CIREBON  | duta.co – Menjelang gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, langkah silaturahmi terus ditempuh Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib.

Kiai yang akrab disapa Gus Salam melakukan safari ke sejumlah pengasuh pondok pesantren sebagai bagian dari ikhtiar batin sekaligus memohon doa restu para masyaikh atas niatnya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.

Dalam safari ke kediaman Kiai Imam Jazuli di Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, Gus Salam didampingi sejumlah kiai muda dan pengasuh pesantren dari berbagai daerah, di antaranya KH Hasan Syukri Zamzami Mahrus Lirboyo, KH Muhammad Ma’mun Mahfudz Alfalah Ploso, KH Lukman Hakim Hamid AlHamid Cilangkap, serta KH Abdul Mu’id Lirboyo.

Bagi Gus Salam, perjalanan tersebut bukan sekadar agenda politik organisasi, melainkan ruang sowan untuk menyerap pandangan, nasihat, dan harapan para ulama demi masa depan Nahdlatul Ulama yang tetap teduh, bersatu, dan berpijak pada tradisi keilmuan pesantren.

Safari silaturahmi kali ini dilakukan ke kediaman tokoh muda NU, Pengusaha sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia di Cirebon, Jawa Barat, KH Imam Jazuli. Kehadiran Gus Salam disambut hangat langsung oleh Kiai Imam Jazuli dalam suasana penuh kekeluargaan dan khidmat.

Sebagai sesama kiai muda, Gus Salam mengaku memiliki kedekatan dan keakraban yang sudah lama terjalin dengan Kiai Imam Jazuli. Menurutnya, Kiai Imam merupakan sosok ulama yang visioner dengan berbagai idealisme dan gagasan besar yang terus diperjuangkan untuk kemajuan umat serta dunia pesantren.

“Beliau ini tokoh muda NU yang memiliki pandangan jauh ke depan. Idealisme dan misi beliau dalam membangun transformasi pesantren dan pemberdayaan umat menjadi inspirasi bagi banyak kalangan,” ujar Gus Salam.

Tak hanya itu, Gus Salam juga menilai Kiai Imam Jazuli sebagai ulama sederhana khas pesantren yang tetap membumi di tengah kiprah dan pemikirannya yang luas. Kesederhanaan itulah yang, menurutnya, justru melahirkan pemikiran-pemikiran cemerlang dan penuh kebermanfaatan bagi umat.

“Kesederhanaan beliau mencerminkan watak asli pesantren. Namun di balik kesahajaan itu, beliau memiliki gagasan dan pemikiran yang sangat cemerlang,” imbuhnya.

Gus Salam juga memberikan apresiasi atas inisiatif Kiai Imam Jazuli yang menggagas Workshop Transformasi Pesantren bagi 5.000 pengasuh pondok pesantren se-Indonesia sepanjang tahun 2026. Menurutnya, program tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas pesantren agar tetap adaptif menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai tradisinya.

“Ini ikhtiar besar yang patut diapresiasi. Pesantren harus mampu bertransformasi, tetapi tetap menjaga ruh keilmuan, akhlak, dan tradisi yang menjadi kekuatannya selama ini,” tutur Gus Salam.

Pertemuan tersebut berlangsung sederhana namun sarat makna. Di tengah perbincangan para kiai, mengalir harapan agar Muktamar NU ke-35 nantinya dapat melahirkan kepemimpinan yang mampu menjaga marwah jam’iyah, merawat persatuan umat, sekaligus memperkuat peran pesantren di tengah tantangan zaman yang terus berubah.

Kehadiran para masyaikh itu menjadi gambaran bahwa tradisi silaturahmi dan musyawarah di tubuh NU tetap hidup dan terjaga. Di tengah dinamika menuju muktamar, para kiai memilih merawat komunikasi dengan penuh adab dan kesejukan, sebagaimana tradisi pesantren yang selama ini menjadi ruh perjalanan Nahdlatul Ulama. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry