Tampak Jokowi saat mendapat gelar Jokowi Jancukan (foto kri) dan Peserta Seminar Akal Sehat (FT/kanan). (RIDHO)

SURABAYA | duta.co —  Presiden Jokowi yang juga Capres nomor urut 01 dalam orasi politiknya di acara deklarasi dukungan Farum Alumi Jatim #01 di depan Tugu Pahlawan Surabaya, Sabtu (2/2/2019) mengatakan, bahwa, Indonesia adalah negara besar yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dari Mianga sampai Pulau Rote.

Ini bukan negara  kecil, sebab kita miliki 260 juta penduduk, tersebar di 34 provinsi, 514 kabupaten/kota dan 17 ribu pulau yang dimiliki Indonesia.

Mengelola negara ini, kata Jokowi, tidak mudah, karena Indonesia juga memiliki perbedaan-perbedaan (keaneragaman) suku, agama, tradisi dan bahasa daerah sehingga diperlukan pengalaman dalam memerintah dalam sebuah pemerintahan negara besar.

“Pengalaman itu perlu, saya pernah belajar hampir 2 tahun dari dunia bisnis masuk ke dunia pemerintahan itu beda semuanya dan tidak mudah jadi pengalaman ini merupakan satu-satunya hal yang sangat penting dalam kita melihat siapa yang kita pilih, selain juga hal-hal yang lain,” ungkap mantan Walikota Solo.

Ia mengaku mulai belajar pemerintahan saat menjadi Walikota Solo, kemudian meningkat ke level yang lebih besar yakni menjadi Gubernur DKI Jakarta yang luas wilayah dan penduduknya lebih besar daripada Kota Solo yang berpenduduk 600 ribu jiwa.

“Artinya ada tahapan-tahapan dari bawah kemudian ke tengah kemudian mengelola sebuah negara. Jadi penting sekali pengalaman dalam pemerintahan itu,” tegas Jokowi.

Dalam mengelola negara juga perlu melihat keragaman dan perbedaan yang kita miliki. Apabila kita bisa mengelola ini dengan baik maka itu bisa menjadi kekuatan yang besar. “Bahkan Indonesia bisa masuk 5 besar ekonomi terkuat di dunia,” beber mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Alumni perguruan tinggi adalah kaum intelektual, oleh sebab itu Jokowi mengajak kaum intelektual bisa melawan banyaknya fitnah, hoax yang lalu lalang di media sosial. Cara berpolitik haruslah yang mendidik, penuh tata krama, keadapan, sopan santun.

Probelmnya adalah ada tim sukses yang menyiapkan sebuah propaganda yang namanya propaganda Rusia, dimana setiap saat selalu mengeluarkan semburan-semburan fitnah, dusta, hoaxs.

“Ini yang harus dilurukan oleh bapak ibu sekalian sebagai kaum intelektual yang saya meyakini arek-arek Suroboyo dan Jatim iku pasti wani,” dalih Jokowi disambut teriakan Jokowi Wani dari perserta yang hadir.

Ia juga meminta Forum Alumni Jatim#01 secara door to door mau menyampaikan mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang betul dan mana yang tidak betul. Jangan dibolak-balik yang benar menjadi tidak benar dan yang salah dibalik menjadi benar.

Selain Pencitraan Omong Kosong

Sementara salah seorang purnawirawan TNI AU dalam forum Seminar Akal Sehat yang digelar Koran Duta Masyarakat, Sabtu (2/2/2019) di Graha Astranawa, mengeluh dengan sulitnya mengurus sertipikat tanah.

“Kalau ke mana-mana dia bagikan sertipikat (katanya) gratis, omong kosong semua. Saya ini korban, sudah bayar semua sampai sekarang sertipikat juga tidak keluar,” demikian lelaki itu berdiri tegak di depan peserta seminar.

Di samping dirinya, temannya yang bernama Efendy juga demikian. Menurutnya, pembagian sertipikat gratis itu hanyalah pencitraan. Bukan sebuah kebijakan untuk meringankan beban wong cilik. “Buktinya sampai sekarang urusan sertipikat saya belum juga jadi,” tegasnya. (ud)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.