
“Diam yang dipilih dengan sadar bukan pelarian. Diam adalah kekuatan yang menenangkan.”

Oleh Khoirul Anwar, Ketua Komisi Infokomdigi MUI Jawa Timur, Wakil Ketua PCNU Kota Malang
ADA yang pelan-pelan menghilang dari kehidupan digital dan modern saat ini: diam yang berisi.
Bukan diam karena kehabisan kata. Bukan pula diam karena kalah argumen. Tetapi diam yang lahir dari kesadaran.
Dunia hari ini berdetak tanpa henti. Layar menyala sejak pagi. Pesan masuk bersahutan. Opini bertabrakan di ruang-ruang digital. Bising. Gaduh.
Semua terasa mendesak untuk ditanggapi. Semua seperti meminta respons seketika. Kecepatan menjadi kebiasaan. Refleks menggantikan perenungan.
Dalam arus seperti itu, Ramadan datang membawa irama berbeda. Langkah melambat. Nafas ditata. Perut kosong membuat tubuh tidak segesit biasanya. Ada ruang jeda yang tercipta secara alami.
Di sela jeda itu, diam menemukan tempatnya.
Puasa bukan hanya menahan makan dan minum. Puasa adalah pengendalian arus. Arus kata-kata. Arus emosi. Arus keinginan untuk selalu terlibat.
Banyak pertengkaran bermula dari kalimat yang terlalu cepat keluar. Banyak luka tumbuh dari komentar yang tidak disaring.
Lisan sering lebih liar daripada pikiran. Dan pikiran pun sering lebih liar daripada hati.
Dalam khazanah tasawuf, diam adalah taman penyucian. Ketika suara luar mereda, suara batin terdengar lebih jelas. Ada bisikan halus yang selama ini tertutup kebisingan. Bukan suara yang memaksa, melainkan suara yang menuntun.
Diam bukan kekosongan. Diam adalah ruang. Ruang untuk melihat motif sebelum berbicara. Ruang untuk mengamati getaran marah sebelum meledak. Ruang untuk membedakan antara kebenaran dan keinginan menang.
Di era komentar instan, diam terasa aneh. Sering disangka tidak peduli. Sering ditafsirkan lemah. Padahal menahan diri di tengah provokasi justru menunjukkan kedalaman.
Seseorang yang mampu menahan satu kalimat kasar sedang menyelamatkan banyak kemungkinan penyesalan. Satu kalimat yang tidak jadi diucapkan bisa mencegah panjangnya permusuhan.
Dan, Ramadan memberi latihan itu setiap hari.
Ketika rasa lapar muncul, ego ikut melemah. Saat haus terasa, kesadaran tentang keterbatasan menguat. Dari situ lahir kelembutan. Tidak semua perbedaan harus ditanggapi. Tidak semua kesalahan orang lain harus diumumkan.
Ada kemuliaan dalam memilih sunyi. Di Ramadan itu!
Diam juga mengajarkan bahwa eksistensi tidak selalu perlu ditegaskan. Dunia tetap berputar tanpa suara tambahan. Kebenaran tidak selalu membutuhkan pembelaan keras. Cahaya tetap terang meski tanpa sorak-sorai.
Pada malam-malam Ramadan, terutama menjelang sahur, hening terasa lebih pekat. Dalam hening itu, doa mengalir lebih jujur. Tangis lebih tulus. Kesadaran lebih tajam. Di sana, diam berubah menjadi percakapan terdalam.
Bukan percakapan dengan manusia, namun juga dengan Yang Maha Mengetahui isi dada.
Di titik itu, diam menjadi ibadah.
Ibadah yang tidak terlihat. Ibadah yang tidak dipuji. Ibadah yang bekerja di dalam.
Dari diam yang terawat, kata-kata menjadi lebih bermakna. Tidak lagi berlebihan. Tidak lagi tergesa. Setiap ucapan lahir dari pertimbangan dan kasih sayang. Setiap pendapat disampaikan dengan keteduhan.
Hati yang terbiasa diam tidak mudah panas. Tidak cepat tersulut. Ada jarak antara rasa dan reaksi. Dalam jarak itulah kebijaksanaan tumbuh. Ramadan seakan mengingatkan bahwa spiritualitas bukan hanya tentang banyaknya bacaan atau panjangnya doa. Kadang kedalaman justru ditemukan dalam satu momen hening yang jujur.
Barangkali selama ini terlalu banyak berbicara tentang kebaikan. Terlalu sibuk menjelaskan nilai. Sementara hati sendiri jarang diajak duduk tenang. Maka bulan ini bisa menjadi kesempatan merawat sunyi. Mengurangi debat yang tidak perlu. Mengurangi komentar yang tidak membawa manfaat. Mengurangi dorongan untuk selalu tampil.
Diam yang dipilih dengan sadar bukan pelarian. Diam adalah kekuatan yang menenangkan. Di tengah dunia yang gaduh, diam adalah revolusi kecil.
Dan dalam Ramadan, revolusi itu dimulai dari satu hal sederhana: menjaga kata sebelum kata menjaga diri. (*)





































