ABAIKAN AD/ART NU: Jokowi dan pimpinan partai pendukung menjadikan Rais Aam PBNU Kiai Ma'ruf sebagai Cawapres tanpa ada musyawarah kiai. (FT/tirto)

SURABAYA | duta.co – Perbincangan seputar penampilan debat perdana Cawapres 01 KH Ma’ruf Amin tak kunjung usai. Meski barisan Ketua TKN Erich Thohir sibuk memberi nilai plus, nyatanya pemirsa debat punya nilai sendiri, jeblok.

“Kiai Ma’ruf terlihat belum lepas dan seolah masih terbebani. Akhirnya, Pak Jokowi seperti berjuang sendiri. Ini berbeda dengan Prabowo yang terbantukan Sandi,” demikian Surochim Abdussalam, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo kepada duta.co, Jumat (18/1/2019).

Analisa politik Surochim ini bertolak belakangan dengan otak-atik politik Ketua Dewan Penasehat PB PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah), Drs H Choirul Anam (Cak Anam). Adalah salah kalau mengukur sukses Jokowi dari penampilan Kiai Ma’ruf.

Mengapa? “Karena pencomotan Kiai Ma’ruf dari Rais Aam PBNU, itu bukan untuk kepentingan elektabilitas. Untuk apa? Mungkin saja ada kepentingan lain yang belum dibuka untuk umum. Dan yang paling tahu adalah Presiden Jokowi sendiri,” jelas Cak Anam panggilan akrabnya.

Karena itu, lanjutnya, semua pihak harus bisa menahan diri, dan jangan coba-coba menyudutkan kesediaan Kiai Ma’ruf sebagai pendamping Capres Jokowi. “Sekali lagi bukan untuk kepentingan elektabilitas. Capres Jokowi sudah aman, sudah pasti terpilih. Justru yang menjadi masalah sekarang adalah internal NU itu sendiri,” tambahnya.

Masih menurut Cak Anam, pencomotan Kiai Ma’ruf sebagai Cawapres, ini paradox dengan zaman presiden sebelumnya, bahkan zaman Presiden Soeharto. Dulu sangat menghormati dan menghargai NU sebagai ormas keagamaan. Bahasa anak muda, caranya, kelewat kasar.

“Saya katakan ‘dicomot’ karena Capres Jokowi tidak mau mendengar suara para ulama NU terlebih dulu. Juga tidak mau mempertimbangkan aturan main (khitthah maupun AD/ART) yang ada di NU, yang melarang Rais Aam mencalonkan diri dan dicalonkan dalam pemilihan jabatan politik apapun,” tegasnya.

Akibatnya, jelas mantan Ketua GP Ansor Jatim ini,  sampai saat ini pimpinan tertinggi NU (Rais Aam) menjadi kosong melompong, karena Kiai Ma’ruf ‘ditukartempatkan’ menjadi Musytasar (penasehat PBNU).

“Memang, Kang Said (Kiai Said Aqil Siroj red.) mencoba mengangkat Wakil Rais Aam (KH Miftakhul Akhyar) menjadi Pejabat Rais Aam. Tapi itu tidak ada aturannya dalam AD/ART NU. Tidak ada pasal yang membolehkan Wakil Rais Aam menggantikan Rais Aam yang tukar tempat ke Musyatasar,” jelasnya.

Pasal yang membolehkan adalah jika Rais Aam berhalangan tetap (artinya meninggal dunia seperti yang terjadi di zaman Rais Aam KH Bishri Syansuri dan Rais Aam KH Sahal Mahfud).

“Jadi, kalau sekarang Kiai Mif diangkat menjadi Pejabat Rais Aam, itu sama halnya  mengakali aturan yang tertera dalam ‘kitab suci’ jam’iyah NU,” urainya.

Inilah akibat yang terjadi di internal NU saat ini. Presiden Jokowi mestinya memahami hal ini. “Tapi sebagai orang awam, saya juga tidak tahu apakah memang presiden boleh mencomot orang semaunya sendiri untuk dijadikan pendamping?” tanyanya.

Yang jelas, kini, tim JKN Jokowi-Kiai Ma’ruf lebih sibuk. Romahurmuziy, Anggota Dewan Penasihat tim kampanye Jokowi-Kiai Ma’ruf,  kepada tempo.co dua hari sebelum debat sudah mengatakan: “Secara persiapan, Kiai Ma’ruf disiapkan political gimmick, marketing gimmick. Kami beri pembekalan,” ujar Romi, di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019.

Menurut Romi, Kiai Ma’ruf memang membutuhkan gimik politik khusus. Sebab, kata dia, debat nantinya merupakan ajang show off bagaimana Ma’ruf harus tampil meyakinkan di hadapan publik. “Itu kan butuh gimik tersendiri,” ucapnya.

Kata ‘Gimmick’ sendiri sering diartikan sebuah upaya atau cara yang digunakan untuk menarik perhatian orang atau untuk menjual sesuatu. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gimmick atau /gi.mik. n/, adalah ‘Seni gerak-gerik tipu daya aktor untuk mengelabui’ lawan peran. Terjemahan nakalnya ‘strategi mengemas dusta’.

Itulah sebabnya, berita tentang Kiai Ma’ruf menjadi ‘timbul tenggelam’. Media sosial begitu santer mengirim komentar miring. Ada yang menyebut hilangnya chemistry pasangan nomor urut 01. Bahasa tubuh Jokowi tidak sehangat dulu dengan kiai, mantan Rais Aam PBNU itu tampak tidak nyaman, bahkan muncul kesan tidak diajaknya diskusi Jokowi.

Kalau Majalah Tempo membuat cover Jokowi memanggul Kiai Ma’ruf untuk pasang lampu yang tidak juga kesampaian, Koran Tempo tak kalah lugas, bikin sampul memoles Kiai Ma’ruf dari berbagai sudut, lalu Menteri Luhut Binsar Panjaitan meminta Kiai Ma’ruf turun lapangan, Ketua TKN Erich Thohir meminta Kiai Ma’ruf segera bergerak untuk menaikkan elektabilitas.

Terakhir yang paling gres, Erich dan Capres Jokowi bertemu  koalisi parpol pengusung tanpa Kiai Ma’ruf. Bahkan ulama sepuh NU ini dikabarkan datang ikut pertemuan, tapi Erich bilang tidak ada tempat duduk. Belum lagi berita dan opini yang tersebar di medsos, yang menyudutkan ulama asal Banten yang disimpulkan menjadi beban Capres Jokowi.

Inikah yang disebut ‘strategi mengemas dusta’? Waallahu’alam! (zal,net)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.