Mantan Komisioner Komnas HAM, Natalis Pigai/Republika

JAKARTA | duta.co – Lembaga survey sudah seperti ‘anjing menggonggong’. Tidak dimutu untuk didengar. Natalius Pigai, kritikus sekaligus mantan Komisioner Komnas HAM, punya hitungan sendiri soal prediksi Pilpres 2019. Menurutnya pasangan capres dan cawapres Joko Widodo dan Maruf Amin bakal tumbang.

Menariknya, prediksi ini disampaikan Pigai atas dasar hitungan matematika sederhana yang disampaikan dari statistik Pilpres 2014.

“Membaca komposisi suara Pilpres 2019 tidak perlu butuh lembaga survei. Cukup berlogika dengan statistik sederhana, kita tahu siapa pemenangnya,” kata Pigai, Rabu (10/4).

Menurut hitung-hitungan Pigai, pasangan Prabowo-Sandi bakal menang dengan selisih di atas 10 persen di Pilpres 2019. Hal itu dilihat dari statistik Pilpres 2014 lalu.

Pada Pilpres 2014 yang memenangkan Jokowi-Jusuf Kalla dengan angka 53,15 persen, Pigai membagi komponen perolehan suara Jokowi-JK menjadi empat bagian.

Pertama dari faktor Jokowi. Berdasarkan perolehan pileg, Jokowi berhasil mengambil ceruk 30 persen jika dilihat dari hasil Pileg PDIP. Saat itu, PDIP sebagai partai pengusung meraih 18,95 persen.

Kemudian faktor JK. Hitung-hitungan Pigai, sosok JK mampu mengamankan suara sebanyak 16 persen. Kemudian faktor Ahok yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta menyumbang 5 persen, dan dari swing voters 2,15 persen.

Di Pilpres 2014, Prabowo-Hatta meraih 46,85 persen. Jika diuraikan, persentase tersebut diperoleh dari sosok Prabowo yang dipilih 40 persen. Kemudian pengagum Hatta Rajasa 5 persen, dan swing voters 1,85 persen.

Dari uraian di Pilpres 2014 tersebut, kata Pigai, bisa diketahui hasil Pilpres 2019 yang mempertemukan Jokowi-Maruf dan Prabowo-Sandi. Prediksi mantan Komisioner Komnas HAM ini, pemilih JK dan Ahok akan berkurang signifikan lantaran keduanya bakal beralih ke Paslon 02.

“13,5 persen pemilih JK akan hilang karena indikator orang-orang JK mendukung 02. 2,5 persen pendukung Ahok hilang karena sikap Jokowi kepada Ahok,” jelas Pigai.

Pengagum Jokowi disebutnya tak akan berubah dari 30 persen, faktor JK tinggal 2,5 persen yang memilih petahana lantaran 13,5 persennya telah beralih ke 02.

Faktor Ahok juga tinggal separuh, atau 2,5 persen karena kecewa dengan Jokowi dan swing voters yang pada 2014 berada di angka 2,15 menurun menjadi 1,5 persen karena kecewa dengan kinerja Jokowi.

Dalam hal ini, Jokowi hanya bertambah angka dengan keberadaan Maruf Amin yang diprediksi Pigai menambah suara 5 persen.

Jika ditotal dari fenomena tersebut, maka Jokowi-Maruf hanya akan mendapat 40,5 persen di Pilpres 2019. Hal ini dihasilkan dari jumlah pemilih Jokowi sebanyak 30 persen, JK 2,5 persen, Ahok 2,5 persen, Maruf 5 persen dan swing voters 0,5-1,5 persen.

Hal berbeda justru terjadi pada perolehan suara Prabowo-Sandi. Dengan skema yang sama, pemilih sosok Prabowo akan tetap 40 persen, pun demikian dengan loyalis Hatta sebanyak 5 persen.

Swing voters 2014 yang sebelumnya 1,85 naik menjadi 2,5 persen. Sosok Sandiaga juga bakal menambah suara sebanyak 10 persen, dan ditambah dengan migrasi Jokowi-JK di 2014 menyumbang 2 persen.

Jika dilihat dari kalkulasi ini, kata Pigai, maka total suara yang bakal diraih Prabowo-Sandi merangsek di angka 59,5 persen.

“Dengan demikian, Prabowo-Sandi menang dengan selisih 19,5 persen,” tandasnya. (rmol)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.