JEGLONGAN SEWU : Ratusan truk pasir hilir mudik mengakibatkan rusaknya akses jalan umum di Plosoklaten (duta.co/Nanang Priyo)

KEDIRI| duta.co – Entah berapa lama lagi warga Plosoklaten bisa menikmati jalan yang bagus, tidak berlubang. Tidak hanya berlubang, untuk bisa melalui salah satu akses jalan menuju Gunung Kelud ini harus berbagi dengan ratusan bahkan ribuan truk pasir yang naik dan turun dalam setiap harinya.

Bisa dibayangkan bagaimana kondisi jalan dan ruwetnya. Sehingga tidak salah bila banyak yang memberi julukan Jeglongan Sewu atau lubang jalan yang rusak mencapai ribuan .

Yang jelas sebelum Erupsi Gunung Kelud  13 Februari 2013, keberadaan truk pasir hilir mudik terus berlangsung. Kini, dipastikan jumlahnya kian bertambah bila melihat iring – iringan truk bermuatan material ini hingga mengilas aspal dan menghancurkan jalan – jalan di pedesaan.

Warga di Kecamatan Plosoklaten dan Puncu pun akhirnya berteriak, mereka berharap pihak pemerintah daerah untuk mengulurkan tangan. Pun demikian, aparat penegak hukum tidak menutup mata dan hidungnya atas kerusakan sarana jalan, menjadikan akses masyarakat.

“Saya juga tidak tahu, mereka apa dikenakan pajak daerah. Jika membayar pajak, tentunya pemerintah tidak usah bingung bila untuk memperbaiki jalan yang rusak,” jelas Wakidi, warga Desa Sepawon Kecamatan Plosoklaten, saat dikonfirmasi Sabtu (13/1).

Berdasarkan pantauan di lapangan dan dibenarkan warga setempat, truk tersebut juga merusakkan jalanan desa. Mereka beroperasi hingga 24 jam, dan seolah tidak peduli bahwa jalan yang setiap hari mereka lewati meninggalkan lubang mengganga.

Tidak terhitung berapa banyak korban kecelakaan akibat terjebak lubang di bahu jalan. Tak terhitung pula kecelakaan antara truk pasir dengan pengendara umum lainnya. Selain jalan dipenuhi lubang, rumah warga yang dilewati dipenuhi debu.

“Seharusnya tidak usah mengadu, bila para pemimpin atau wakil rakyat membuka hati nurani, mungkin pengaduan kami kini sudah basi,” ungkap Wawan, tinggal di area PTPN XII Ngrangkah Sepawon.

Terhembus angin segar, bila pemerintah akan melakuka perbaikan jalan pada Bulan Maret nanti, namun bila kemudian truk pasir ini tidak diawasi dan diatur sesuai peraturan angkutan jalan dan lalu lintas, mungkin hanya isapan jempol saja.

“Meski diperbaiki total tapi jika truk pasir tidak diatur dan diawasi sesuai peraturan angkutan jalan dan lalu lintas, ya buang – buang uang rakyat. Harusnya ditindak jika melebihi tonase, kemudian diberikan aturan yang tegas serta jelas,” terang Abah Sulchan, sapaan akrab Ketua DPD GMPK Kediri Raya, Sulchan M. Noer mensinyalir ada main mata, keberadaan truk pasir ini dengan oknum aparat yang berwajib.

Bila kemudian penambangan pasir ini bisa menjadi tambahan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan membuka lapangan kerja seluas – luasnya kepada warga setempat, tentunya kasus yang berlangsung puluhan tahun ini, bisa terselesaikan dengan baik.

“Tinggal meluangkan waktu sejenak, berbicara kepada rakyat dan bersama – sama menyukseskan program pemerintah. Bukan diam saat, warga disuguhi jeglongan sewu,” terang Aktifis Anti Korupsi. (nng)

 

Tinggalkan Balasan