Suasana perbaikan jembatan darurat yang dilakukan oleh Dinas PUPR Jombang.

JOMBANG | duta.co — Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Jombang dalam sepekan terakhir tak hanya menyuburkan sawah, tetapi juga memutus urat penghubung antar desa. Jembatan yang menghubungkan antar kecamatan yakni Dusun Kempreng, Desa Laksari, Kecamatan Mojowarno, dengan Desa Tebel, Kecamatan Bareng, dilaporkan terputus setelah tak mampu menahan derasnya aliran air.

Jembatan sepanjang sekitar 11,5 meter dengan lebar 3 meter itu selama ini menjadi akses vital warga, terutama petani yang setiap hari melintas menuju lahan pertanian maupun mengangkut hasil panen. Putusnya jembatan sempat menghambat mobilitas warga dan aktivitas ekonomi desa.

Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jombang bergerak cepat. Pada Jumat (20/2/2026), tim PUPR bersama perangkat desa dan warga bergotong royong membangun jembatan darurat menggunakan bambu dan material sederhana lainnya, agar akses warga segera pulih meski bersifat sementara.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUPR Jombang, Imam Bustomi, menjelaskan kerusakan jembatan sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda sebelumnya.
“Awalnya kami melihat ada retakan di sisi utara dan sempat dilakukan perbaikan. Namun karena curah hujan tinggi, bagian selatan akhirnya jebol,” ujarnya kepada duta.co.

Menurutnya, pembangunan jembatan darurat menjadi langkah cepat agar aktivitas warga tidak lumpuh total. Infrastruktur tersebut sangat penting sebagai jalur penghubung utama masyarakat desa.

“Sementara kami gunakan bambu dan material lainnya supaya jembatan ini bisa kembali difungsikan sebagai akses warga, terutama para petani,” jelasnya.

Namun demikian, perbaikan permanen belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Bustomi mengakui, kerusakan yang terjadi secara mendadak membuat pembangunan ulang belum masuk dalam perencanaan anggaran tahun berjalan.
Ke depan, jembatan tersebut tidak hanya akan diperbaiki, tetapi juga ditingkatkan kapasitasnya agar lebih kuat dan representatif.

“Kalau dibangun permanen, rencananya akan diperlebar sekitar 4 sampai 6 meter dengan panjang sekitar 13 meter, sehingga bisa dilalui kendaraan dan memungkinkan simpangan mobil,” terangnya.

Dengan mekanisme perencanaan dan penganggaran yang ada, pembangunan permanen diperkirakan baru dapat direalisasikan pada tahun 2027. Sementara itu, warga berharap jembatan darurat ini cukup kuat menopang aktivitas sehari-hari. Bagi masyarakat desa, jembatan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan penghubung kehidupan antara sawah dan rumah, antara kerja dan harapan. Ketika ia putus, yang terhenti bukan hanya langkah kaki, tetapi juga denyut ekonomi rakyat kecil. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry