Sesi live surgery menghadirkan Dr. dr. Dudy Arman Hanafy, dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular Indonesia. (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Penderita penyakit jantung makin muda. Tidak lagi didominasi usia 40 tahun ke atas, kini usia usia di bawah 30 tahun juga makin banyak yang terkena penyakit jantung. Karenanya perlu kenali tanda tanda awal kena penyakit jantung meski penyakit jantung tidak selalu datang dengan tanda yang mudah dikenali.

Rasa tidak nyaman di dada, sesak napas setelah beraktivitas, nyeri tumpul seperti terkena beban berat atau tubuh yang lebih cepat lelah terkadang dianggap sebagai efek pekerjaan atau kurang istirahat.

Padahal, keluhan yang muncul berulang perlu mendapat perhatian. Mengenali perubahan pada tubuh dan melakukan pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting untuk mengetahui apakah keluhan tersebut berkaitan dengan gangguan jantung atau justru disebabkan kondisi lain.

Pesan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian Surabaya Health Fest (SHF) 2026 yang digelar RS Kemenkes Surabaya. Mengusung tema Moving Together for a Healthier Future, kegiatan ini menjadi ruang edukasi kesehatan sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya deteksi dini berbagai penyakit.

Ketua Pelaksana Rangkaian Acara SHF 2026, dr. Acitta Raras Wimala, MARS, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional yang diselenggarakan RS Kemenkes Surabaya. Berbagai bidang kesehatan dibahas dalam rangkaian kegiatan tersebut. Mulai dari kanker, jantung, saraf, urologi hingga kesehatan ibu dan anak yang menjadi layanan prioritas RS Kemenkes Surabaya.

Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah seminar dan live surgery bertajuk “When The Right Heart Goes Wrong”. Kegiatan tersebut membahas penanganan penyakit jantung sekaligus pentingnya kolaborasi antarspesialis dalam menentukan terapi bagi pasien.

Jangan Abaikan Keluhan yang Berulang

Penyakit jantung kerap identik dengan kelompok usia lanjut. Namun, perhatian terhadap kesehatan jantung juga diperlukan oleh masyarakat usia produktif. Keluhan seperti rasa tidak nyaman atau nyeri di dada, sesak napas ketika beraktivitas, mudah lelah, maupun penurunan kemampuan beraktivitas tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit jantung. Namun, ketika keluhan tersebut muncul berulang, semakin berat, atau terjadi bersama gejala lain, pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebabnya.

Hal ini penting karena gejala setiap orang dapat berbeda. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk memastikan kondisi yang sebenarnya, bukan sekadar mengandalkan perkiraan berdasarkan gejala.

Risiko gangguan jantung juga dapat berkaitan dengan berbagai faktor. Pola hidup kurang aktif, kebiasaan merokok, pola makan yang tidak sehat, kurang tidur, stres, serta kondisi kesehatan tertentu dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Karena itu, menjaga kesehatan jantung bukan hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami keluhan.

Live Surgery Berikan Gambaran Penanganan Jantung

Peserta kegiatan juga memperoleh pembelajaran melalui sesi live surgery yang menghadirkan Dr. dr. Dudy Arman Hanafy, dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular Indonesia.

Sesi tersebut memberikan gambaran mengenai prosedur bedah jantung dan pembuluh darah sekaligus memperlihatkan bagaimana keputusan medis dilakukan melalui sejumlah pertimbangan.

Kondisi pasien, hasil pemeriksaan, tingkat risiko dan pilihan terapi menjadi bagian yang perlu diperhitungkan sebelum sebuah tindakan dilakukan.

Bagi tenaga kesehatan yang hadir dalam kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran untuk menangani kasus kompleks. Sehingga mereka bisa edukasi ke masyarakat bahwa jangan menunda pemeriksaan jantung kalau sudah ada tanda tanda dengan alasan takut operasi. Padahal tidak semua penyakit jantung harus operassi, dilihat dari kondisi keparahan masing-masing pasien.

Sementara bagi masyarakat, proses tersebut menunjukkan bahwa penanganan penyakit jantung membutuhkan diagnosis yang tepat dan keputusan medis yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Mengenal Heart Team dalam Penanganan Pasien

Pentingnya proses diagnosis dan penentuan terapi juga terlihat dalam kegiatan When The Right Heart Goes Wrong.

Ketua Pelaksana kegiatan, dr. Irma Maghfirah, Sp.J.P., F.I.K.Kv.(K), menjelaskan bahwa pasien dengan kondisi tertentu membutuhkan penanganan melalui kolaborasi sejumlah dokter dengan keahlian berbeda.

Menurutnya, dokter spesialis jantung dan dokter bedah jantung dapat bekerja sama dalam menentukan pilihan tindakan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Konsep tersebut dikenal sebagai heart team. Tim medis akan mendiskusikan kondisi pasien, hasil pemeriksaan, risiko, serta pilihan terapi sebelum menentukan penanganan yang diperlukan.

“Untuk menangani pasien dengan penyakit jantung dibutuhkan kolaborasi antara dokter jantung dan dokter bedah jantung. Karena itu, heart team conference penting untuk membahas tindakan terbaik bagi pasien,” ujarnya.

Deteksi Dini Dimulai dari Mengenali Tubuh

Surabaya Health Fest 2026 sekaligus mengingatkan bahwa menjaga kesehatan jantung bukan sekadar persoalan mengobati penyakit setelah muncul.

dr. Irma Maghfirah, Sp.J.P., F.I.K.Kv.(K), menambahkan masyarakat dapat mulai memperhatikan faktor risiko dan perubahan kondisi tubuh. Aktivitas fisik yang cukup, pola makan seimbang, tidak merokok, tidur yang cukup serta pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

“Yang tidak kalah penting adalah tidak mengabaikan keluhan yang muncul berulang. Jika seseorang mengalami nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, sesak, mudah lelah, atau keluhan lain yang mengkhawatirkan, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu memastikan penyebabnya.”

Menurutnya jika keluhan terasa berat, muncul mendadak, atau disertai kondisi seperti sulit bernapas, pingsan, atau nyeri dada yang menetap, pertolongan medis segera diperlukan.

“Melalui Surabaya Health Fest 2026, RS Kemenkes Surabaya juga menempatkan edukasi sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan tersebut akan ditutup melalui SHF Run 2026 pada 18 Oktober 2026.

Pesannya sederhana: mengenali penyakit jantung tidak harus menunggu seseorang memasuki usia lanjut. Perhatian terhadap kesehatan jantung dapat dimulai sejak usia muda, terutama dengan mengenali faktor risiko dan tidak menganggap remeh perubahan pada tubuh. Imm

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry