Almaghfurlah Mbah Wahab (dok.foto kiri) dan nara sumber sarasehan (dari kiri) drg Hj Ulfah Mashfufah MKes dari Wahab Chasbullah Foundation, Cak Anam dan H Mun'im DZ. (FT/muhtazuddin)

JOMBANG | duta.co — Menarik! Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kebupaten Jombang, Rabu (17/3/21) menggelar sarasehan bertajuk “Meneladani Mbah Wahab, Membangkitkan Spirit Perjuangan Lewat Tulisan”. Dari sini, terkuak jelas, jejak Mbah Wahab sebagai jurnalis.

Dari Bumi Jombang lahir tokoh-tokoh nasional bahkan internasional. Salah satu Ormas Islam dengan jamaah terbesar, Nahdlatul Ulama (NU), pun tidak bisa lepas dari kata Jombang.

NU yang ‘memilih’ lahir di Kertopaten, Surabaya (1926) adalah besutan para kiai kharismatik asal Jombang. Diyakini kawasan Kertopaten, saat itu, berada dalam ‘genggaman’ KH Abdul Wahab Chasbullah, ulama besar yang kini dikenal sebagai kiai multi talenta.

“Jombang memang unik. Dari bumi terpencil ini, telah lahir tokoh-tokoh nasional, bahkan internasional yang mengukir peradaban dunia. Dari Mbah Hasyim (almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari-Tebuireng red), Mbah Wahab  (almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah-Tambakberas), Mbah Bisri (almaghfurlah KH Bisri Syansuri-PP Denanyar), lahirlah Nahdlatul Ulama yang telah mewarnai peradaban dunia,” demikian Yusuf Wibisono, moderator sarasehan mengawali acara yang digelar PWI Kebupaten Jombang, di Pendopo Kabupaten, Rabu (17/3/21).

Hadir dalam sarasehan yang dibuka oleh Bupati Jombang, Mundjidah Wahab, disaksikan Wabup Sumrambah, Ketua DPRD Jombang, Mas’ud Zuremi dan anggota Forkopimda Jombang, serta Kepala OPD Pemkab Jombang ini, adalah H Choirul Anam dan Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ. Kedua dikenal sebagai sejarawan NU.

“Uniknya lagi, sarasehan yang diawali pelantikan pengurus PWI Jombang periode 2021-2024 ini, menghadirkan narasumber paling fasih bicara soal sejarah NU, sejarah Mbah Wahab, dan itu orang Jombang sendiri. Kiai Mun’im ini orang Jombang pinggiran, begitu juga Cak Anam. Termasuk  Bu Nyai Ulfa (Sekretaris Umum Muslimat NU, drg Hj Ulfah Mashfufah MKes) yang hari ini mewakili Kiai Wahab Chasbullah Foundation,” tambah Yusuf.

Cak Anam, sedikit menyinggung soal sejarah Jombang, Ijo (hijau) dan abang (merah). Artinya, karakter orang Jombang itu, memiliki keyakininan agama yang kuat. Dan, merah, berani. Tidak mudah menyerah. Orang Jombang juga punya darah bangsawan. “Tidak heran, kalau kemudian Bupati Jombang itu, berasal juga keluarga besar kiai, darah biru, seperti Bu Nyai Mundjidah Wahab,” tegas Cak Anam.

Selain itu, Dewan Kurator Museum NU ini, juga menyebut tokoh-tokoh hebat yang lahir di bumi santri ini. Dari Cak Durasim, pemrakarsa perkumpulan ludruk di Surabaya, yang terkenal dengan “Pagupon omahe doro, melu Nippon tambah soro” sampai musisi Gombloh dengan lagunya Kebyar-kebyar:  Indonesia . Merah Darahku, Putih Tulangku, yang terus dinyanyikan seantero Nusantara.

“Ada lagi Asmuni (Srimulat) yang terkenal dengan banyolannya ‘Hil yang Mustahal’. Juga Cak Nur (Nurcholish Madjid) yang terkenal dengan ‘Islam Yes, Partai Islam No’. Gus Dur yang pemikirannya mewarnai dunia, bahkan sampai sekarang makamnya tak pernah sepi oleh peziarah dari seluruh penjuru negeri ini. Ada juga Cak Nun (Emha Ainun Nadjib-Menturo Sumobito) yang dikenal kritis terhadap pemerintah. Semua kehebatan orang Jombang ini, harus diwarisi oleh generasi penerus,” tambahnya.

Mantan Wartawan TEMPO dan Pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU ini, juga mengapresiasi sarasehan yang digelar PWI. Terlebih jika kawan-kawan wartawan di Jombang berkenan untuk mendalami kehebatan para tokoh yang lahir di bumi Jombang.

“Studi literasi ini bisa membangkitkan semangat perjuangan lewat tulisan. Dari Mbah Wahab Chasbullah misalnya, kita bisa belajar banyak bagaimana beliau berdiplomasi, bagaimana beliau menulis, memanfaatkan media mssa, dan bagaimana konsistensi beliau sebagai kiai,” tegasnya.

Pemikiran Mbah Wahab, bukan hanya dikenal di Timur Tengah, tetapi juga mewarnai Perang dingin, sebuah persaingan ideologi yang terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Hal ini disampaikan H Abdul Mun’im DZ, termasuk sikap pemberani (syaja’ah), bagaimana menaklukkan anjing besar (herder) milik Van Der Plas, sang orientalis yang pernah menjadi Konsul di Jeddah Saudi Arabia dengan nama pengganti Snouck Hurgronje. (Bersambung)

Laporan: Muhtazuddin

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry