JOMBANG | duta.co — Kemiskinan dan jerat judi online (judol) menjadi kritik tajam dalam ludruk kontemporer WUH garapan Komunitas Tombo Ati Jombang di Jombang Fest 2026, Minggu malam (11/10/2026). Mengangkat kehidupan warga miskin di kolong jembatan, pertunjukan ini menyentil kerasnya perjuangan hidup sekaligus bahaya jalan pintas yang justru dapat menjerumuskan orang ke dalam kesengsaraan. Antusiasme penonton pun tinggi, 400 tiket untuk dua sesi pementasan ludes terjual.

Karya yang ditulis Bb. Yuke dan disutradarai Imam Ghozali AR tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat yang terhimpit kelaparan, keterbatasan, pertikaian, dan tekanan ekonomi. Melalui tokoh Tomblok, penonton diajak melihat bagaimana keinginan untuk keluar dari kemiskinan dapat berujung pada pilihan yang keliru. Judi online menjadi simbol harapan instan yang menyimpan risiko kerugian hingga kehancuran hidup.

Lebih dari sekadar hiburan, WUH menghadirkan potret sosial yang mengajak masyarakat melihat kemiskinan dari sisi kemanusiaan. Di balik keterbatasan, ada manusia dengan kebutuhan, harapan, dan perjuangan yang kerap luput dari perhatian. Persoalan sosial tidak cukup dihadapi dengan penghakiman, tetapi membutuhkan kepedulian dan pemahaman.

Bunda Literasi Kabupaten Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi, menilai pertunjukan seni seperti ini berperan penting dalam membangun kepekaan sosial sekaligus mengenalkan kekayaan budaya kepada generasi muda.

“Melalui seni, kita bisa belajar memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Pertunjukan seperti WUH bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak kita untuk lebih peduli terhadap sesama, memahami persoalan di sekitar kita, dan tidak mudah menghakimi orang lain,” ujar Yuliati.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga kesenian agar tetap ada. Tradisi juga harus terus berkembang, berdialog dengan persoalan masa kini, dan menjangkau generasi penerus.

Ludruk kontemporer WUH membuktikan bahwa kesenian tradisional tetap relevan sebagai media refleksi dan kritik sosial. Dengan pendekatan kreatif, ludruk mampu mengangkat persoalan aktual tanpa meninggalkan akar budayanya.

Pementasan ini merupakan karya ke-46 Komunitas Tombo Ati Jombang, setelah sebelumnya tampil dalam Festival Cak Durasim 2026 di Surabaya pada 5 September lalu. Melalui Jombang Fest 2026 sekaligus peringatan Hari Jadi Kabupaten Jombang ke-116, ruang bagi seniman lokal untuk berkarya menjadi bagian penting dalam merawat identitas budaya daerah.

“Budaya tidak hanya hidup dalam ingatan tentang masa lalu. Budaya juga tumbuh ketika masyarakat terus memberi ruang bagi para seniman untuk berkarya, menyampaikan gagasan, dan menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan hari ini,” pungkas Yuliati.

Antusiasme masyarakat terlihat dari ludesnya 400 tiket untuk dua sesi pertunjukan. Bagi warga yang tidak kebagian tiket, panitia menyediakan layar tancap gratis di luar gedung kesenian agar tetap bisa menikmati pementasan. Melalui WUH, panggung ludruk bukan sekadar ruang hiburan, melainkan cermin kehidupan. Ketika kemiskinan menghimpit dan judi online menawarkan harapan semu, kesenian hadir untuk menyentil realitas sekaligus menggugah kepedulian terhadap sesama. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry