Keterangan foto barometer.com

JAKARTA  | duta.co – Berita barometerjatim.com tentang Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj bersyukur, karena NU berandil besar mengantarkan kemenangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019, mendapat tanggapan serius dari H Agus Solachul A’am, cucu pendiri NU, Almaghfurlah KH Wahab Chasbullah.

Apalagi, dalam berita itu, KH Said Aqil Siroj (Kiai SAS) terang-terangan mengatakan, bahwa, ada agenda untuk menghancurkan NU sebelum tahun 2024. Nah! Tahun 2024 sendiri adalah tahun pertarungan politik, Pilpres  2024.

“Benar! Yang disampaikan Kiai SAS di barometer (barometerjatim.com red.), itu benar. Bahwa NU sekarang dibenci banyak orang. Ini lantaran ulah PBNU sendiri yang, sibuk mencari musuh. Semua ini dampak dari politisasi organisasi. Masak gak paham?” jelas Gus A’am yang juga inisiator berdirinya Komite Khitthah 26 NU kepada duta.co, di Jakarta, Jumat (18/10/2019).

Seperti yang beredar. Barometerjatim.com mengunggah berita bertajuk: Ketum PBNU: Ada Agenda Hancurkan NU Sebelum 2024! Disebutkan dalam berita itu, KH Said Aqil Siroj bersyukur NU berandil besar mengantarkan kemenangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

“Sudah barang tentu andilnya NU sangat besar. Tanpa NU ikut bekerja, tidak mungkin atau jauh kalau Jokowi-Ma’ruf itu menang,” katanya saat acara silaturahim dan sarasehan di Gedung PWNU Jatim, Surabaya, Kamis (17/10/2019) malam.

“Akan tetapi setelah kita menang, eh.. tantangannya semakin besar. Seandainya kalah enggak begitu besar seperti ini,” sambung Kiai SAS.

Tantangan yang dimaksud Kiai Said, yakni ada pihak tertentu yang diklaimnya dongkol dengan andil besar NU dalam memenangkan Jokowi-Ma’ruf, sedang berupaya keras untuk menghancurkan NU sebelum Pilpres 2024.

“Kemarin kemenangan kita (Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019) kan 16 juta, dan target mereka akan dibalik tahun 2024, mereka yang menang 16 juta,” kata Kiai Said.

“Maka ‘biang keroknya’ NU, harus dihancurkan dulu sebelum 2024. Dan ini ketahuilah by design, pasti ada yang mendesain, ada konspirasi yang luar biasa,” tandasnya.

Apakah pihak yang dimaksud tersebut kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno atau ‘penumpang gelap’? “Pokoknya yang tidak senang NU, saya tidak bisa menyebut namanya. Kita semua merasakan,” elak Kiai Said.

Satu hal yang pasti, menurutnya, pihak yang berupaya menghancurkan Ormas keagamaan terbesar di Tanah Air tersebut semakin banyak, terang-terangan dan mereka bersatu.

“Kalau bisa sebelum 2024 NU harus.. bubar sih enggak, harus kocar-kacir, harus pecah, harus ora karu-karuan, berantakan, sebelum 2024,” ujarnya.

Tiga Tanda-tanda Itu

Menurut Gus A’am, apa yang disampaikan Kiai SAS, bisa bermakna ganda. Pertama, pengakuan dirinya sebagai orang yang menghancurkanNU ke kubangan politik praktis. Ini sangat jelas. Kedua, kepentingan untuk muktamar 34 NU mendatang (2020).

“Saya melihat ada target ke sana, agar muncul konsolidasi untuk mendukungnya di muktamar 34 nanti,” tegas Gus A’am.

Putra Menteri Agama RI ke-9 ini, justru sudah melihat tanda-tanda kehancuran NU sejak muktamar 33 di Alun-alun Jombang.

“Saya sudah melihat dengan nyata, tanda-tanda kehancuran NU, dan itu semakin terang benderang setelah muktamar 33 di Jombang,” tegasnya.

Tanda-tanda itu, jelas Gus A’am, sedikitnya ada 3. Pertama, terjadinya money politics. Muktamar ke-33 NU di Alun-alun tercatat sebagai muktamar terburuk dalam sejarah NU. Di situ ada premanisme sekaligus politik uang.

“Bahkan sampai sekarang ‘rekaman’ politik uang itu masih ‘diputar’ di pengadilan. Dalam kasus dana hibah KONI, ada pengakuan duitnya untuk muktamar di Jombang. Apa nggak sedih kita mendengarnya. Pernahkah Kiai SAS jelaskan soal ini?” tanya balik Gus A’am Wahib.

Kedua, adanya premanisme.  “Ada kiai yang dibentak-bentak Banser palsu. Selama organisasi NU berdiri, belum pernah ada cerita kiai dibentak Banser. Ini sangat memalukan dan memilukan,” tambahnya.

Ketiga, jelas Gus A’am, adalah penyusupan paham muktazilah di tubuh NU. Ada pembelokan Ahlussunnah. Kalau ini dibiarkan, NU akan berubah dari ahlussunnah menjadi muktazilah.

“Kiai-kiai sekarang sedang resah, karena menyaksikan penyelewengan paham keagamaan NU. Sumber pemikiran NU sekarang tidak hanya Alquran dan Sunnah,  tetapi juga akal dan realitas empirik. Ini harus diluruskan,” tambahnya.

Masih kata Gus A’am, penyimpangan paling nyata, adalah mengubah jalur perjuangan NU. Dari ashabul haq (penjaga kebenaran) menjadi ashabul qoror (pemangku kebijakan).

“Kiai SAS tidak sadar, bahwa, politisasi NU itu sama dengan menghancurkan NU. Jadi, tidak perlu menunggu Pilpres 2024. Sejak muktamar ke-33 di Jombang, NU sudah dihancurkan. Saat ini harus kita selamatkan. Dan nahdliyin perlu tahu, kami semua berharap kepada Gus Solah (KH Salahuddin Wahid red.) cucu almaghfurlah Mbah Hasyim Asy’ari untuk berada di garis depan,” tegasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry