

By Isfandiari MD
AGAK bingung juga saat seorang da’i bicara di mimbar bahwa wanita harus judes selain pada suaminya. Alasannya, supaya ada ‘barrier’ diantara mereka. Supaya lelaki itu menjaga jarak, tidak mikir ‘aneh’ konotasi porno. Malah katanya, wanita begitu sangat istimewa alias spesial. Ini aneh! Masalahnya judes dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menohok pada sifat lekas marah, suka bentak, ketus, tajam mulut, bicara menyakitkan hati. Janggal jika dianjurkan malah diperintahkan.
Komentar beragam muncul, mungkin ada unsur budaya sebuah zona! Katakanlah di Saudi Arabia, jazirah hejaz atau orang-orang Rusia di Eropa sana. Mereka gampang ge’er kalau ada wanita ramah! Wanita ramah, suka senyum dianggapnya pintu terbuka didekati, gampangan dan mempermudah terjadinya hasrat sexual. Kebanyakan orang Nusantara beda! Orang yang ramah: wanita-pria sama sekali tidak melulu artinya gampangan. Malah, adab santun diajari nenek moyang kita dan merasuk jadi DNA-nya orang Nusantara. Ramah, supel adalah kemuliaan, wanita-pria dari segala status sosialnya. Jarang ada terlintas, wanita ramah artinya kode jinak sampai urusan ranjang. Mereka justru makin mengormati-respect. Pernah dengar ‘mitos’ para playboy, womanizer lokal: wanita supel,ramah, murah senyum malah luarbiasa susah didekati. Beda sama yang ketus dan sok jual mahal, itu perkara enteng ditaklukan. Tuh!
Topik ini bukan perkara remeh. Anjuran untuk judes bisa sangat berbahaya. Hubungan sosial jadi sumpek tidak nyaman. Bayangkan, seseorang yang awalnya ramah, adab, santun dan sejuk ujug-ujug ketus mengatasnamakan ‘proses’ menuju orang alim? Bukannya rusak semua tatanan? Bahaya syi’ar , membuat Islam semakin terpojokkan.
Para dai-daiyah, mubalig-mubalighah harusnya teliti soal ini. Judes lain dengan tegas-wibawa-ajeg dalam bersikap. Ramah, supel beda dengan genit atau ‘gatel’ dalam berprilaku. Jika sengaja bermaklumat harus judes dan ditelan begitu saja, terbayang kerusakan budaya yang timbul. Siapa menyangkal kalau rata-rata orang Indonesia punya karakter ramah alami, murah senyum dan terbuka. Malahan judes bukanlah pondasi nilai Nusantara, lelaku itu mengacu pada bentuk pertahanan diri (coping mechanism) akibat stress dalam pergaulan masyarakat modern atau warisan beberapa tabiat di belahan dunia lain. Dalam budaya kita, orang judes berarti kurangnya didikan moral. Dalam kasus khusus memang wajib judes, misalnya terganggunya kehormatan diri, keluarga, agama. Ini sejalan dengan prinsip perlindungan diri (iffah) dalam Islam.
Sebaliknya, supel-ramah-sopan jadi ciri mulia yang dimiliki orang kita, sudah terkenal di seantero jagad dan jadi pusaka luarbiasa mahal, sebelum dan sesudah hadirnya peradaban Islam. Malah Islam memperkuat semua itu: tepa salira, unggah ungguh sejalan dalam silaturahmi, tanpa reserve. Ia jadi pilar utama akhlakul karimah (akhlak mulia), cerminan keimanan seseorang. Suasana yang ciptakan kedamaian, mempererat silaturahim malahan jadi media dakwah paling efektif. Jadi tauladan yang dicontohkan Nabi sebagai penyempurna akhlak, keramahan, senyuman tulus, dan tutur kata lembut jadi keutamannya. Berupa nilai ibadah sebagai sedekah, membuat urusan lebih lancar-mudah diselesaikan.
Allah berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩
“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”-Ali Imran-159-
Mungkin, kalau judes sudah bawaan lahir kita maklum adanya. Atau beberapa jenis orang yang sudah dari sononya masuk golongan Resting Bitch Face (RBF), terlihat jutek, judes karena kodrat dari struktur wajah. Tapi kalau diperintahkan atasnama prilaku keagamaan, persoalannya lain sama sekali.(*)
Keterangan foto: smileconsultingindonesia.com



































