SURABAYA | duta.co – Debat (Pamungkas) Capres-Cawapres Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4), berlangsung seru. Tidak seperti biasanya, kali ini Prabowo-Sandi tampil korektif terhadap kebijakan pemerintah. Bukan hanya pemerintahan Jokowi yang dikritisi, tetapi juga pemerintahan sebelumnya.

Prabowo menggunakan istilah ‘salah jalan’. “Terus terang, saya tak salahkan Pak Jokowi. Ini masalah kesalahan kita sebagai bangsa. Kita harus berani mengoreksi diri. Kita salah jalan,” ucap Prabowo di debat kelima tersebut.

Prabowo lalu merujuk kestabilan harga pangan yang hingga kini tak kunjung terselesaikan. Ini memang bukan hanya salah Presiden Jokowi, tetapi, setidaknya ada upaya pemerintah untuk meluruskannya.

Menurutnya, Indonesia yang sudah berjalan puluhan tahun, sudah salah jalan dalam menangani persoalan ekonomi. Tidak ada salahnya Bangsa Indonesa meniru Tiongkok dalam upaya membangkitkan ekonomi bangsa di kurun waktu yang terbilang tak lama.

“Seperti Tiongkok, 40 tahun menghilangkan kemiskinan. Saya tidak menyalahkan Bapak, ini kesalahan kita semua. Kita harus kembali ke UUD 1945 Pasal 33,” imbuh Prabowo serius.

Tak kalah menarik ketika Sandi membawa ‘oleh-oleh’ kampanyenya dari daerah. Bahwa rakyat sekarang hidupnya megap-megap karena harga pangan mahal, lapangan kerja sulit, listrik mencekik. Sandi tak lupa menyebut sejumlah nama yang mengeluh tentang itu.

Sandi juga melempar pertanyaan serius terkait neraca perdagangan yang minus. Calon Wakil Presiden Nomor Urut 02 ini mengatakan neraca dagang Indonesia di tahun 2018 mengalami defisit US$ 8 miliar. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) realisasi ekspor Indonesia sepanjang 2018 mencapai US$ 180,06 miliar. Sedangkan, impor tercatat sebesar US$ 188,63 miliar.

Artinya, neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2018 defisit sebesar US$ 8,63 miliar. Selain itu, defisit neraca perdagangan tersebut menjadi yang paling besar setelah tahun 1975 yang mencapai US$ 8,57 miliar.

Pertanyaan menohok ini membuat Jokowi ‘terusik’. Ia kemudian menyebut angka (neraca perdagangan) di awal 2019 yang sedikit membaik. Jokowi juga menyebut apa yang disampaikan Sandi dengan mengutip sejumlah orang yang mengeluh, tidak bisa dijadikan ukuran. “Karena yang dibicarakan ekonomi makro,” katanya.

Padahal, saat itu, Sandi jelas-jelas menyebutnya sebagai contoh, misalnya bagaimana orang mengeluh listrik mahal. Di sini yang tidak terjawab. Karena itu, Prabowo-Sandi berjanji segera mengoreksinya, menurunkan tarif listrik dalam 100 hari kerja.

Beres? Belum. Tak kalah menarik saat Jokowi diberi kesempatan bertanya. Ia bertanya soal Mobile Legend, e-sport, perkembangan game online di bidang ekonomi. Di sini Prabowo menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin. Ia memberikan kepada Sandi yang dinilai lebih ahli.

“Siap Pak Presiden,” katanya.

Sandi pun menjabarkan dengan gamblang. E-sport adalah sektor berkembang yang berpeluang bisa meningkatkan minat ekonomi kreatif milenial.

“Kami akan memfasilitasi, pemerintah bekerja sama dengan rumah siap kerja, kita akan membuka event agar ada juara-juara dunia, tapi jangan sampai generasi kita merusak akhlakul karimah,” tegasnya.

Untuk itu, Sandi membuat istilah generasi POP, yaitu positif, optimis dan produktif. Prabowo lalu menimpali dengan konkret. Ia menyebut bahwa perkembangan dunia digital bagus dalam hal peningkatan ekonomi. Namun demikian, Prabowo menilai ada hal yang lebih penting yang seharusnya dipikirkan oleh pemerintah.

Prabowo tampak tidak ingin debat hanya diisi dengan istilah-istilah asing, tetapi melupakan masalah krusial yang menjadi kebutuhan dasar rakyat.

“Fokus saya nanti ke hal mendasar yang menjawab kebutuhan pangan, peningkatan pertanian, lindungi nelayan, guru honorer,” kata Prabowo serius. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.