“Ketika Indonesia menghadapi tantangan disintegrasi, radikalisme, dan erosi identitas, keberadaan JATMAN menjadi sangat strategis.”
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

PERNYATAAN Wakil Menteri Pertahanan RI, M. Herindra, dalam forum pelantikan pengurus Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN), yang menegaskan pentingnya peran tarekat dalam menjaga pertahanan negara melalui pendekatan non-militer, bukanlah sekadar basa-basi seremonial.

Ini adalah pengakuan implisit atas sebuah kebenaran sejarah yang nyaris dilupakan dalam doktrin pertahanan modern: bahwa ruhaniyah kolektif, jika diorganisir dalam jaringan yang sehat dan moderat, mampu menjadi fondasi kuat bagi ketahanan bangsa.

Sebagai penulis Jejak Ruhani di Panggung Kekuasaan: Sufisme Politik dari Samarkand ke Nusantara, saya melihat bahwa pernyataan ini justru menghidupkan kembali satu narasi penting yang tenggelam dalam euforia militerisme dan rasionalisme sekuler: politik ruhani sebagai bentuk pertahanan kultural.

Dalam sejarah Islam klasik maupun Nusantara, peran tarekat, khususnya tarekat dengan sanad samudera seperti Naqsyabandiyah, Qadiriyah, dan Syattariyah, bukan hanya sebagai pemandu spiritual, tetapi juga sebagai pemersatu umat, penggerak sosial, dan penyeimbang kekuasaan.

Sejak era Bahauddin Naqsyaband di Bukhara, Syaikh Syamsuddin al-Wali di Aceh, hingga para sultan tarekat di Gowa, Ternate, Mataram dan Madura, sufisme telah berperan sebagai kekuatan politik yang lembut namun menentukan. Ia tidak menjatuhkan rezim, tetapi mengarahkan nuraninya. Ia tidak menggulingkan negara, tetapi menghidupkan jiwanya.

Kini, ketika Indonesia menghadapi tantangan disintegrasi, radikalisme, dan erosi identitas, keberadaan organisasi seperti JATMAN menjadi sangat strategis. Bukan karena militansinya, tapi justru karena tasamuh-nya. Bukan karena kekerasannya, tapi karena kasih sayangnya. Di tengah keringnya narasi pertahanan yang hanya berkutat pada senjata dan alutsista, tarekat menawarkan narasi pertahanan jiwa, perlindungan terhadap nilai, tradisi, dan akar ruhani bangsa.

Wamenhan menyebut bahwa tarekat adalah bagian dari ketahanan non-militer. Pernyataan itu, bila ditafsir secara sufistik, adalah pengakuan bahwa “pertahanan dimulai dari dalam.” Karena kehancuran negara seringkali bukan karena lemahnya senjata, tetapi karena rapuhnya jiwa kolektif. Dari sinilah peran tarekat menjadi relevan: ia mendidik manusia untuk sadar, sabar, dan istiqamah, tiga pilar yang jarang diajarkan di akademi militer, namun vital dalam menjaga keutuhan bangsa.

Sudah saatnya negara tidak hanya mengandalkan aparat dan senjata, tetapi juga menghargai peran spiritual elite yang selama ini diam bekerja dalam senyap. Para mursyid, para mursalah, dan para salik sejati adalah benteng tak kasat mata yang menjaga negeri ini dari kehancuran batin. Seperti dikatakan Syaikh Ahmad Sirhindi, “Negeri yang dipenuhi dzikir adalah negeri yang tidak mudah ditaklukkan.”

Jika negara ingin kuat, maka ia harus menata bukan hanya pertahanan luar, tetapi juga pertahanan dalam. Dan JATMAN, sebagai representasi dari warisan tarekat yang berakar dalam sejarah Islam Nusantara, adalah salah satu kunci yang tak boleh diabaikan.

Dalam momentum pelantikan pengurus baru JATMAN, tampak jelas kedekatan dan harmoni yang terjalin antara Mudir ‘Aly Idarah ‘Aliyah JATMAN, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, dengan negara, khususnya Kementerian Pertahanan RI. Hubungan ini bukan sekadar formalitas kelembagaan, melainkan pertemuan dua arah antara nidzam dzahir dan nidzam batin bangsa Indonesia: satu menjaga perbatasan dengan senjata, satu menjaga peradaban dengan cahaya.

Harapan besar kini bergantung pada kembalinya JATMAN ke khittah-nya sebagai ruh dan cahaya hati nurani bangsa dan negara. Maka, bersinarnya ruhaniyah JATMAN di bawah kepemimpinan yang arif dan didukung oleh negara adalah isyarat bahwa politik ruhani belum mati, ia hanya menunggu momentum untuk kembali menjadi cahaya dan ruhani bangsa dan negara.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry