Ridzky Prihadi Tjahyanto, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim (kanan) bersama Pelaksana Kegiatan Business Matching JCFF, Fernanda Reza Muhammad dari Akademi Mudah Ekspor (AME) melihat aneka jenis kopi dalam business matching di ajang Java Coffee and Flavors Festival 2026, Sabtu (18/7/2026). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Ajang Java Coffee and Flavor Festival (JCFF) yang diinisiasi oleh Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPw) Jawa Timur menghadirkan kegiatan business matching berskala internasional. Langkah ini ditujukan untuk memfasilitasi para pelaku usaha industri kopi dalam memperluas akses pasar ke ranah global.

Pihak Pelaksana Kegiatan Business Matching JCFF, Fernanda Reza Muhammad dari Akademi Mudah Ekspor (AME),  mengungkapkan  kolaborasi erat telah terjalin dengan 18 Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) di seluruh Indonesia. Kerja sama ini mempertemukan para pelaku usaha kopi dalam negeri dengan jaringan pembeli (buyer) potensial.

“Kegiatan business matching kali ini diikuti oleh 85 pelaku usaha se-Jawa. Sektor yang dipamerkan tidak terbatas pada komoditas kopi (seperti arabika, robusta, dan liberika), melainkan juga mencakup produk teh dan rempah-rempah (spices),” ujarnya saat kegiatan, Sabtu (18/7/2026).

Ajang ini menarik antusiasme tinggi dari sejumlah buyer internasional, di antaranya yang berasal dari Prancis, Nigeria, Yordania, Australia, Singapura,  Malaysia dan China.

Meskipun permintaan pasar domestik dan internasional terhadap kopi Indonesia terus melonjak, industri ini dihadapkan pada tantangan penurunan volume hasil panen tahun ini.

Dikatakan Reza, penurunan produktivitas tersebut dipicu oleh faktor perubahan iklim global yang berdampak pada keterbatasan bahan baku.

“Kondisi ini menyebabkan harga kopi di tingkat petani mengalami kenaikan karena hasil output berkurang sementara permintaan terus meningkat. Ini menjadi tantangan sekaligus perebutan bahan baku bagi para pelaku usaha roastery dan pengolahan (processing) kopi lokal dengan buyer besar,” katanya.

Menyiasati dinamika tersebut, strategi pemasaran difokuskan pada penguatan edukasi komitmen pasokan. Pihak penyelenggara memberikan jaminan kredibilitas dengan memastikan bahwa seluruh pelaku usaha yang terlibat dalam pameran dan showcase (mencapai 50 UMKM) telah memiliki kepastian stok yang sesuai dengan kesepakatan dagang. Langkah ini diambil guna menjaga reputasi komoditas Indonesia di mata para investor dan mitra internasional.

Perwakilan dari PT Latansa Adiguna Perkasa, Muhammad Ramadhan mengatakan pihaknya mendapatkan pesanan kopi untuk dikirim ke Yordania.

“Di Yordania kebanyakan kopi berasal dari Brasil dan Vietnam. Mereka mencari alternatif rasa baru, salah satunya dari Indonesia. Kopi Indonesia khususnya Kopi Sumatra sudah mulai dikenal dan masuk ke jaringan kafe global di sana seperti Starbucks,” jelasnya.

Ramadhan mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang sudah  menyelenggarakan JCFF 2026. Acara ini berhasil memangkas jarak antara pelaku usaha di luar negeri dengan para supplier dan pemilik usaha lokal, sehingga proses diskusi produk, negosiasi harga, dan kerja sama bisa dilakukan secara langsung (face-to-face).

Ridzky Prihadi Tjahyanto, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim menambahkan komoditas kopi menjadi salah satu sorotan utama dalam mendorong performa ekspor nasional.

Secara akumulatif, Pulau Jawa memproduksi sekitar 111.000 ton kopi per tahun, dengan rincian kontribusi terbesar dari  Jawa Timur sebanyak 49 ribu ton, Jawa Tengah 32 ribu ton dan Jawa Barat 28 ribu ton.

‘Tingginya potensi ini terlihat dari permintaan ekspor dari para buyer internasional yang mencapai angka Rp 64 miliar. Namun, tantangan besar yang saat ini dihadapi adalah kapasitas produksi domestik dan pelaku UMKM yang masih terbatas untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut. Oleh karena itu, sinergi pendanaan dari perbankan dan instrumen surat berharga dinilai sangat krusial untuk mendongkrak kapasitas produksi,” jelasnya.

Selain meningkatkan kuantitas, Bank Indonesia bersama kementerian terkait, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kota terus mendorong para pelaku usaha agar tidak hanya mengekspor biji kopi mentah (green beans), melainkan mulai beralih ke produk olahan (processed beans) yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan UMKM, Bank Indonesia juga menggelar pameran dan kegiatan business matching yang melibatkan sekitar puluhan UMKM binaan se-Jawa.

Melalui penguatan sektor riil dan optimalisasi produk-produk unik khas nusantara, ekonomi domestik diharapkan dapat terus melaju dan membawa produk lokal naik kelas di kancah global (global horizon). lis

.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry