, pagelaran ini selain menjadi sarana komunikasi kreatif untuk mengkomunikasikan kebijakan Bank Indonesia kepada masyarakat.
Juga merupakan wujud komitmen BI untuk mengangkat kembali seni budaya lokal.
“Harapannya, semakin banyak masyarakat yang mencintai dan mendukung ludruk sehingga mampu mendorong perekonomian Jawa Timur melalui sektor pariwisata,” tutur Difi. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.