Inspektur Jenderal Pol Heru Winarko resmi dilantik di Istana Negara Jakarta, Kamis (1/3), menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) menggantikan Komjen Budi Waseso yang memasuki pensiun. (ist)

JAKARTA | duta.co – Inspektur Jenderal Pol Heru Winarko resmi menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) menggantikan Komjen Budi Waseso yang memasuki pensiun. Pengangkatan Heru tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 14 M 2018 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala BNN.

Pelantikan Heru dilakukan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (1/3), dihadiri sejumlah pejabat negara, baik kementerian maupun lembaga. ‎Presiden Jokowi berharap Kepala BNN Irjen Pol Heru Winarko tidak tergoda peredaran uang haram dari transaksi narkoba.

Jokowi melihat, Heru yang sebelumnya Deputi Penindakan KPK telah memiliki integritas yang tidak perlu diragukan lagi, mengingat lembaga antirasuah sudah menerapkan standar‎ yang baik.

“Ada standar governance, standar tata kelola organisasi, dan yang paling penting integritas, karena disitu peredaran narkoba duitnya gede sekali, omsetnya gede sekali, gampang menggoda orang untuk berbuat tidak baik,” papar Jokowi di Istana Negara, Jakarta.

Baru-baru ini, BNN bersama PPATK, OJK, BI, dan Bareskrim memang mengungkap tindak pidana pencucian (TPPU) uang narkoba Rp6,4 triliun yang dilakukan Devi Yuliana (DY) bersama HR dan FH. Wanita yang juga pernah ditangkap karena kasus judi online itu ‘memainkan’ uang dari kasus narkotika jaringan Togiman, Haryanto Candra, dan kawan-kawannya. Mereka juga merupakan jaringan Freddy Budiman, arek Surabaya yang sudah dihukum mati.

 

Terapkan Standard KPK

Jokowi pun berharap, standar yang telah diterapkan di KPK dapat diimplementasikan di lembaga yang kini dipimpinnya. Dengan demikian, peran BNN dalam menekankan peredaran narkoba di Tanah Air dapat lebih maksimal.

“Yang jelas semakin sedikit barang-barang narkoba yang masuk, akan semakin dikit, kemudian menurunkan sebanyak-banyaknya pengguna, dari sisi rehab juga baik, dari pencegahan agar barang tidak masuk,” kata Jokowi.

Heru sendiri akan melanjutkan kebijakan yang sebelumnya diterapkan Komjen Pol Budi Waseso, dalam memberantas dan mencegah peredaran narkoba di tanah air. “Tentu selain kita lanjutkan, kita tingkatkan juga, bagaimana pencegahan, pemberantasan, rehabilitasi yang sesuai undang-undang, dilaksanakan secara optimal,” katanya masih di Istana Negara, usai dilantik .

Heru berharap, dalam menjalankan tugasnya ke depan sebagai pimpinan BNN, akan memperoleh bantuan dari semua pemangku kepentingan dalam memberantas narkoba. “Pemberantasan narkoba ini bukan hanya tanggung jawab BNN tapi semua‎, semua instansi, semua warga negara di Indonesia, bahwa narkoba musuh kita bersama,” ujarnya.

‎Selain bekerja sama dengan seluruh instansi maupun masyarakat Indonesia, Heru rencananya nanti akan menggandeng negara tetangga guna mencegah masuknya narkoba dari luar ke dalam. “Kita mencoba pertama di regional, bahwa narkoba ini musuh kita bersama. Jadi bukan mereka-mereka, kita-kita. Jadi, kita mengharapkan kerja sama negara-negara tetangga bisa bersama-sama dengan kita,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua KPK Agus Rahardjo senang dengan diangkatnya Deputi Penindakan KPK Irjen Heru Winarko sebagai Kepala BNN. Agus mengaku sangat mendukung langkah pemerintah untuk mengangkat anak buahnya sebagai Kepala BNN.

“Kami sangat mendukung jadi kalau anak buah dipromosikan jadi bintang tiga kan sangat baik,” ujar Agus kepada wartawan di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (28/2). Menurut Agus, pengangkatan Heru akan menjadi sejarah bagi KPK.

Mantan Kepala LKPP menyebut belum ada seorang Deputi KPK yang mendapatkan jabatan ini. “Belum pernah kejadian Deputi KPK dipromosikan, jadi sangat senang. Jadi itu berarti penghargaan terhadap prestasi,” ungkap Agus.

 

Tak Jauh Beda dengan KPK

Heru Winarko yang sebelumnya menjabat Deputi Penindakan KPK mengaku tidak terlalu berbeda cara bekerja di lembaga antirasuah itu dengan BNN. Dirinya pun saat bergabung di Polri, ketika awal menjalankan tugas ‎banyak berhubungan dengan tindakan-tindakan di bidang reserse, termasuk narkoba.

“Saya kita tidak jauh beda ya penanganan-penanganan ini, pertama tahapannya sudah jelas ada pengaduan masyarakat, ada penyelidikan, penyidikan dan lain-lain, saya kira itu standar dalam penegakan hukum. Jadi BNN dan KPK tentu tidak jauh berbeda, di sana ada pencegahan, nah KPK juga ada pencegahan,” katanya usai dilantik.

Heru Winarko tercatat sebagai lulusan Akademi Kepolisian Tahun 1985. Selama berkarir di kepolisian, ia memang banyak berkecimpung di dunia reserse.

Dikutip dari Wikipedia, pria kelahiran Jakarta, 1 Desember 1962 itu mengawali karirnya dikepolisian sebagai Wakasat Serse Polres Bandung, Polda Jawa Barat pada tahun 1985. Ia pun lama berada di wilayah Polda Jawa Barat dengan jabatan terakhir sebagai Kasubag Ren Dit Pers Polda Jabar pada tahun 1994.

Kemudian tugasnya dipindahkan ke wilayah Polda Metro Jaya dengan jabatan Kapolsek Tanjungpriok pada tahun 1995, hingga akhirnya ia pun menduduki jabatan wakasat Ekonomi Dit Serse Polda Metro Jaya pada tahun 1999. Usai menjalani pendidikan di Sespim Polri tahun 1999, ia kemudian ditempatkan menjadi Kasat Serse Ekonomi Dit Serse Polda Sumsel pada tahun 2000.

Tahun 2002, ia pun dipercaya menjabat sebagai Kapolres Blitar, Polwil Kediri, Polda Jatim hingga akhirnya ia kembali ke Jakarta menjadi penyidik di Bareskrim Polri pada 2005 dan Kapolres metro Jakarta Pusat pada 2006.

Karirnya kian moncer usai menjalani pendidikan Sespati II pada 2008. Usai menempuh pendidikan ia banyak ditempatan di Bareskrim sebagai penyidik di Direktorat Ekonomi Khusus Bareskrim Polri hingga akhirnya dipercaya menjadi Wadir II/Eksus Bareskrim Polri pada 2009.

Kemudian ia digeser menjadi Wadir III/Tipikor Bareskrim Polri pada tahun 2010. Setelah itu ia ditugaskan di menkopolhukam dari 2010 hingga 2011. Usai itu, ia menjabat menjadi Kapolda Lampung pada 2012.

Pada 2015 ia kembali ditugaskan di Kemkopolhukam sebagai Staf Ahli Bidang Ideologi dan Konstitusi Menko Polhukam. Pada tahun yang sama ia pun akhirnya dipercaya menjabat Deputi Penindakan KPK hingga akhirnya 2018 dilantik Presiden Jokowi sebagai Kepala BNN.

 

Kesan BNN tentang Buwas

Pergantian Buwas ke Heru Winarko meninggalkan kesan bagi internal BNN. Kasudit Lingkungan Kerja BNN Kombes Pol Ricky mengatakan, Budi Waseso adalah seorang pemimpin sejati. Dia menilai Budi Waseso selalu bertanggungjawab terhadap anak buahnya.

“Satu kata untuk Pak Buwas, spektakuler, berani, berkomitmen, kemudian beliau sangat bertanggungjawab terhadap anak buahnya. Apapun yang dilakukan anak buah atas nama institusi beliau bertanggungjawab. Matikan, matikan, beliau bertanggung jawab. Ini yang kita suka pada pimpinan,” katanya di kantor BNN, Kamis (1/3).

Menurut dia, Budi Waseso selalu berpegang teguh pada undang-undang. Hal senada disampaikan Kepala Subag Evaluasi dan Pelaporan Biro Perencanaan BNN, Bentonius Silitonga. Dia menilai, Budi Waseso adalah icon dari BNN.

“Orang lihat BNN atau mendengar BNN, oo iya Pak Buwas atau sebaliknya dengar kata Pak Buwas, oh BNN ya. Sampai sekarang ada film Sopo Jarwo. Artinya itu bukan hanya sekadar nama Pak Buwas dalam film itu tetapi ada visi sosialisasi bahaya narkoba secara masif. Sosialisasi dalam film kartun, sehingga anak-anak usia dini telah terdeteksi memiliki pemahaman tentang bahaya narkoba. Harapannya begitu,” ujar Bentonius.

Bentonius mengatakan, Budi Waseso adalah pemimpin yang tegas, visioner dan juga mempublikasikan cita-cita yang sangat mulia yaitu memberantas narkoba di Indonesia.

“Penyalahgunaan narkoba enggak boleh ada. Harus zero. Jadi tidak ada toleransi. Terkait dengan penindakan beliau tidak pandang bulu. Sampai penindakannya ini harus jangan takut kalau menghadapi bandar sekalipun yang bersenjata ataupun ada backingannya. Jangan takut. Tumpas sampai ke akar-akarnya. Ya yang selama ini kan kebijakannya seperti itu,” ujarnya.

“Beliau itu cepat mengambil keputusan, cepat dan tepat mengambil keputusan dan beliau mau belajar. Contoh misalnya ketika beliau dari Bareskrim, Kabareskrim menjadi Kepala BNN, itu beliau cepat beradaptasi dengan situasi yang ada di BNN. Yang kami alami sebagai staf, beliau sangat menjadi kehormatan bagi kami lah pernah berada di BNN,” sambungnya.

Heru Dinilai Pasti Pemberani

Lalu apa harapan pada Kepala BNN yang baru Irjen Heru Winarko? “Saya pikir beliau sama-sama di penindakan. Pak Heru pasti pemberani, karena beliau mantan Deputi Penindakan KPK, korupsi, teroris, kemudian narkoba itu extra ordinary serious crime.”

“Makanya saya pikir pilihan presiden sangat tepat kepada Pak Heru selaku Deputi Penindakan KPK. Jadi keberaniannya itu akan lebih berani di sini. Di sana menjadi Deputi, di sini menjadi orang decision maker untuk menentukan Indonesia ke depan,” kata Ricky.

Sementara itu, Bentonius berharap dengan latar belakang mantan Direktur Penindakan KPK, Irjen Heru Winarko semakin memperkuat BNN.

“Kita ada Direktorat TPPU di sini yaitu merampas seluruh aset kejahatan narkotika untuk kegiatan P4GN. Artinya kalau bandar atau jaringan masih punya kemampuan finansial dia akan bermain di luar, sekalipun dia di dalam sel, di dalam penjara. Kalau dia punya kekuatan finansial dia akan tetap mengorder dari luar. Jadi dengan masuknya Pak Heru kami berharap TPPU, aset tersangka yang dihasilkan dari narkotika itu semakin besar diungkap. Saya optimis, kami optimis,” katanya. hud, tri, mer, wkp

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.