KH Ghozi Wahib Wahab.

SURABAYA | duta.co – Meski usianya relatif sepuh, tetapi, semangatnya untuk ikut menegakkan khittah Nahdlatul Ulama (NU), tak pernah surut. Itulah KH Ghozi Wahib Wahab, cucu almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah yang kini tinggal di Jawa Tengah.

KH Ghozi, demikian akrab dipanggil, merasa plong ketika menyaksikan KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) cucu almaghfurlah KH Hasyim Asyari dan KH Hasib Wahab Chasbullah, notabene putra almaghfurlah Mbah Wahab, mendirikan lembaga bernama Komite Khitthah NU 1926 (KKNU-26).

“Saya sudah tidak kuat menyaksikan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di tubuh NU. Malu rasanya kepada Mbah Hasyim dan Mbah Wahab, kalau sampai kita diam saja. Sisa-sisa usia ini, harus dihabiskan untuk meluruskan jalan perjuangan NU,” demikian disampaikan KH Ghozi, kepada duta.co, Ahad (28/6/2020) di Tambakberas, Jombang.

Masih menurut Kiai Ghozi, jihad warga NU sekarang adalah meluruskan tingkah oknum pengurus NU. Ini karena banyak pengurus NU yang tidak paham, bahkan berlawanan dengan misi perjuangan para muassis NU. Bahayanya, hal-hal yang bertolakbelakang dengan akhlaq para pendiri itu, dianggap sudah biasa.

Kiai Ghozi kemudian merinci akhlaq oknum pengurus NU yang dinilai memalukan. “Ada pengurus PBNU yang dengan entengnya berjabat tangan dengan lain jenis (wanita) yang bukan mahrom. Ini jadi tontonan umat. Ada juga video joget-joget (senam) pengurus di kantor NU. Banyak kiainya, bersama wanita bukan mahrom. Apa yang bergini ini dibenarkan. Malulah,” jelasnya.

Lalu, jelasnya, politisasi organisasi berjalan begitu vulgar dan meresahkan. “Lihat ketika Pilpres. Lha lucunya, begitu menang dan tidak mendapat jabatan, lalu marah. Di sini NU sudah dijadikan alat politik praktis. Kalau kita diam, tidak jihad menghentikan semua itu, lalu, nunggu siapa?” jelasnya.

Ia lalu mengambil contoh sikap PBNU terhadap RUU HIP. PBNU dinilai lambat, bahkan terkesan (awalnya) gamang, meski setelah dikaji, alasan yang disampaikan PBNU lebih mantap. “Tetapi masalah RUU HIP ini, tidak cukup hanya bersikap di atas kertas. Menghadapi ancaman bangkitnya komunisme, maka, NU harus berada di depan,” urainya.

Masih menurut Kiai Ghozi, belakangan NU sudah terkooptasi salah satu partai. Akibatnya, kalau ada pengurus yang tidak mendukung partai itu, dipersulit SK-nya. Ini sekarang yang dirasakan pengurus NU di bawah.

“Mau jadi apa organisasi ini? Sementara paham Islam ahlussunnah waljamaah yang harus dikembangkan, justru dimasuki paham Syiah, liberal. Saya berharap KKNU-26 yang dikawal dzurriyah muassis NU ini berhasil, bisa meluruskan oknum pengurus NU yang akhlaqnya justru bertalwan dengan NU,” tegasnya.

Harapan besar, memang, kepada Gus Solah. Tetapi, ketika Gus Solah kapundut, tongkat estasfet perjuangan KKNU-1926 diteruskan Gus Hasib, putra Almaghfurlah KH A Wahab Chasbullah. “Alhamdulillah, semangat tidak kendor. Semoga darah perjuangan Gus Solah terus mengalir digenerasi berikutnya. Saya yakin, perjuangan di KKNU-1926 ini merupakan jalan menuju surga Allah swt. Untuk Gus Solah, alfaatihah,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry