JAKARTA | duta.co — Wakil Ketua MPR-RI sekaligus Ketua Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Dr H Hidayat Nur Wahid meminta komunitas Santri dan Wali Santri di Indonesia untuk tetap konsisten memberikan manfaat untuk Umat dan kontribusi untuk majunya peradaban NKRI di tengah berlanjutnya covid-19.

Apalagi, sekarang ini, masih bertebaran berita hoaks, sengaja dibuat disinformasi soal Santri dengan menangnya Taliban (para Santri) di Afghanistan. Belum lagi kalau kita ingat, tema lomba Hari Santri oleh BPIP, di mana BPIP akhirnya mau mengakomodasi kritik publik dan meminta maaf.

HNW, pangilan akrabnya, juga mewanti-wanti kepada komunitas Santri, agar segala fitnah tidak dibalas dengan fitnah baru atau kemungkaran. Disinformasi itu perlu diklarifikasi dengan baik, sesuai nilai-nilai etika Islam yang diajarkan di pesantren.

“Para Santri, jadilah ibarat pohon mangga, sekali pun dilempari batu, tapi tidak membalas dengan lemparan baru. Tetap membalas dengan menjatuhkan buahnya,” ujar Hidayat saat mengisi pengajian virtual bulanan dengan tema Spirit Santri Untuk Negeri Berdaya dan Berkeadaban yang diadakan oleh Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Bogor, Minggu (22/8/2021).

HNW yang juga anggota Komisi VIII DPR-RI ini, menjelaskan, sejak zaman penjajahan asing atas Indonesia, dan di awal pembentukan kesadaran nasional, Santri telah terbukti berkontribusi positif bersama dengan tokoh-tokoh bangsa dari latar organisasi, agama dan suku yang berbeda.

Para Santri bersama-sama berjuang untuk memerdekakan Indonesia, mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan menggagalkan pemberontakan PKI tahun 1948 dan tahun 1965.

Pada Tahun 1903 misalnya, organisasi pertama di Indonesia, Jamiatul Khair, telah mengadakan Kongres di Jakarta yang menghasilkan “rekomendasi” bahwa memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari penjajahan Belanda hukumnya adalah wajib.

Perjuangan santri terus berlanjut hingga ketika proses persiapan kemerdekaan, baik dalam BPUPK maupun Panitia 9 dan PPKI, berbagai elemen santri antara lain dari Ormas (Muhammadiyah, NU, Persis, PUI) Orpol (Partai Islam Indonesia, Sarekat Islam, Partai Masyumi), Pondok-Pondok Pesantren seperti Gontor, para Habaib, bahkan para Ulama dan Santri membentuk Laskar Kiai, Laskar Santri, dan KH Subchi Parakan dikenal sebagai “guru spiritual” nya Bapak TNI Jendral Besar Soedirman.

Mereka aktif membersamai para Pejuang lainnya, menghadirkan dan mempertahankan Negara Indonesia Merdeka, yang oleh NU dan Muhammadiyah dan Partai-Partai Islam tidak disebut sebagai Darul Islam atau Darul Harbi, melainkan Darussalam dan Darul ‘ahdi wasysyahadah.

“Bahkan tidak hanya melalui gerakan sipil, santri juga bergerak dalam militer seperti yang dijalankan oleh Jenderal Sudirman sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat yang kemudian menjadi TNI. Di luar itu, juga ada Laskar Santri, Laskar Kyai, Laskar Hizbullah, Laskar Sabilillah, dll yang nyata-nyata hadirkan aktivitas Santri yang kongkret membela Negara, menghalau para penjajah dari Indonesia. Seperti juga Pesantren dan Santri Gontor, sekalipun ada saja fitnah terhadap Gontor, tapi jelas sekali Gontor menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, hormat bendera. Bahkan dalam hymne Gontor dinyatakan bahwa Santri Gontor juga berbakti kepada Indonesia sebagai Ibu. Dan di kompleks Pondok juga ada makam Kiyai dan Keluarga yang di antaranya adalah tempat persemayaman  pahlawan Bangsa dari latar belakang Keluarga Pondok Gontor,” ujarnya.

HNW menegaskan, dalam berjuang untuk Indonesia, para santri selalu terlibat bersama dan mengajak komponen bangsa lainnya, karena semangat yang dibawa oleh santri merupakan gabungan antara semangat keagamaan dan juga semangat kebangsaan.

Santri juga harus terus berperan dalam memajukan dan  mempersatukan Indonesia di tengah perpecahan dan atau upaya pecah belah, sebagaimana dicontohkan oleh M. Natsir, Waketum PERSIS, melalui Mosi Integralnya.

Natsir yang merupakan seorang santri dan bergerak di bidang Politik melalui Partai Masyumi, menuntut agar Indonesia kembali kepada cita-cita Indonesia merdeka yaitu menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI), setelah sebelumnya dibelah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS).

Mosi tersebut diterima oleh seluruh Fraksi di DPR-RIS sehingga berselang 4 bulan dari Mosi Integral Natsir, tepatnya pada 17 Agustus tahun 1950, Indonesia yang sempat berbentuk Serikat (RIS) kembali diproklamirkan oleh Bung Karno menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Adapun terkait kemenangan Taliban di Afghanistan, HNW juga ingatkan bahwa delegasi Taliban di bawah pimpinan Mulla Abdul Ghani Baladar, tokoh kunci Taliban, pernah berkunjung resmi ke Indonesia. Mereka juga berjumpa dengan MUI dan PBNU.

Taliban yang bermadzhab Sunni (Hanafi, Maturidy dan Qadiry) sebagaimana mayoritas mutlak Muslim Indonesia juga Sunni, wajar bila waktu itu diterima dengan resmi dan hangat oleh MUI dan PBNU.

Dan Taliban pun sangat terkesan dengan aktivitas PBNU sehingga akan mendirikan cabang NU di Afghanistan. Taliban seperti Sunni di Indonesia bukan Wahabi atau ISIS, bahkan mereka malah mengeksekusi hukuman mati terhadap Ketua ISIS di Asia Selatan, Umar Khurasani.

Taliban yang minta banyak masukan kepada Ulama-Ulama di MUI, PBNU dll, mereka bukan kelompok Radikal atau Takfiri. Sehingga mestinya dengan makin banyaknya masukan dan atau perhatian yang mereka minta dari Indonesia, seperti dari Pak JK, MUI, NU, Muhammadiyah dll, maka Taliban akan semakin dapat membuktikan janji-janjinya untuk menjadi Taliban baru, yang memberikan harapan realisasi dari Islam yang Rahmatan lil alamin, yang wasathiyah (moderat) dan cinta Negara, sekaligus ini koreksi atas berbagai stigma, salah paham, dan citra negatif yang sebelumnya ada, atau sengaja diadakan.

“Hal-hal ini membuktikan bahwa Santri, baik di Indonesia maupun yang lainnya, merupakan entitas moderat yang memiliki akar sejarah perjuangan dan kecintaan terhadap agama, bangsa  dan negara yang sangat jelas rujukan madzhab Sunni dalam fiqih, theologi maupun tasawufnya, maupun juga dalam berpolitiknya, bukan ajaran atau laku terorisme, ekstrimisme maupun radikalisme,” pungkasnya. (net,mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry