
“Munas dan Konbes akan menjadi lebih bermakna apabila tidak hanya menghasilkan keputusan organisatoris, tetapi juga melahirkan komitmen bersama membumikan pemikiran Mbah Hasyim.”
Oleh Bey Arifin*
MENJELANG pelaksanaan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, perhatian warga Nahdlatul Ulama tidak hanya tertuju pada pembahasan isu-isu strategis keumatan, kebangsaan, dan organisasi.
Lebih dari itu, forum ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali fondasi pemikiran yang diwariskan oleh KH. M. Hasyim Asy’ari sebagai ruh perjuangan NU.
Munas dan Konbes merupakan forum tertinggi setelah Muktamar yang memiliki peran strategis dalam merumuskan arah kebijakan organisasi serta memberikan respons terhadap berbagai persoalan kontemporer.
Karena itu, setiap keputusan yang dihasilkan idealnya tidak hanya berangkat dari kebutuhan sesaat, tetapi juga berpijak pada manhaj dan tradisi keilmuan yang telah dibangun para pendiri NU. Di sinilah pentingnya diseminasi pemikiran Hadratussyaikh.
Pemikiran Hadratussyaikh tidak hanya berbicara tentang persoalan fikih dan pendidikan pesantren, tetapi juga tentang bagaimana umat Islam menghadapi perubahan zaman dengan tetap menjaga prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jamaah.
Dalam konteks saat ini, ketika NU dihadapkan pada tantangan digitalisasi, kecerdasan buatan, perubahan budaya generasi muda, isu lingkungan, ekonomi umat, hingga dinamika geopolitik global, gagasan-gagasan Hadratussyaikh tetap relevan sebagai kompas moral dan intelektual.
Penyelenggaraan Munas dan Konbes di lingkungan pesantren memiliki makna simbolik yang sangat kuat. Pesantren merupakan ruang lahirnya tradisi keilmuan NU sekaligus tempat bertumbuhnya nilai-nilai adab, tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (tegak lurus).
Karena itu, forum di Ploso Kediri dapat menjadi momentum untuk meneguhkan kembali hubungan antara pengambilan kebijakan organisasi dengan khazanah pemikiran ulama pesantren.
Diseminasi pemikiran Hadratussyaikh juga menjadi kebutuhan mendesak dalam proses regenerasi. Generasi muda NU saat ini hidup di tengah banjir informasi yang sering kali menghadirkan pemahaman keagamaan yang instan dan terputus dari tradisi sanad keilmuan.
Jika warisan intelektual Hadratussyaikh tidak terus dikaji, ditulis ulang, didigitalisasi, dan disebarluaskan melalui media yang dekat dengan generasi muda, maka akan semakin lebar jarak antara generasi penerus dengan akar pemikiran NU.
Karena itu, salah satu agenda strategis yang layak didorong dalam Munas dan Konbes mendatang adalah penguatan gerakan diseminasi pemikiran Hadratussyaikh secara sistematis dan berkelanjutan.
Bentuknya dapat berupa pengembangan pusat studi pemikiran Hadratussyaikh, digitalisasi karya-karya beliau, penguatan kurikulum Aswaja di pesantren dan perguruan tinggi, peningkatan literasi digital warga NU, hingga produksi konten edukatif yang mampu menjangkau Generasi Z dan Generasi Alpha.
Dengan demikian, Munas dan Konbes NU di Ploso Kediri bukan hanya forum untuk membahas berbagai persoalan aktual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat kesinambungan antara warisan para muassis dengan tantangan masa depan. Sebab kekuatan NU selama ini tidak hanya terletak pada besarnya organisasi, melainkan pada kemampuannya menjaga kesinambungan antara tradisi, pemikiran, dan gerakan.
Munas dan Konbes di Ploso akan menjadi lebih bermakna apabila tidak hanya menghasilkan keputusan-keputusan organisatoris, tetapi juga melahirkan komitmen bersama untuk membumikan pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari sebagai fondasi NU dalam memasuki Muktamar dan perjalanan abad kedua Nahdlatul Ulama.




































