KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) akan menyampaikan Pandangan Umum tentang pentingnya menegakkan khitthah NU. (FT/Ant)

SURABAYA | duta.co – Halaqah Komite Khitthah 1926 Nahdlatul Ulama (KK26-NU) kembali digelar. Memasuki halaqah kesembilan, acara digelar di Gedung Pertemuan Batik Pekajangan, Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (17/7/2019).

Ratusan kiai pesantren Jawa Tengah siap hadir, selain dari Jawa Barat, Jawa Timur dan Jakarta. Bahkan sejumlah generasi muda NU yang tergabung dalam Semut-Semut Khitthah Nahdlatul Ulama (SKhNU) akan meramaikan jalannya halaqah.

“Semangat para kiai menegakkan khitthah NU semakin mantap. Halaqah kesembilan di Pekalongan ini menjadi lebih kuat. Pertama, karena semakin mendekati muktamar ke-34 NU. Kedua, tidak ada lagi kecurigaan-kecurigaan politik seperti dulu. Tidak ada istilah 01 dan 02. Yang ada semangat mengawal (khitthah) NU agar jamiyah ini selalu melayani umat, bukan menguasai umat,” demikian Prof Dr H Ahmad Zahro, MA, yang selama ini didapuk sebagai moderator halaqah KK-26 NU kepada duta.co, Senin (15/7/2019).

Sementara H Agus Solachul A’am Wahib, cucu Mbah Wahab Chasbullah, mengatakan, bahwa, KK-26 NU yang diketuai KH Salahuddin Wahib (Gus Solah) ini harus menjadi lokomotif untuk membenahi NU, yakni menegakkan khitthah NU, mengembalikan jalur perjuangan NU yang kini sudah bergeser jauh.

“NU hari ini sudah dijadikan alat merebut kekuasaan. Ini nyata, bukan katanya katanya. Karena itu, dibutuhkan sosok yang bisa mengamankan NU dari syahwat politik para pengurusnya. Kami bersyukur, selain Gus Solah banyak dzurriyah muassis NU yang terlibat di dalamnya,” jelas Gus A’am Wahib panggilan akrabnya.

Menurut Gus A’am Wahib, KK-26 NU tidak hanya diisi para kiai sepuh. Kini banyak anak muda yang ikut serta memperkuat gerakan kembali khitthah NU. Di Yogyakarta misalnya, kini hadir “Semut-Semut Khitthah Nahdlatul Ulama”. Sebuah perkumpulan Pemuda-Pemudi Nahdliyin, yang berikhtiar mensosialisasikan Khitthah NU, mereka mendorong pemimpin dan warga NU untuk benar-benar meresapi serta mengamalkan Khitthah organisasi.

“Mereka ini yakin dengan tegaknya Khitthah NU, jamiyah ini akan menjadi faktor utama keberhasilan Negara Kesatuan Republik Indonesia mencapai cita-citanya. Perkumpulan mereka ini dikenal dengan sebutan SKhNU,” tambahnya.

Penggagas SKhNU adalah Ahmad Muzzammil, pengasuh Pondok Pesantren Rohmatul Umam, Jl. Parangtritis KM. 22, Tegalsari, Donotirto Kretek, Bantul, Yogyakarta. Sebuah Pondok Pesantren Salaf yang terintegral dengan Pendidikan Kurikulum Nasional, yaitu: KB, TK, SD, SMP, SMA dan Madrasah Diniyyah Arrohmah.

Gus Ahmad Muzzammil (dua dari kiri) pengasuh Pondok Pesantren Rohmatul Umam, penggagas SKhNU. (FT/SKhNU)

Dia murid al-Maghfurlah KH. Thabrani bin Abd. Aziz (Bangkalan) dan Hadlaratussyaikh KHR. As’ad Syamsul Arifin Asembagus Situbondo. Dia juga santri KH Abd Muchit Muzadi, Gus Yusuf Muhammad (Jember), KH Maksum Syafi’i, KH Muchtar Syafaat, dan KH. Dailami (Banyuwangi), KH Hasan Abd Wafi dan KH Abd Wahid Zaini (Paiton Probolinggo) dll.

“Gerakan anak muda ini akan memperkuat KK-26 NU. Harapannya dari muktamar ke-34 nanti, NU benar-benar dikendalikan sosok yang berpikir untuk umat. Bukan sibuk dengan lobi-lobi kekuasaan seperti yang terjadi sekarang ini,” tegasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.