
SURABAYA | duta.co – Juara World Barista Championship 2024, Mikael Jasin menyeduh kopi di main stage, Java Coffee and Flavors Festival (JCFF) 2026, di Alun-alun Surabaya, Jumat (17/2026).
Mikael meracik kopi lokal dari Malang untuk para undangan yang hadir. Racikan dari tangan juara dunia, dipuji mereka yang mencicipi.
“Saya pakai 20 gram biji kopi, digrinder halus. Lalu diseduh dengan air panas. Idealnya 15x dari volume kopi. Kalau saya pakai 20 gram berarti airnya 300 gram. Itu dibagi dua. Seduhan pertama 150 gram dan kedua 150 gram,” ujarnya.
Untuk lama penyeduhan itu kata Mikael, tergantung selera. Jika selera yang strong maka diseduh lebih dari dua menit. Namun jika ingin citarasa fruity maka seduhan jangan lebih dari dua menit.
Mikael mengaku menyeduh kopi, meracik kopi butuh dilatih terus menerus. Tidak boleh berhenti untuk mencoba dan berlatih keras. Apalagi mereka yang tertarik untuk ikut kompetisi barista internasional.
“Latihan sebanyak mungkin, sekeras mungkin agar bisa tampil di kompetisi dengan percaya diri. Karena kompetisi itu butuh kesiapan dan kepercayaan diri dengan baik,” tukasnya.
Industri Kopi bukan Hanya Kafe
Industri kopi ternyata tidak hanya yang ada di kafe, barista dan industri hilir lainnya. Dikatakan Mikael, barista memang cara mudah untuk memulai karier di industri kopi. Namun, barista tanpa kedai kopi, keterampilan itu juga tidak bisa digunakan.
“Kalau saya dulu, dari barista pingin punya bisnis, dengan menggandeng pihak lain yang memberikan kesempatan kita untuk berkembang. Saya dulu tukar skill dengan saham di sebuah kafe. Saya kelola, ketika sudah berhasil, saya membeli sebagian dari saham kedai itu,” tukasnya.
Namun, jika kesempatan itu tidak ada, dan modal juga tidak tersedia, maka tidak hanya bisa di industri hilir. Bisa juga mengembangkan diri di industri hulu.
“Karena industri kopi di hilir masih butuh mereka yang bekerja di hulu yang memastikan ketersediaan biji kopi. Jadi banyak pendapatan yang berkelanjutan dari industri ini,” jelasnya.
Deputi Bank Indonesia Jawa Timur, Yono Haryono mengatakan Java Coffee and Flavour Festival 2026 dihadirkan Bank Indonesia untuk memberikan kesempatan bagi pelaku usaha kopi untuk mengembangkan diri.
Ajang ini juga sebagai upaya agar kopi lokal bisa lebih dikenal di pasar lokal dan mancanegara.
“Karena potensi ekspor kopi itu sangat besar. Kalau bisa ekspor, bisa meningkatkan perdagangan global, memperkuat nilai tukar, menaikkan pertumbuhan ekonomi dan banyak lagi lainnya,” jelasnya.
“Kenapa kami gelar acara JCFF di Surabaya, karena Jawa Timur penghasil kopi terbesar di Pulau Jawa di atas Jawa Tengah dan Jawa Barat,” tukasnya.
Java Coffee and Flavors Festival 2026 digelar hingga Minggu (19/7/2026) dengan banyak kegiatan menarik selain pameran produk kopi dari berbagai daerah. lis
lis




































