(Gambaran Ekstasi Spiritual saat Bai’at Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, pada Suluk Ramadhan 1447 H)

Oleh: Abdur Rahman El Syarif

PAGI itu, 10 Ramadhan 1447 Hijriah, langit Jakarta masih menyisakan lembayung fajar. Sisa-sisa keheningan selepas sahur dan qiyamul lail menggantung di udara, seolah waktu sendiri enggan beranjak dari kesyahduan bulan suci. Di antara desir napas para pencari Tuhan, ruang suluk menjadi saksi lahirnya sebuah permulaan, bukan sekadar peristiwa, melainkan jejak awal menuju cahaya.

Dalam suasana yang hening, hanya diiringi bisikan tasbih dan gemericik air wudhu yang masih terasa di jemari, beberapa ikhwan baru duduk bersimpuh dengan hati yang bergetar. Mata terpejam, dada berdebar, dan jiwa seakan sedang berdiri di ambang pintu perjalanan panjang menuju Allah.

Di pagi yang bening dan penuh keheningan spiritual ini, beberapa ikhwan baru resmi diterima sebagai anggota Keluarga Besar Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah Sedunia, melalui tangan seorang mursyid yang ilmunya memancar dari ketenangan dan keluhuran batin, yakni Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, Pengasuh Pondok Pesantren Pasulukan Al Masykuriyah, Batu Ampar, Jakarta.

Di hadapan beliau, dengan kesadaran penuh dan hati yang tunduk, para salik mengikrarkan bai’at, janji suci untuk menempuh jalan para pencari Tuhan, jalan para salik, jalan yang dipenuhi zikir, khalwat, dan istiqamah. Dengan lafal yang telah diwariskan oleh para masyayikh agung, mursyid membimbing dengan sabar:

أُبَايِعُكَ عَلَى الذِّكْرِ وَالْخَلْوَةِ وَالتَّوْبَةِ وَالِاسْتِقَامَةِ وَعَدَمِ الْعَوْدِ إِلَى الْمَعَاصِي وَعَلَى السَّيْرِ إِلَى اللهِ عَلَى مَنْهَجِ مَشَايِخِنَا فِي طَرِيقَةِ النَّقْشَبَنْدِيَّةِ الْخَالِدِيَّةِ، فَهَلْ قَبِلْت؟

Ubayi‘uka ‘ala adz-dzikri wal-khalwati wat-tawbati wal-istiqāmah wa ‘adami al-‘aud ilā al-ma‘āshī wa ‘ala as-sayri ilallāh ‘ala manhaji masyāyikhinā fī Tharīqatin Naqsyabandiyyatil Khālidiyyah. Fahal qabilta?

Artinya: “Aku membaiatmu atas dzikir, khalwat, taubat, istiqamah, tidak kembali kepada maksiat, dan berjalan menuju Allah di atas manhaj (metode) para masyayikh kami dalam Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah. Apakah engkau menerima?”

Dan serentak menggetarkan ruangan suluk, para ikhwan baru menjawab dengan sepenuh jiwa:

“Qabiltu.”, artinya, ” Ya, saya menerima dengan sepenuh jiwa”, jawab para ikhwan disertai dengan isak tangis haru karena jiwa seakan sedang berhadapan langsung dengan Syeikh Bahauddin An Naqsyabandi, Sahabat Nabi Abu Bakar As Siddiq, dan Rasululullah SAW melalui Sang Mursyid KH. Ali Masykur Musa.

Kalimat pendek itu mungkin terdengar ringan di telinga orang biasa, namun bagi seorang murid thariqah, ia adalah sumpah jiwa, permulaan dari perjalanan panjang untuk mematikan ego, menghidupkan qalbu, dan melebur dalam samudra tauhid.

Bai’at ini bukan sekadar formalitas keanggotaan, melainkan pengikatan diri kepada silsilah para wali, dari Mursyid kami hingga Sayyidinaa Abu Bakar ash-Shiddiq RA, bahkan sampai ke hadirat Baginda Nabi Muhammad SAW.

Para salik sadar, jalan ini bukan jalan yang mudah. Ia penuh ujian, pengorbanan, dan kadang sepi. Namun, dengan keberkahan sanad yang bersambung, bimbingan mursyid yang haq, dan ikatan ruhani dengan para salik terdahulu, mereka memulai langkah ini dengan tawadhu, niat yang jernih, dan harapan penuh, semoga kelak Allah memperkenankan menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang mencapai ma’rifah, fana dalam cinta-Nya, dan hidup dalam cahaya keabadian.

Inilah catatan pertama para ikhwan baru yang datang dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor, Bandung, Pati Jawa Tengah, Madura, Tulung Agung, Kendari, Sulawesi Tenggara, Bukittinggi Sumatera Barat dan daerah lain pada Suluk Ramadhan 1447 H ini. Dengan niat yang jernih, harapan yang lirih, dan doa yang tak terucap:

“Semoga setiap detik setelah bai’at ini menjadi derap langkah menuju ridha-Nya. Semoga perjalanan ini berujung pada ma’rifah. Dan semoga hati ini kelak fana dalam cinta-Nya.”

Jakarta, 10 Ramadhan 1447 H
Jum’at Kliwon, 27 Februari 2026
Pukul 06.47 WIB

*) Penulis adalah Murid Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah

#JejakAwalMenujuCahaya
#NaqsyabandiyahKhalidiyah
#SulukRamadhan1447H
#PasulukanAlMasykuriyah
#KHAliMasykurMusa

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry