JOMBANG | duta.co – Pemerintah memperbolehkan salat tarawih berjamaah di masjid dan musholla. Kebijakan ini, lama dirindukan umat Islam, terutama menghadapi Ramadhan 1442 H. Di tengah pandemi, diyakini ibadah semakin tenang, khusyuk dan berkualitas.

“Alhamudlillah! Kami kembali bisa mengirim santri-santri terlatih untuk menjadi imam salat tarawih di berbagai daerah. Hari ini, Pondok Pesantren Salafiyah Hamalatul Qur’an (PPS HQ) melepas calon imam tarawih satu malam satu juz,” demikian disampaikan ustadz M Taufiqur Rohman, SQ Kepala Sekolah PPS HQ ‘Ulya’, Selasa (6/4/21) malam.

Pelepasan santri tahfidz ini, bersamaan dengan acara akhirussannah atau penutupan kegiatan tahun ajaran 1441/1442 H, Pondok Pesantren Salafiyah Hamalatul Qur’an Kecamatan Jogoroto yang bermaskas di Dusun Kemirigalih, Desa Sawiji.

Di sini, jenjang sekolah dimulai wustha (SMP) dan Ulya (SMA) sejak tahun 2018 yang bertempat di Lembaga Pendidikan Al Manshuriyah Hamalatul Qur’an, satu lokasi dengan SDIT Taswirul Afkar.

“Selain pelepasan santri tahfidz, malam ini juga digelar festival Aquran dan Seni. Luar biasa, semangat anak-anak kita, juga dukungan orangtua. Kalau melihat kecintaan anak-anak terhadap Alquran ini, masa depan terlihat cerah,” tambah Ustadz M Taufiqu.

Acara ini juga mendapat dukungan dari para alumni PPS HQ. Tidak sedikit alumni ikut hadir memberikan dukungan ‘keberanian’ menjadi imam tarawih satu malam satu juz. “In sya Allah, anak-anak sudah terlatih dan memiliki hafalan yang baik,” demikian salah seorang pengurus pondok dan jajaran pendidik M Bisri Mustofa SPd.

Hal yang sama disampaikan Kepala Sekolah Ulya, H Muhtazuddin, SH sekaligus Penasehat PPS HQ. Menurut Kaji Muh, panggilan akrabnya, tarawih satu malam satu juz ini, tengah menjadi trend di masyarakat kita. Seperti biasa, PPS HQ selalu mengirimkan santri-santrinya untuk berkiprah di masyarakat.

“Ternyata, setelah mengikuti tarawih satu malam satu juz, rata-rata jamaah semakin senang. Meski ada juga yang membatasi pada waktu-waktu tertentu, misalnya, di awal puasa karena masih kuat-kuatnya, dan akhir ramadhan karena jamaahnya pilihan,” jelasnya.

Kepada para calon imam salat tarawih, Ustadz M Taufiq berpesan, agar santri tidak seperti ayam mati di lumbung padi. “Pesan orang tua dulu, ini selalu saya ingat, kita tidak boleh bodoh atau malas belajar di tengah para ustadz yang banyak ilmunya. Karena itu harus terus semangat belajar,” katanya.

Kalau ada yang tidak paham, segera bertanya. “Jangan seperti ayam mati di lumbung padi. Anda semua masih ditunggui kiai-kiai mumpuni. Ada pengasuh PPHQ Pusat, Kiai Haji Ainul Yaqin yang siap menjawab segala persoalan,” jelasnya.

Acara pelepasan imam satu malam satu juz, disamping ditutup dengan pemberian hadiah kepada santri berprestasi, juga dilakukan hafalan lima Juz-an, murokobah satu juz-an, dan tahajjud dengan makro’ setengah juz-an. (muh)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry