
SURABAYA | duta.co – Sebanyak 187 Pelaku Usaha Distribusi (PUD) Regional 3A — dulu disebut distributor — pupuk bersubsidi di Jawa Timur, menandatangani SPJB (Surat Perjanjian Jual Beli) di Kantor Perwakilan PT Pupuk Indonesia (Persero) Jatim, Jl Genteng Kali, Surabaya, Jumat (25/7/25). Selain itu, mereka juga teken Pakta Integrtitas, sebuah ikrar untuk mensukseskan penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani.
“Alhamdulillah, Jawa Timur selalu ranking 1. Target dan capaian nasional (Juli 2025) distribusi pupuk bersubsidi rata-rata 44,46%. Tapi Jawa Timur, data terbaru sudah 48%. Bahkan ada satu PUD yang sudah menyerap 82%,” demikian disampaikan Saroyo Utomo Winarno, SM Regional 3A PT Pupuk Indonesia (Persero) di depan ratusan pelaku usaha distribusi Jawa Timur.
Meski PUD Jawa Timur selalu di depan secara nasional, tetapi, diakui Saroyo masih ada satu PUD yang jalannya lemot, cuma mampu menyerap 10%. “Untuk yang masih berada di bawah standar, kita harus tunggui. Terima kasih atas kerja keras petugas PI (PT Pupuk Indonesia red) yang harus membawa obat nyamuk, ganti baju, di tempat PUD tersebut. Karena kinerja Anda adalah kinerja Kami (PI red),” tegas Saroyo.
Menurut Saroyo, Jawa Timur adalah kawah candradimuka (tempat penggemblengan red) dengan dinamikanya yang tinggi. Jika kita mau bekerja keras, InsyaAllah semua terlewati dengan baik. Ia kemudian mengisahkan semangat kinerja AE (account executive) Pupuk Bersubsidi, petugas lapangan dari PT Pupuk Indonesia (Persero) yang terus memantau dan memastikan penyaluran pupuk bersubsidi dari distributor dan kios, agar semua sesuai peruntukannya.
“Bulan April kemarin masih ada 10 ton (volume) barang yang terkoreksi. Bulan Mei (2025), sudah turun menjadi 3 ton. Dan bulan Juli ini, harapan kami bisa zero alias kosong. Sanggup para PUD?,” tanya Saroyo disambut serempak dengan kata ‘sanggup’ dari 187 PUD yang hadir.
Saroyo juga menjelaskan soal amanah yang diberikan kepada PPTS (Penerima Pada Titik Serah). Mereka adalah para Kios, Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), Pokdakan (Kelompok Pembudi Daya Ikan) dan Koperasi Desa Merah Putih. Sekarang ini, ada sekitar 80 yang mundur dengan berbagai alasan. Dipersilakan yang ingin mengisi kekosongan, termasuk Koperasi Desa Merah Putih.
Kawal Ketat 7T
Ketua Umum Asosiasi Distributor Pupuk Indonesia (ADPI) Agung Wahyudi, mengapresiasi kinerja PUD Pupuk Bersubsidi Jawa Timur yang selalu berada di urutan pertama secara nasional. “Harapan kami, terbitnya Peraturan Presiden No. 6 Tahun 2025, lalu Permentan No. 15 Tahun 2025 membuat tata kelola pupuk bersubsidi, menjadi lebih baik,” tegas Agung di Jakarta.
Perpres No. 6 Tahun 2025 dan Permentan No. 15 Tahun 2025 tentang peraturan pelaksana, terdapat paradigma baru dalam sasaran tata kelola pupuk bersubsidi. Sebelumnya, sasaran tata kelola pupuk bersubsidi untuk memastikan pengadaaan dan penyaluran pupuk bersubsidi memenuhi 6 T (tepat jenis, tepat jumlah, tepat harga, tepat tempat, tepat waktu). “Sekarang ditambah tepat pengadaan, penyaluran dan penerimanya,” katanya.
Jadi? “Kita harus kawal barang subsidi ini sampai tujuan, titik serah. Kita harus kawal ketat 7T demi swasembada pangan nasional dan demi kemakmuran petani kita. Apalagi program pupuk bersubsidi tidak hanya untuk usaha pertanian, tapi juga perikanan,” tegasnya.
Sementara, Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa provinsi ini menjadi daerah kontributor padi tertinggi tingkat nasional, yang salah satu produksinya disuplai dari Kabupaten Ngawi. “Salah satunya di Ngawi ini yang dari tahun ke tahun selalu produktivitas padinya tertinggi se-Indonesia,” ujar Gubernur Khofifah dalam keterangan yang diterima di Ngawi, Sabtu.
Khofifah melaporkan total persediaan beras Bulog di Kanwil Jatim sampai dengan 23 Mei 2025, mencapai 868.208 ton atau 22,45 persen dari total stok yang merupakan kontribusi terbesar di tingkat nasional.
Menurut dia, pertumbuhan sektor pertanian Jatim sangat signifikan terhadap PDRB maupun terhadap PDB secara nasional. Ngawi merupakan daerah dengan produktivitas tertinggi secara nasional.
Oleh sebab itu Khofifah menilai suplai air, bibit, pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi hal yang sangat penting. Apresiasi pun ia berikan karena Ngawi berhasil memanfaatkan secara maksimal penggunaan pupuk organik dalam penerapan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB).
Tak hanya itu, faktor-faktor pendukung tersebut juga akan berpengaruh terhadap percepatan masa tanam yang sangat tinggi seperti di Ngawi saat ini. Termasuk ketika ada dukungan alsintan berupa combine harvester, yang bisa membuat produktivitas meningkat karena mampu mengurangi kerugian.
Khofifah meminta supaya semua pihak turut serta menjaga kondisi pertanian Jatim saat ini. Termasuk peran serta Gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan seluruh yang ada di dalam ekosistem pertanian di Jawa Timur maupun secara umum di seluruh Indonesia.
Dalam kunjungannya di Ngawi mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman baru-baru ini, Gubernur Khofifah melaporkan produksi padi Jawa Timur telah dilakukan proses serap oleh Bulog Kanwil Jawa Timur.
Pada Februari-Mei 2025, target serap Bulog Kanwil Jatim sebesar 585.581 ton setara beras dan sampai tanggal 22 Mei 2025 telah terserap sebesar 478.757 ribu ton setara beras atau 81,76 persen. Termasuk beras produksi dari wilayah Kabupaten Ngawi yang meningkat tiap tahun.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi mencatat produksi padi di wilayah Ngawi di tahun 2024 meningkat dari tahun 2023 sebesar 771 ribu ton menjadi 778 ribu ton gabah kering giling (GKG). (mky)





































