Oleh : Kusumaningtyas

 

PADA 29 Novemver 2022 lalu Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jawa Timur,  Perwakilan Kementerian Keuangan  Provinsi jawa Timur  menggelar   konferensi  Pers Asset Liabilities Committee (ALCo) Regional Jatim.

Apa itu ALCo  Regional  Jawa  Timur  itu?  ALCo merupakan perwujudan sinergi pertukaran data dan informasi antar unit eselon I Kementerian  Keuangan yang ada di Provinsi Jawa Timur  dalam menyajikan data yang akurat terkait pelaksanaan APBN baik dari sisi penerimaan pajak, bea dan cukai, data PNBP pengelolaan aset maupun dari sisi belanja dan pengeluaran pemerintah.

Di samping itu  ALCo   Regional  Jawa  Timur  juga  merupakan  perwujudan sinergi implementasi  kebijakan  fiskal  pemerintah  pusat  dan  daerah  dalam  membangun  ekonomi  dan  meningkatkan  kesejahteraan  masyarakat  Jawa  Timur.

Jangan heran saat ALCo, kebijakan fiskal diuraikan secara lengkap oleh Kepala  Kanwil  DJPb  Provinsi  Jawa Timur, Taukhid, mulai update  kasus  Covid-19  dan  dampak  konflik Rusia-Ukraina,  kondisi  perkembangan  ekonomi  daerah,  hingga perkembangan  realisasi  APBN  Regional  dan  APBD  Konsolidasian.

Perkembangan  Covid-19  di  Jawa Timur misalnya, sampai akhir Oktober 2022   menurun  pada  kisaran 100-400  kasus per  hari dibandingkan  pada  akhir  September 2022  yang  mencapai  150-400  kasus per hari.

Namun  tetap  perlu  diwaspadai  penyebaran  varian  baru Covid Omicron XBB  yang  cenderung  meningkat  setiap harinya.  Risiko  telah  bergeser  dari  pandemi  Covid 19  ke  tekanan  ekonomi  global  yang disebabkan  antara  lain   melonjaknya inflasi  global,  pengetatan  likuiditas,  suku  bunga  tinggi dan  memanasnya  kondisi  geopolitik  dunia  yang berimbas langsung pada  perekonomian  Indonesia,  dan  secara  tidak  langsung  juga  berimbas  pada  perekonomian  Jawa Timur.

Kondisi  perkembangan  ekonomi  regional  Jawa Timur,  menunjukkan tingkat inflasi  bulan  Oktober  2022  sebesar  0,04% (m-to-m),  inflasi  tahunan , sampai dengan  Oktober  2022  sebesar 5,55% (y-to-d),   sementara  inflasi  tahun ke tahun   ( y-on-y)  mencapai  6,65%. Pada  bulan  Oktober  ini (m-to-m)  terdapat dua  Indeks Kelompok  Pengeluaran    sebagai  penyumbang  tingkat  inflasi  tertinggi,  yaitu  pada  kelompok  kesehatan  0,65%,  kelompok Penyediaan  makanan  dan Minuman  Restoran  0,38%   dengan  andil  pembentukan inflasi  kesehatan  sebesar 0,02%  dan  penyediaan  manmin/restoran  sebesar 0,03%.

Namun berdasarkan  inflasi y-on-y ,  indeks  kelompok  pengeluaran  terbesar  terjadi  pada  kelompok  transportasi  17,14%,  kelompok  penyediaan  manmin/restoran  sebesar  9,60%  dan  kelompok  manmin &  tembakau (MMT) sebesar 7,13%.  Tingginya inflasi  pada  kelompok transportasi (y-on-y)  karena dipicu  oleh kenaikan harga minyak yang diumumkan  pemerintah  pada  bulan  September 2022.

PDRB  Jawa Timur Triwulan III-2022  mencapai  Rp 700,59  Triliun  Atas Dasar  Harga  Berlaku (ADHK),  sedangkan PDRB  Atas  Dasar Harga  Konstan (ADHK) mencapai  Rp 447,54  triliun.  Apabila dibandingkan dengan  Triwulan II-2022,  perekonomian  Jatim  Triwulan III-2022 secara q-to-q  tumbuh  sebesar  2,15%,    sedangkan  secara  y-on-y  tumbuh sebesar 5,58%  dan  secara  kumulatif c-to-c  mencapai  5,53%.  Atas  capaian  tersebut perekonomian  Jawa Timur  Triwulan III-2022  memberikan  kontribusi  sebesar  13,8% pada  perekonomian  nasional  berdasarkan  ADHB  dan sebesar  15%  berdasarkan  ADHK.

Pada  sektor  Lapangan  Usaha,  pertumbuhan tertinggi   terlihat  pada  komponen  transportasi  dan  pergudangan,  yaitu  sebesar 8,05%,    sedangkan  berdasarkan  komponen  pengeluaran,  pertumbuhan  tertinggi  pada  komponen pengeluaran  konsumsi  pemerintah,  yaitu  sebesar 12,46%.

Ekspor  Jawa Timur  pada   bulan  Oktober 2022  secara m-to-m  mengalami  penurunan  sebesar 4,98%  dari  USD 2,04 miliar  menjadi  USD 1,93 miliar.  Sementara  secara  y-on-y,  nilai  ekspor  mengalami  kenaikan  sebesar 2,93%.  Sedangkan  Nilai  Impor  bulan  Oktober 2022  mencapai  USD 2,56 miliar  atau turun  sebesar 9,05%  dibandingkan  bulan  September 2022 (m-to-m),  namun  secara  y-on-y  meningkat  sebesar  1,78%.

Neraca  perdagangan  Jawa Timur  selama  bulan  Oktober 2022  mengalami  defisit  sebesar  USD 631,01 juta,   yang mana defisit  tersebut  disumbang  oleh  sektor  migas  sebesar USD 456,27 juta,  dan  USD 165,74 juta disumbang  oleh  sektor nonmigas.  Secara kumulatif  selama  Januari-Oktober 2022 (y-to-d)  neraca  perdagangan  Jawa Timur  juga  mengalami  defisit sebesar USD 7,85  miliar,  yang disebabkan  karena  defisit  pada sektor  migas  sebesar  USD 6,24 miliar  dan  defisit  sektor  nonmigas  sebesar USD 1,61 milyar.

Perkembangan  realisasi  APBN  Regional,  menunjukkan  bahwa  realisasi  pendapatan  negara  mencapai  Rp 204,88  triliun  atau  85,41%  dari  target  atau  tumbuh 20,98%  dibandingkan  periode yang sama  pada  tahun  sebelumnya (y-on-y).

Realisasi  penerimaan  pajak  mencapai  Rp 87,68 triliun  atau  sebesar  90,52%  dari  target,  dengan  rincian  penerimaan  Pajak Penghasilan  sebesar  86,01%,  penerimaan  PPN  sebesar  95,24%    yang  mencatatkan  sebagai  realisasi  penerimaan  tertinggi,  dan  penerima  Pajak  lainnya  sebesar  83,5%.

Sementara itu,   realisasi  penerimaan  bea dan  cukai  mencapai  Rp 111,33 triliun  atau  80,63%  yang ditopang pertumbuhan  penerimaan  cukai,  bea keluar,  dan  bea  masuk. Realisasi  PNBP  mencapai  Rp 5,87 triliun  atau  mencapai  118,52%   dari  target,  namun secara  nominal  turun 9,31%  dibandingkan  tahun  lalu.

Realisasi  belanja  negara   sampai  dengan  akhir  Oktober mencapai  Rp 101,32 triliun  atau sebesar  83, 16% ,  meningkat   0,37%  dibandingkan  periode yang sama  pada  tahun  lalu (y-on-y).  Realisasi  belanja  K/L  mencapai  Rp  33,25 triliun  atau  sebesar 71,79%  atau  turun  4,93%  dibandingkan  periode yang sama  pada tahun  lau  ( y-on-y). Jenis  belanja  K/L yang mengalami penurunan  adalah  belanja  barang  sebesar  0,23%,  dan  belanja  modal  sebesar 29,34%.

Realisasi  TKDD  sampai dengan  akhir  Oktober 2022  mencapai  Rp 68,07 triliun atau sebesar 90,13% ,  meningkat  sebesar  3,18%  dibandingkan  Tahun sebelumnya.  Peningkatan tersebut  ditopang  oleh  realisasi  Dana  Bagi  Hasil,  DAU,  DAK  Fisik  dan  Dana  Desa.

Sedangkan penurunan  belanja  barang  tersebut disebabkan   adanya  DAK  Non Fisik,  dan DID  yang  penyalurannya  baru  terlaksana  pada  bulan  Juli 2022.  Surplus  Anggaran  Regional  Jawa Timur  mencapai  Rp  103,56 triliun,  atau  tumbuh  sebesar  51,40&  dibandingkan  periode yang sama  pada  tahun sebelumnya ,  kondisi  ini  menunjukkan  signifikansi  kontribusi  perekonomian Jawa Timur  terhadap  perekonomian  nasional  dan  akselerasi  pemulihan  perekonomian  Jawa Timur

Sementara  itu,  realisasi  APBD  Konsolidasian   Jawa Timur  sampai  dengan  akhir  Oktober 2022   menunjukkan  bahwa  realisasi  pendapatan  daerah  konsolidasian  sebesar  Rp  101,42  triliun  atau  sebesar  87,03%  secara  nominal  tumbuh  positif  sebesar  2,04%  (y-on-y)  yang di  dominasi  oleh  pendapatan  transfer  pemerintah  pusat  (TKDD)  sebesar  Rp 68,07 triliun  atau  90,13%  dari  total  pendapatan  daerah.  Pendapatan  Asli  Daerah  (PAD) sebesar  Rp 32,20 triliun  dan  Pendapatan  Lainnya  sebesar  Rp 1,15 triliun.

Sedangkan Realisasi  Belanja  Daerah  Konsolidasian  mencapai  Rp  77,25 triliun  atau  sebesar  60,18%  ,  tumbuh sebesar 0,15% (y-on-y)  yang didominasi  oleh  komponen Belanja  Modal  sebesar  37,55% ,  realisasi  Belanja Bunga  sebesar  30,39%,  realisasi  Belanja  Subsidi  sebesar  32,32 %,  realisasi  Belanja Hibah  sebesar  66,21%,  belanja  Bansos  sebesar  56,81 %,  realisasi  Belanja  Tak Terduga  sebesar  13,10%  dan  realisasi  Belanja  Transfer  sebesar  66,35%.

Dengan  demikian  sampai  dengan  akhir  Oktober 2022,  terdapat  surplus APBD  Konsolidasi sebesar  Rp  24,17 triliun  atau  tumbuh  sebesar  8,62 %  dibandingkan periode  yang  sama  pada  tahun sebelumnya,  dan  terdapat  Pembiayaan  Netto  Daerah  sebesar  Rp  8,02 triliun,  yang  menghasilkan  akumulasi  SiLPA  sebesar  Rp  32, 19 triliun.

 

*Penulis adalah Kepala Bidang Supervisi KPPN dan Kepatuhan Internal (SKKI), Kanwil DJPb Provinsi Jawa Jatim

 

 

 

 

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry