
JOMBANG | duta.con — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), suara tentang arah kepemimpinan organisasi kembali mengemuka. Kali ini, pesan tersebut datang dari keluarga pendiri NU, KH Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab.
Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, MA, salah satu putri Mbah Wahab, menyampaikan bahwa warga NU membutuhkan kepemimpinan yang teduh, mampu mengayomi dan memberikan keteladanan.
“Kepemimpinan PBNU harus mencontoh kepemimpinan Kiai Hasyim, Kiai Wahab dan Kiai Bisri,” pesan Nyai Hj. Hizbiyah dalam acara Bedah Buku dan Talkshow di Aula MAN 3 Jombang, Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Sabtu (8/8).
Kegiatan yang digelar Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU) tersebut mengangkat tema “Khittah NU, Kiai, dan Pesantren: Merawat Moderasi, Menjaga NKRI”. Forum ini menjadi salah satu rangkaian kontribusi alumni untuk turut menyukseskan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung 27–31 Agustus 2026 di PPBU Tambakberas, Jombang.
Buku karya Prof. Dr. Drs. HM. Zainuddin, BA., MA., Rektor UIN Malang periode 2021–2025, menjadi bahan utama diskusi. Buku tersebut mengulas relasi Khittah NU, kiai dan pesantren serta tantangan NU menghadapi perubahan global.
Khittah NU Jangan Berhenti Jadi Dokumen
Pemantik acara, Prof. Dr. H. Nur Ali, menegaskan bahwa Khittah NU tidak boleh hanya dipahami sebagai dokumen politik-kebangsaan yang lahir dari Muktamar NU 1984 di Situbondo.
Lebih dari itu, Khittah harus menjadi kompas dalam menentukan arah gerakan NU sekaligus menjadi landasan etik dan moral warga Nahdliyin.
“Khittah NU bukan sekadar dokumen politik-kebangsaan tahun 1984 di Situbondo. Khittah harus menjadi kompas, dasar dan arah berpikir serta landasan etik dan moral warga Nahdliyin, termasuk peserta Muktamar NU ke-35,” ujarnya.
Menurut Nur Ali, kiai memiliki posisi penting sebagai pengawal nilai-nilai NU, sedangkan pesantren menjadi laboratorium kaderisasi. Namun, keduanya dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan masyarakat global.
“Kiai sebagai pengawal NU dan pesantren sebagai laboratoriumnya harus mampu bertransformasi sesuai kebutuhan masyarakat global,” katanya.
NU Butuh Road Map Lima Tahun
Sementara itu, Prof. Zainuddin mengatakan bukunya mencoba membaca ke mana arah NU di era global. Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah terjadinya pergeseran peran kiai di tengah masyarakat.
Selain membahas posisi kiai, buku tersebut juga mengulas masa depan pesantren serta bagaimana NU, kiai dan pesantren dapat terus merawat tradisi dan moderasi dalam menjaga NKRI.
Sejumlah catatan kritis dalam buku itu sekaligus menawarkan solusi atas berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat, pesantren dan lingkungan NU.
Menurut Prof Zainuddin, Muktamar ke-35 harus menghasilkan rumusan yang jelas mengenai masa depan organisasi, termasuk soal kepemimpinan dan program kerja.
“Maka perlu dirumuskan hal-hal yang menyangkut NU ke depan, yaitu bagaimana mempersiapkan pemimpin NU pada Muktamar mendatang, dan bagaimana merancang program lima tahunan ke depan atau road map,” kata Prof Zainuddin.
Fathul Huda: Copy Paste Keberanian Mbah Wahab
Sementara H. Fathul Huda, Bupati Tuban dua periode (2011–2021) yang juga alumni MMA Bahrul Ulum, mengajak generasi muda NU kembali belajar dari sosok Mbah Wahab.
Menurutnya, Mbah Wahab merupakan figur yang memiliki kecerdasan, energi perjuangan dan keberanian dalam mengambil sikap.
“Al-Mar’u Ma’a Man Ahabba, seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Apa yang dilakukan Mbah Wahab itu sudah komplit, baik kecerdasan beliau, enerjik dan pemberani mengambil sikap. Itu yang harus kita copy paste sebagai santri,” tegasnya.
Ia menilai karakter tersebut penting diwarisi generasi penerus NU agar organisasi tidak kehilangan keberanian dalam menghadapi perubahan zaman.
IKABU Jadikan Muktamar Momentum Refleksi
Bedah buku dan talkshow ini merupakan inisiatif para alumni Bahrul Ulum yang kini berkiprah sebagai pengasuh pesantren, guru besar, akademisi maupun praktisi.
Forum tersebut tidak sekadar menjadi ruang diskusi intelektual, tetapi juga momentum refleksi menjelang Muktamar NU ke-35 di Tambakberas.
IKABU ingin mengambil bagian dalam menyukseskan Muktamar dengan mendorong diskusi mengenai arah NU, masa depan pesantren, kaderisasi kepemimpinan serta penguatan nilai moderasi dan kebangsaan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum Yayasan PPBU KH Abdur Rozaq Sholeh, Ketua Majelis Pengasuh PPBU Dr. KH Hasib Wahab Hasbullah, Kepala MAN 3 Jombang H. Sutrisno, S.Pd., M.E., M.Pd., Ketua Panitia Prof. Dr. Hj. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag., serta Prof. Dr. Drs. H. Nur Ali, M.Pd., yang juga Ketua Ikatan Alumni MAN 3 Jombang PPBU Tambakberas dan Ketua Senat UIN Malang. (din)





































