Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M. Nasir (FT/nusantaranews)

MADIUN | duta.co – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M Nasir mengatakan, para lulusan perguruan tinggi saat ini bukan siap bekerja, tetapi baru siap training.

Oleh sebab itu, untuk menciptakan SDM yang terampil, unggul, berdaya saing tinggi, kompetitif, inovatif dan bertanggungjawab, sistem pendidikan Perguruan Tinggi di Indonesia ini harus diperbaiki.

“Semua lulusan sarjana tinggi berbasis vokasi seperti Politeknik (Poltek) harus memiliki sertifikasi.  Hal ini sesuai dengan tuntutan para pengusaha, dalam hal ini dunia industri,” ujar M Nasir saat memberikan kuliah umum di Politeknik Negeri Madiun (PNM), Rabu (9/1/2019).

Menurut dia, saat ini tututanya PT tidak hanya mendapat ijazah atau gelar sarjana. Lebih dari itu, para lulusan sarjana ini harus memiliki kemampuan sesuai yang diminta oleh industri.

Untuk itu Nasir meminta agar semua perguruan tinggi (PT) berbasis vokasi seperti Politeknik (Poltek) harus bekerjasama dengan dunia industri. Menurut dia, peluang dan tantangan pendidikan vokasi dalam menyonsong era revolusi Industri 4.0, cukup berat.

“Satu diantaranya PT harus memperbaiki piramida kualifikasi sumber daya manusia (SDM) agar nantinya menjadi tenaga kerja yang terlatih dan terampil agar terserap di dunia industri,” pungkasnya.

Terima Kasih PT INKA

Lebih lanjut dikatakannya, sekarang ini gaji yang diterima lulusan Diploma 3 itu sekitar Rp2-3 juta, kalau dia memiliki sertifikat keterampilan maka bisa lebih itu (gaji yang diterima).
Tantangan pendidikan tinggi di Indonesia saat ini yakni terkait kondisi Angka Partisipasi Kasar (APK) yang masih di bawah negara tetangga.

Di Indonesia APK berada di angka 34,58 persen, sementara Malaysia 38 persen, Singapura mencapai 78 persen. ”Waktu awal-awal jadi menteri APK-nya itu baru di angka 29-30 persen dan sekarang sudah naik. Jadi tantangan kita ke depan adalah menaikkan APK tersebut,” kata dia.

Di sisi lain, kondisi yang ada saat ini ada kesenjangan antara lulusan pendidikan dengan dunia industri. Ini menurut M.Nasir yang membuat lulusan perguruan tinggi belum siap bekerja tetapi baru siap training.

Karena itu pihaknya mengapresiasi PNM yang telah bekerjasama dengan PT INKA (Persero) dengan membuka prodi Perkeretaapian, sehingga kedepan dapat menjadi treatmark PT di Indonesia setelah Politeknik Negeri Batam yang membuka prodi perbaikan pesawat.(bow)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.