JAKARTA | duta.co – Presiden Joko Widodo sebagai calon presiden (Capres) petahana, justru menunjukkan indikasi tidak demokratis dibadingkan capres 02, Prabowo Subianto. Jokowi tampak tegang. Terkesan jengkel dikritik. Lalu memainkan data-data keberhasilannya dalam pemerintahan versinya sendiri. Bahkan dia sempat “menyerang” Prabowo menguasai lahan luas di Kalimantan yang akhirnya diluruskan oleh Prabowo di akhir acara debat tersebut.
“Gestur marah dan emosional Jokowi itu justru menunjukkan indikasi tidak demokratis,” kata tokoh bangsa Indonesia, Dr. Rizal Ramli, di sela-sela debat capres kedua malam ini, Minggu (17/2/2019).
Dalam debat dua sesi tadi, Jokowi kelihatan marah setidaknya emosional. Sementara Prabowo yang diperkirakan emosional dan marah, justru menunjukkan sikap simpatik.  Prabowo tampil kalem tidak meledak-ledak. Bahkan bersikap santun meski dipojokkan oleh Jokowi. Prabowo dinilai menunjukkan sikap kenegarawan sejati. Mengkritik kebijakan yang salah dan menghormati kebijakan yang baik. Menurut Rizal, Jokowi cenderung menunjukkan sikap otoriter.
“Itu salah satu kecenderungan otoriter. Karena perbedaan pendapat dalam negara demokrasi hal yang wajar,” katanya.
Selain serangan soal tanah, Jokowi ingin menjatuhkan Prabowo dengan menyebut capres ini tidak optimistis. Pernyataan Jokowi dinilai salah besar sebab kritik yang disampaikan Prabowo bersifat membangun dan berdasarkan data, seperti pembangunan infrastruktur yang hanya  pemborosan dinikmati segelintir orang. Bahkan sebelumnya justru dikritik oleh Wapres Jusuf Kalla dan Bank Dunia.
“Jokowi wajahnya tegang. Dia berusaha tenang, tapi gagal sebab yang keluar justru seperti orang uring-uringan. Soal data Jokowi tentu bicara datanya sendiri. Tapi mengapa sampai Pak JK dan Bank Dunia mengkritiknya. Apa ada dua data berbeda,” kata Faisal Yusuf, pengusaha di Jakarta, yang mengikuti acara dekat itu Minggu malam. (Wis/rmol)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.