Panen buah jeruk jenis batu 55 di Desa Ngembal, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Kamis (2/7) siang. (DUTA.CO/Raffael)

PASURUAN | duta.co – Di masa pandemi Covid-19, petani jeruk di kawasan Desa Ngembal, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, bisa bersyukur, lantaran mereka masih merasakan panen jeruk yang selama ini diidamkannya. Jeruk jenis batu 55 yang ditanam ini, bisa panen 3 – 4 tahun, dengan masa produktif 25 tahun.

Jeruk yang juga dikenal ‘keprok punten’ ini, masa panennya bervariasi bisa seminggu dua kali. Hal ini juga tergantung buahnya. Tiap pohon jeruk ini, mampu bertahan di daerah tropis sedang. Disaat musim panas seperti saat ini, jeruk dengan bentuk besar agak lonjong, berbuah lebat tiap pohonnya.

Badan Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Kementerian Pertanian, Kamis (2/7/2020) memberikan bantuan sebanyak 750 ribu bibit jeruk kepada 7 ketua kelompok tani, dihadiri Ketua PKK Kabupaten Pasuruan, Lulis Irsyad dan anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Sugiarto.

Lulus Irsyad berharap dengan bantuan bibit jeruk ini bisa menggairahkan hasil produksi jeruk Ngembal.”Kita berharap potensi yang ada ditingkatkan. Jeruk ini bisa jadi ikon baru kabupaten pasuruan. Bahkan jeruk di sini bisa diperoleh di super market,” ujarnya, saat didampingi Kepala Balitjestro, Harwanto.

Seperti pengakuan Badrus (43) petani jeruk yang mulai merasakan panen setelah ia menunggunya sejak tahun 2016 silam. “Jeruk jenis batu 55 ini, kami menamnya sekitar 3 – 4 tahun. Dan hasil panennya cukup menggembirakan dan bisa dijual,” terang dia, saat ditemui DUTA.CO, di kebunnya, Kamis (2/7/2020) siang.

Menurutnya, selama ini jeruk Ngembal mulai dikenal masyarakat hingga tengkulak lokal dan luar daerah. Meski harganya per kilonya mencapai Rp 7 ribu, namun harga itu kata Badrus, sebatas eceran. “Kami bersama petani lain inginkan harganya bisa maksimal kembali ke depannya,” ujar Badrus.

Jenis batu 55, lanjut dia, mampu tumbuh di daerah cukup dingin di lereng Gunung Bromo ini. Bahkan jenis ini, disebut bisa tumbuh dengan baik dengan sistem tumpang sari dengan pohon durian yang banyak tumbuh di kawasan Desa Ngembal. “Selain itu tetap perhatikan jarak tanam dan pupuk,” ujarnya.

Badrus menambahkan, sebanyak 7 kelompok tani jeruk di desanya saat ini terus tingkatkan produksi, dibantu dari Balai Penelitian Pengembangan Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika dari Kementerian Pertanian. Ia berharap bantuan ini, mampu mendongkrak produksi jeruk yang ada di desanya.

Salah satu Mantri yang juga petugas penyuluh pertanian Kabupaten Pasuruan, Suyitno mengatakan, di wilayah Desa Ngembal ini, jeruk jenis batu 55 sudah ditanami di area 13 hektar. “Hasil dari buah yang dihasilkan cukup bagus meski harus ada tambahan-tambahan pupuk agar buahnya lebih bagus,” ucapnya.

Meski baru dikenal jeruk asal Ngembal ini, lantaran selama ini belum dibudidayakan secara maksimal, namun saat ini masyarakat mulai banyak yang tahu. “Memang dulunya sekitar tahun 1980 an, daerah disini terkenal dengan penghasil jeruk, tapi redup. Dan sekarang petani jeruk bangkit lagi,” papar Suyitno.

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, yang intens dengan masalah pertanian dan lingkungan, Sugiarto, berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan, gairahkan potensi sumberdaya alam ini. “Sehingga bisa dijadikan ikon jeruk Ngembal yang punya nama tersendiri,” harap Sugiarto. (raf)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry