SURABAYA | duta.co – Jebolan S2 Indonesia belum bisa langsung (diterima) masuk S3 di perguruan tinggi Jerman. Masih harus melalui penyetaraan. Demikian diungkapan Prof Dr Ing Hendro Wicaksono, dosen di Jacob University, Bremen – Jerman saat menyampaikan kuliah tamu di Fakultas Saintek UIN Sunan Ampel Surabaya (Rabu, 23/01/2019).

“Pemerintah Jerman mengkategorikan row input bagi calon mahasiswa S3 dari luar Jerman ke kampus di Jerman menjadi 3 kategori. Yaitu Kategori ‘Plus’, Kategori ‘Tanda Tanya’, dan Kategori ‘Minus’,” jelasnya.

Pemerintah Jerman atau perguruan tinggi di Jerman, menempatkan kampus di Indonesia dalam kategori ‘Tanda Tanya’. Sehingga lulusannya kalau ingin S3 di Jerman masih perlu melakukan proses penyetaraan, tidak bisa langsung diterima.

“Karena model S3 di sana langsung riset (tidak ada perkuliahan),” demikian Prof Hendro, yang juga Mustasyar PCI NU Jerman ini.

Perlu Loby dan Komunikasi

Oleh karena itu, dalam kesempatan bertugas ke Indonesia kali ini, Prof Hendro akan melakukan audiensi dengan pihak Kemristekdikti.

“Problemnya sebenarnya adalah pada loby dan komunikasi saja. Misalnya lulusan perguruan tinggi di Vietnam bisa kok, studi S3 di Jerman. Padahal secara rangking reputasi perguruan tinggi global, PT di Vietnam masih lebih baik perguruan tinggi kita, di Indonesia,” tambah Pria Kelahiran Waru Sidoarjo, yang menetap di Jerman ini.

Hendro dalam kesempatan ini sedang melaksanakan visiting professor ke UNU Surabaya atas support dari GIZ Jerman, selama tiga minggu dan berkesempatan silaturahim ke Fakultas Sains dan Teknologi UINSA dengan memberi kuliah tamu dengan tema “Integrasi riset dalam pembelajaran menyongsong revolusi indistri 4.0”, dan diakhiri dengan penandatanganan nota kemitraan antara FST UINSA dengan PCI NU Jerman.

“Beberapa waktu lalu, fakultas dakwah pernah melakukan kemitraan dengan PCI NU Belanda melalui KKN internasional. Kami berharap ada kemungkinan kemitraan Tridharma antara civitas akademika UINSA, khususnya Fak Saintek  untuk dapat berkolaborasi dengan entitas global, diantaranya kami inisiasi sebagai pintu masuk awal lewat NU Jerman,” papar Dekan Fak Saintek UINSA, Dr. Eni Purwati.

Sebagaimana diketahui, UINSA dan civitas akademikanya mentargetkan menjadi perguruan tinggi berskala global yang bervisi pada “Menjadi Universitas Islam yang unggul dan kompetitif bertaraf internasional”. (rls)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.