JAKARTA | duta.co – Cawapres nomor urut 01, Jokowi benar-benar marah. Alasannya 4,5 tahun dirinya mengaku difitnah-fitnah, dijelek-jelekkan, dicela, direndah-rendahkan, dihujat-hujat, dihina dan diam. Tetapi, hari ini, di Jogja dia berjanji akan melawan. Dua kali Jokowi dengan suara ‘pas-pasan’ akan melawan. “Ingat, ingat, sekali lagi, akan saya lawan!,” tegasnya menggebu-gebu.

Kemarahan Jokowi ini disebut lantaran kekalahan sudah di depan mata. Bahkan survei-survei yang mengunggulkan dirinya, diketaui hanya tim hore ABS (Agar Bapak Senang). Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Priyo Budi Santoso mengatakan hasil survei Litbang Kompas disebut sebagai tanda alam.

“Ya tanda alam ini. Tanda alam dan angin perubahan yang susah dibendung,” kata Priyo di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Sabtu (23/3) malam.

Survei terbaru Litbang Kompas menunjukkan, elektabilitas Prabowo-Sandi semakin naik (37,4 persen), sementara Jokowi-Maruf turun hingga di bawah 50 persen (49,7 persen).

Namun di sisi lain, Priyo memberi catatan kepada beberapa lembaga survei yang dinilai hanya menjadi tim hore alias teridentifikasi sebagai simpatisan paslon petahana.

“Kami sudah lama tahu dan memetakan sebagian lembaga survei itu menjadi bagian dari tim hore kubu sebelah,” ujar Priyo.

Bahkan, sambung Sekjen Partai Berkarya itu, para relawan pun sudah diberikan pemahaman soal mana lembaga survei yang dianggap partisan sehingga hasilnya diklaim, diharapkan sama sekali tidak akan mempengaruhi pilihan mereka.

“Kami sudah umumkan kepada seluruh lini relawan se-Indonesia mupun jalur-jalur mesin partai dan para caleg dari Koalisi Adil Makmur bahwa pengumuman survei-survei tersebut tidak ngaruh,” demikian Priyo.

Jokowi Sudah Kalah

Suko Sudarso, tokoh senior Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia ITB (GMNI–ITB) bahkan sudah menyebut Jokowi sudah kalah. Dalam dua kali debat Pilpres, Jokowi sebenarnya sudah kalah dan tidak punya pamor lagi karena tidak punya visi-misi , strategi dan ideologi untuk membangun bangsa Indonesia.

“Jokowi tidak mengerti masalah, tidak mengerti reformasi agraria dan pasal 33 UUD45, orientasinya hanya membangun di Indonesia, bukan membangun bangsa Indonesia,” demikian tokoh nasionalis sejati ini.

Akibatnya, bangsa Indonesia diambang kehancuran, Neoliberalisme semakin menggila dan kita dipaksa jadi bangsa kuli dan jongos bagi kekuatan asing. Ini berbeda dengan Prabowo yang ingin membangun kedaulatan pangan, energi, air dan keuangan agar mandiri sesuai cita-cita Proklamasi 1945.

Menurutnya, di bawah Jokowi lima tahun ini, bangsa Indonesia makin miskin, lemah dan dijajah, tergantung pada asing dan menjadi bangsa terhina di Asia Tenggara. Data Jokowi di debat pilpres ngawur, asal ngomong, hanya menunjukkan pembangunan fisik dan pembagian sertifikat tanah yang tidak menyelesaikan masalah.

Sekarang, ekonomi jeblok, utang bertumpuk lebih dari 5200 trilyun rupiah dan daya beli rakyat ambruk, Jokowi tidak pantas menjadi pemimpin nasional karena tidak kompeten dan membuat bangsa kita terhina di Asia dan jauh menyimpang dari Trisakti dan konstitusi 1945, sangat memalukan.

Bangsa Indonesia sudah 74 tahun merdeka, artinya rakyat semakin paham siapa yang harus dipilih untuk memimpin negeri ini. Faktanya, rakyat ingin berubah, dan perubahan pimpinan nasional tidak bisa dibendung. (kft,rmol)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.