
SIDOARJO | duta.co – Grafik ekonomi warga terus merosot tajam. Ada warning, bahwa jumlah dhuafa semakin bertambah. Menjelang lebaran 1446 H/2025 M, data itu terus ‘terjun bebas”. Mayoritas setiap RT mengalami penambahan jumlah dhuafa.
“Artinya, kondisi ekonomi kita, memang, tidak sedang baik-baik saja. Harus ada langkah konkret mengatasi rapuhnya pondasi ekonomi ini,” tegas Mokhammad Kaiyis, Ketua RW-10 Perumahan Graha Permata Sidorejo Indah, Desa Sidorejo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Senin (24/3/25).
Dari data yang ada, lanjutnya, tidak mungkin pemerintah desa (Pemdes) sangggup mengcover seluruhnya. Bahkan jumlah jatah yang diberikan, pun sulit untuk membaginya. “Akhirnya, cuma bisa meratakan bantuan atau bingkisan lebaran. Masalahnya adalah: Bagaimana usai lebaran nanti,” tegasnya.
Menurut anggota Dewan Kehormatan PWI Jatim ini, rapuhnya pondasi ekonomi ini, bisa berefek kompleks. Jangankan berpikir untuk moncernya pendidikan, soal “kendil tegak” saja, masih menjadi masalah. “Setelah didata oleh masing-masing RT, ternyata jumlah dhuafa itu melonjak. Ada satu RT sampai 12 orang yang harus ditolong. Artinya, bisa tembus 20% dari warga yang ada,” urainya.
Sementara jatah BLT (Bantuan Langsung Tunai) Desa, selama ini hanya mengcover 3 orang dari 10 yang pernah diterimanya. Kondisi penerima sekarang memang meningkat, tetapi itu cuma untuk menghadapi lebaran. Usai lebaran, bagaimana nasib mereka? “Kita (RW) sering kesulitan memberikan undangan desa soal bingkisan lebaran, karena jumlahnya yang sangat minim,” tegasnya.
Karena itu, Kaiyis berharap, ke depan harus ada BAZ (Badan Amil Zakat) di wilayah RW-10. Minimal dari Graha untuk Graha. “Syukur bisa bekerjasama dengan BAZNAS Kabupaten Sidoarjo. Kali ada pinjaman lunak yang bisa dimanfaatnya mereka untuk mendongkrak ekonomi, karena hekekatnya warga Graha rajin berusaha,” tegasnya.
Di RW-10 Desa Sidorejo sudah ada gerakan S3 (Sedekah Sehari Seribu). Ini sudah berlangsung 3 tahun lebih. Gerakan sosial tersebut mengcover 20 orang lebih setiap bulan. “Alhamdulillah, Pak Kades juga rajim memberikan bantuan. Meski belum bisa memberikan modal usaha, tetapi rutinitas tersebut memberikan gambaran betapa kita peduli sesama,” tegas salah seorang pengurus S3.
Dalam koordinasi RW-10 kemarin juga muncul kabar akan adanya sunatan massal di Surabaya. Acara ini dibesut oleh sebuah perusahaan swasta di bidang kertas. Kabarnya akan berlangsung April 2025. “Nanti anak-anak kita yang mau ikut sunatan massal, monggo. Semoga ada kuota, dan bisa meringankan beban orangtua,” demikian Arif yang juga pengurus RW-10 Graha Permata. (mky)





































