Karya : Nanang Eko. S

Daun-daun semakin lelah menahan dentuman rintik hujan diakhir dan diawal tahun ini. Remaja itu bersimpuh khusuk menatap rintik hujan yang semakin deras. Sambil kedua tangannya memegang ponsel. Hari itu sangat gelap, hujan telah mengusir keramaian dari peraduannya. Berkali-kali ia memandag ponsel, menunggu pesan dari seseorang. Hujan perlahan reda, malam tetap saja mempertahankan kepekatannya. Suasana semakin sunyi.

            Berkali-kali ia menatap ponsel yang melekat digenggamannya, tapi tidak ada pesan atau telepon dari seseorang. Kejenuhan membuatnya gelisah. Malam itu ia ingin membeli kado istimewa untuk seseorang yang ada dalam hatinya. Seperti yang dilakukan banyak orang, merayakan malam bersama kekasihnya, bersama Kakeknya, bersama Neneknya, bersama Ibu dan Ayahnya, maupun bersama selingkuhannya.

            Remaja itu semakin berat karena yang ditunggu tidak kunjung datang. Ia pergi ke suatu tempat dimana orang-orang gembira berkumpul merayakan akhir tahun. Ia melangkah melintas di terotoar.  Meskipun diguyur rintik hujan yang sepenuhnya belum reda, jalanan begitu ramai. Malam itu memang malam yang sangat indah bagi semua orang apalagi bagi anak-anak remaja, terkecuali dirinnya. Ia kesepian, sebab orang yang ditunggunnya tidak kunjung datang.

            Ia melihat dari sebrang jalan, orang-orang sangat bahagia. Mereka tersenyum, mereka bercanda sambil berpelukan di dalam mobil, di atas motor dan bahkan di tepian trotoar. Sungguh malam yang sangat istimewa. Namun, tidak semua merasakan hal yang sama. Di sebrang jalan sepasang remaja sedang bertengkar. Terlihat  dua remaja perempuan sedang cekcok mulut dan terlihat satu remaja laki-laki yang hanya sibuk memisah diantara keduanya.

            “Lo perempuan murahan!” Teriak salah satu remaja perempun ke perempuan satunya.

            “Lo tu yang murahan bisanya ngaku-ngaku cowok gue!” Jawab lantang remaja perempuan satunya.

            “Lo tu, ini cowok gue!” Teriaknya kembali, sambil menarik remaja laki-laki yang sibuk memisah keduannya.

            “Sejak kapan lo ngaku-ngaku? Dasar perempuan murahan.” Teriaknya ulang sambil remaja laki-laki ditarik ulang.

            “Sudah-sudah pada diam lo semua, bisa gue jelasin.” Lelaki itu pun berusaha memisah keduanya.

            “Diam lo.“ Dua perempuan itu berteriak serempak, sambil mangacugkan jari telunjuknya ke depan muka laki-lakinya.

            Semua orang yang lewat di jalan semakin terhibur. Mereka sibuk mengeluarkan ponsel dan mengambil gambar pertengkaran itu. Bahkan pengendara motor berhenti menyaksikannya, sampai jalan itu macet sangat panjang. Beberapa polisi sibuk mengarahkan kendaraan dan mengatur agar tidak terjadi macet. Remaja itu hanya menyaksikan dari sebrang jalan, adegan pertengkaran yang semakin tak terlihat karena tertutup orang-orang yang menyaksiannya. Lantas ia mengabaikan dan kembali berjalan menyusuri terotoar yang ramai. Ia berjalan seorang diri.

            Malam tak lagi sepi, tempat ini sengat ramai, tempat ini sangat bising. Orang-orang pada berkumpul di tengah kota, semakin malam jalanan semakin terpenuhi kendaraan yang datang. Ia melihat sepasang remaja yang romantis, segerombol keluarga bahagia, ia iri ingin sekali seperti mereka. Seseorang yang ia tunggu tidak muncul kedatangannya. Malam tak kuat lagi mengusir keramaian, justru malam telah mengundang keramaian.

            “Mas pilih kadonya mas, buat hari istimewa malam ini.”

            Seorang perempuan cantik, menggelar barang dagangannya di pojok tempat keramaian. Ia terlihat sibuk menawarkan tumpukan kotak yang dihiasi dengan pernak-pernik keemasan. Kotak itu sangat indah dan cantik seperti yang menjualnya. Kotak itu berisi macam-macam, tergantung permintaan pembeli. Ada yang berisi cincin,  kalung, ada yang berisi coklat, ada yang berisi potongan surat cinta, ada yang berisi setangkai bunga melati, ada yang berisi tulisan permintaan maaf, ada yang berisi baju, celana, kaca mata, ada yang berisi boneka panda yang sangat besar dan masih banyak isi yang lain di dalamnya. Remaja itu hanyut pada tumpukan kado yang ditawarkan penjual yang cantik itu.

“Seandainya malam ini aku bersama seseorang yang sangat indah, pasti aku akan membelikan kado yang istimewa untuknya” Gumam remaja itu dengan harapannya dalam hati. Ia juga berharap merasakan diberi kado istimewa dari orang lain, selama hidupnya ia belum pernah menerima kado istimewa dari orang lain.

Kemudian ia mendekat ke tumpukan kado yang membuatnya tertarik untuk melihatnya. Ia berputar mengelilingi tumpukan kado yang tak terhitung jumlahnya. Terlihat satu kotak kado terpajang indah di atas sendiri, ia terbengong melihatnya. Tangannya sulit meraihnya, karena memang tempatnya terlalu tinggi tangannya pun tak sampai meraihnya.

            “Itu kado yang paling indah.” Ucap perempuan cantik penjual kado, melihat remaja itu tak kuasa meraih kadonya.

            “Kalau boleh tau itu isinya apa?.” Remaja itu penasaran dengan sesuatu barang yang terhiasi begitu indah.

            “Sudah tentu barangnya tidak bakal mengecewakan,” Jawab penjual kado, merayunya.

            “Apakah isinya sangat indah sepertimu?.” Remaja itu dengan berani mengungkapkan rasa yang sebenarnya, penjual kado mamang sangat cantik, anggun, dan ramah. Penjual kado sepertinya sangat malu, ia tersenyum sambil menundukan mukanya.

            “Kenapa engkau diam saja?.” Ucapnya kembali

            “Aku merasa aneh padamu, sampai malam ini tak ada yang menganggapku seperti kado yang indah, justru kamu yang baru melihatku berkata seperti itu, apakah kamu tidak salah melihatku dan tidak salah berucap padaku?”

            “Tidak, justru aku merasakan kado terindah setelah melihatmu.” Lelaki itu semakin berani mengucapkan segala yang indah “Kalau boleh tau siapa namamu?” Lanjut tanya Remaja itu kepada penjual kado.

            “Ayu!” ucapnya, “Aku Jo. Joni” Balas remaja itu, sambil berjabat tangan.

            “Sudah kamu pilih kado yang mana?” Tanya Ayu mengalihkan pembicaraanya.

            “Aku pilih kado yang itu saja.” Sambil jari telunjuknya mengarah pada kado yang sangat indah.

            “Kamu yakin pilih ini?”  Tanya Ayu meyakinkan.

            “Iya saya yakin.” Jawab Joni Yakin.

            “Di dalam kado ini hanya berisi selembar surat cinta.”

            “Siapa yang menuliskan surat didalamnya?”

            “Saya sendiri.”

            “Sepertinya kamu sambil membayangkan seseorang terindah, sampai kamu menganggap kado paling indah.”

            “Iya, aku hanya membayangkan, namun hanya sebuah bayangan.”

            “Apakah kamu tidak perah mendapat kado istimewa dari kekasihmu, sampai harus membuat kado seindah itu?” Tanya Joni berani.

            “Aku tidak memperlukannya, jika aku pengen aku bisa membuat kado istimewa sendiri yang lebih bagus”. Jawab Ayu dengan santainnya.

            “Tapi bukannya lebih istimewa dari orang yang istimewa pula.”

            “Tidak ada yang istimewa. Ini harganya satu juta.” Jawabnya dengan tegas.

Joni seketika tercengang setelah mendengar harga kado istimewa itu. Ia merasakan hal yang sangat aneh. Kenapa kado itu sangat mahal, padahal hanya berisi selembar kertas yang bertuliskan surat cinta. Apakah tinta yang diggunakan tinta emas yang mahal, apakah kertas yang diggunakan dari kulit merpati yang paling indah. Ia dibuat diam oleh kebingungan itu.

            “Apakah tidak bisa ditawar?” Tanya Joni.

            “Apakah cinta juga harus ditawar?” Jawab Ayu bertanya balik kepada Joni.

            “Saya rasa harus kalau perlu, tapi apa boleh buat saya bayar kado itu. Aku sangat menyukainnya.” Joni merogoh kantong celananya. Beberapa lembar uang kertas ia keluarkan. Kemudian tangannya sibuk menghitung.

            “Ini uangnya, pas buat membayar kado itu.” Ia mengulurkan tangan yang berisi beberapa lembar uang.

            “Semuannya kau berikan padaku?.”

            “Iya, bukannya harganya satu juta dan kebetulan uang saya hanya satu juta, kiranya sudah pas untuk membayar kado itu.”

            “Memang kamu tidak berkeinginan membeli yang lain?”

            “Tidak, uangku habis dan kado itu sudah cukup membuatku bahagia malam ini.”

            Suasana semakin ramai, hujan telah reda, tinggal dingin malam yang tersisa. Dari ujung timur sebongkah bulan bersinar, sepertinya akan berlayar diangkasa. Beberapa bintang juga terlihat nampak di angkasa. Sungguh malam ini terganti keindahan dari segala yang indah.

            “Memang akan kamu berikan kepada siapa kado ini?.” Tanya Ayu penasaran.

            “Untuk diriku sendiri.” Jawab Joni pelan.

            “Apa kamu tidak salah, memberikan kado untuk dirimu sendiri ?”

            “Saya rasa tidak ada yang salah, karena hanya itu bagaimana caranya saya mendapatkan kado malam yang indah ini.”

            “Memang Kekasihmu, Ibu, Bapakmu kemana?” Lanjut Ayu penasaran.

            “Mereka sibuk dengan urusannya, mungkin mereka lupa kalau malam ini tahun baru.”

            “Apakah tidak kau ingatkan?”

            “Tidak” Jawab Joni singkat.

            Ayu terdiam. Dari kelopak matanya, terlihat ia merasa sangat kasihan dengan Joni. Betapa polosnya. Ayu sangat prihatin dengannya, sungguh bodoh perempuan yang meninggalnya. Joni sangat tampan, putih dan sopan, baik pula. Tiba-tiba Ayu merasakan hal itu pada dirinya.

            “Aku sangat sedih mendengar ceritamu, kadonya mau aku antarkan kerumahmu atau tidak?” Tawar Ayu sambil mengalihkan pembicaraan.

            “Biar aku bawa sendiri saja.” Jawab joni.

            “Kendaraanmu dimana? Biar aku antarkan sampai tempat kendaraanmu?” Tawar Ayu berbaik hati.

            “Aku tadi naik ojek” Jawab Joni

            “Pulangnya bagaimaa? Bukannya uangmu sudah habis untuk naik ojek,”

            “Tapi saya masih bisa berjalan.”

            “Berapa meter jarak rumahmu.?”

            “Duapuluh menit jika pakai motor. Entah berapa kilometer aku tidak tau”

            “Itu akan membuatmu capek, itu jarak yang jauh.”

            “Tidak papa, aku lebih senang jalan kaki. Di jalan bisa melihat banyak kegembiraan, juga sambil memandangi kado yang indah ini.”

            “Ini saya kembalikan sebagian uangmu, kiranya cukup untuk membayar tukang ojek.” Ayu mengulurkan dua lembar uang kembaliannya.

            “Tidak, biar saja aku berjalan kaki, terima kasih banyak kau berbaik hati padaku, kau cukup baik malam ini,” Jawab Joni menolak uang kembalian dari Ayu.

            Joni kemudian berbalik arah, ia berjalan meninggalkan Ayu sambil kedua tanganya menyangga kado yang terbungkus sangat indah, kado yang sederhana tapi sangat mahal. Ia merasakan di dalam kado itu berisi sebongkah hati si penjual kado yang sangat manis. Hati itu menjelma menjadi bentuk tulisan surat cinta. Ia tak menyesali harga yang sangat mahal, karena setara dengan isinya yaitu hati yang belum tentu dapat dibeli dengan harga satu juta. Ungkapan seperti itu, sangat istimewa dalam hidup ini, apalagi dari peremuan secantik, sebaik dan seanggun sepertinya. Cinta memang membuat segalanya menjadi indah dan membuat segalanya menjadi berharga seperti kertas di dalam kotak kado ini tanpa adanya rasa cinta, selembar kertas itu tak akan ada gunanya.

            “Mas, mas!!” Ayu berlari mengejar remaja itu.

            Joni pun dengan seketika berhenti, ia membalikan badan dan melihat Ayu berlari ke arahya.

            “Ada apa kau berlari seperti itu?”

            “Mana kadonya dan ini uangmu.” Ayu merebut kado yang berada di genggaman Joni dan menyodorkan beberapa lembar uang.

            “Kenapa dengan kadonya??.” Tanya Joni kaget, Karena kado istimewa itu diambil kembali.

            “Tidak jadi aku jual.”

            “Memangnya kenapa, apakah harganya belum pantas untuk membayar  kado itu?” Tanya Joni heran dengan apa yang dilakukan Ayu.

            “Tidak, bukan masalah itu, hanya saja aku tidak jadi menjual kado ini.”

            “Betapa sangat indah isi kadonya, sampai engkau pertahankan seperti itu.”

            “Ini hanya sederhana.” Ucap Ayu pelan.

            “Tapi aku sangat mengiginkan kado itu”

            “Untuk apa?, toh hanya berisi selembar kertas”

            “Tapi itu bukan hanya sekedar kertas dan aku sangat menyukainya.”

            “Akanku buatkan yang lain.”

            “Dengan isi yang sama?”

            “Bukan, mungkin akan sedikit berbeda, karena aku tak bisa mengungkapkan seperti surat ini untuk yang kedua kalinya.”

            “Bukannya kamu bisa membayangkan yang sama seperti  disaat kamu membuat surat seperti di dalam kado ini.”

            “Tapi, hatiku sudah tidak bisa melihatnya, hatiku berusaha untuk melupakannya dan kini aku merasa telah berhasil menutup kasih sayang untuknya” Jelas Ayu dengan mata setengah berkaca.

            “Secepat itukah hatimu berubah?”

            “Iya, sebenarnya aku ingin melupakannya dari dulu, namun itu terasa sulit untukku. Tapi, entah malam ini, aku merasa telah berhasil melupakannya” Jelas Ayu

            “Kamu tidak akan menyesal?”

            “Tidak, tidak ada gunanya aku menyesal. Bukannya cinta adalah perasaan yang tidak dapat di paksa, dan cinta bisa datang tanpa terencana?.” Tiba-tiba Ayu menjadi puitis.

            “Kamu sangat mengerti tentang cinta, sungguh orang yang beruntung yang dapat membeli kado itu.”

            “Sudahku bilang kado ini tak akan aku jual.” Jelas Ayu dengan tegas.

            “Ya sudah, simpan saja  dengan rapi, dan keluarkan saat hatimu kuat”

            Joni kemudian bergegas meninggalkannya dengan segenggam uang yang segera ia masukkan ke dalam sakunya. Ia berjalan menjauhi Ayu dengan perasaan sangat kecewa, lagi-lagi ia tidak mendapatkan kado istimewa, seperti yang telah ia harap-harapkan sebelumnya. Tapi memang rencana hanyalah ulasan sementara yang belum jelas kepastiannya.

            “Hei.” Kembali teriak Ayu memanagil Joni yang perlahan meninggalkannya.

            Teriakan itu membuat Joni berhenti  dan membalikkan badannya. Terlihat Ayu berjalan perlahan mendekatinya dengan tangan membopong kado istimewa itu.

            “Untuk apa lagi memanggilku, bukannya kadonya sudah ada ditanganmu.” Ucap Joni dengan nada kecewa.

            “Aku sudah tau.”

            “Lalu untuk apa lagi?.” Tanya Joni setengah kesal.

            “Ini!!” Penjual kado itu mengulurkan kadonya kehadapan Joni.

            “Untuk apa kado ini?” Tanya Joni kaget.

            “Ini buatmu”

            “Maksud kamu apa?” Joni kembali dibuat kaget dengan perkataannya.

            “Ya ini kado untukmu, beserta surat cinta ini aku sembahkan untukmu”

            “Kamu . .!!!!”

            “Saya orang pertama dan selamanya yang akan memberi kado terindah buatmu .”

Cerpen/Nanang E S/ Duta Masyarakat.

Penggerak Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP PGRI Ponorogo,

Pengurus Rumha Baca Sutejo Sepectrum Center (SSC) Ponorogo

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry