
CIREBON | duta.co — Tren pembicaraan mengenai siapa sosok Kiai yang paling ideal sebagai pemimpin PBNU jelang Muktamar ke-35 NU sudah mulai banyak atensi publik. Salah satu nama yang mencuat adalah Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim.
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH. Imam Jazuli, bukan tanpa alasan nama KH. Asep Saifuddin Chalim ideal untuk memimpin PBNU. Setidaknya, kata Kiai Imam, ada beberapa faktor utama yang membuat Kiai Asep menjadi figur paling ideal untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
Kiai Asep merupakan putra pendiri NU dengan darah pejuang. Sosok Kiai Asep tidak hanya dikenal sebagai pembaharu dalam NU, tetapi memiliki akar historis yang jauh lebih kuat.
“Kiai Asep adalah putra KH. Abdul Chalim, salah satu ulama pendiri NU dan sahabat perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah. KH. Abdul Chalim berperan besar dalam sejarah NU sebagai Sekretaris II, sementara KH. Abdul Wahab Hasbullah menjabat sebagai Sekretaris I,” kata Kiai Jazuli, Ahad (25/1/2026).
Tak hanya itu, lanjut dia, KH. Abdul Chalim juga merupakan tokoh yang diutus dalam Komite Hijaz, misi diplomatik NU ke Arab Saudi untuk mempertahankan situs-situs bersejarah Islam dari kebijakan Raja Abdul Aziz bin Saud.
“Sebagai satu-satunya putra pendiri NU yang masih aktif berjuang menggerakkan NU, Kiai Asep memiliki kecintaan mendalam terhadap organisasi pewaris para nabi ini,” ungkap Kiai Imjaz, sapaan akrabnya.
Dalam dunia organisasi, lanjut Kiai Imam, Kiai Asep juga telah berproses di IPNU, PMII, Ansor dan mengabdi di NU sejak tingkat Ranting hingga menjadi Ketua PCNU Surabaya dan Ketua PP PERGUNU (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) sejak 2011.
“Kiai Asep adalah santri tulen yang telah menempuh pendidikan di berbagai pesantren terkemuka, antara lain, Pesantren Cipasung, Jawa Barat, Pesantren Sono, Sidoarjo, Pesantren Siwalanpanji, Sidoarjo, Pesantren Gempeng, Bangil, Pesantren Darul Hadits, Malang, dan Pesantren Sidosermo, Surabaya, pun jejak aktifitas berorganisasi di NU dimulai dari bawah,” katanya.
Kiai Asep adalah sosok pendidik tranformatif yang mampu mendirikan pesantren bertaraf internasional. “Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Mojokerto dan Surabaya, Kiai Asep berhasil membangun sistem pendidikan berbasis pesantren yang bertaraf internasional,” katanya.
Saat pertama kali menggagas pendirian Amanatul Ummah, banyak pihak, termasuk KH. Said Aqil Siradj, merasa pesimis karena lokasi yang dianggap terpencil. Namun kini, pesantren tersebut berkembang pesat dan menampung lebih dari 10.000 santri, dengan prestasi akademik yang diakui hingga tingkat internasional.
“Beliau tokoh besar yang sukses melakukan berbagai eksperimen peradaban melalui lembaga pendidikan yang dikelolanya. NU membutuhkan figur penggerak pendidikan seperti beliau,” ujarnya.
Pemimpin yang Dibutuhkan
“Di tengah kegaduhan dan krisis kepemimpinan yang terjadi sekarang di PBNU, saya melihat bahwa Kiai Asep adalah tokoh yang bisa diterima semua kalangan dan dipastikan dapat menyelesaikan kisruh ini dan mengembalikan PBNU ke ruh dan cita awal didirikannya oleh para muassis NU,” tegas pengasuh pondok BIMA Cirebon.
Dengan rekam jejaknya yang panjang, Kiai Asep dinilai bukan hanya memiliki darah perjuangan NU, tetapi juga kapasitas intelektual, pengalaman organisasi, serta visioner dengan jaringan yang kuat di dunia pendidikan dan pemerintahan, menjadikannya figur paket lengkap Rais Aam PBNU 2026-2031.
“Banyak pihak percaya bila kepemimpinan Rais Aam di bawah Kiai Asep akan membawa NU kembali pada khittah perjuangan para pendirinya, sekaligus memperkuat peran NU, berkhidmat untuk umat dalam memajukan Indonesia di berbagai bidang strategis,” pungkas Kiai Imjaz. (*)






































